Notebook: De Veha

Writing is my passion..my love!


Thursday, June 23, 2011

Buku 3 - Antologi "Balita Hebat"


Alhamdulillah...

Bulan lalu (Mei 2011) baru saja melahirkan buku ke-2. Kemudian saya melahirkan lagi buku ke-3 (antologi kedua), antologi kasih "Balita Hebat" bersama penulis senior Pipiet Senja, dkk!


Buku ini berisi kisah seputar balita yang mengharu-biru.
Penerbit: Jendela (Zikrul Hakim), Juni 2011.
Tulisan saya di nomor 12, berjudul "Balita Multibahasa".. :)

Komposisi Isi
Bab Satu: Kisah Inspirasi
1.Amanah Cinta (Diannafi)
2.Janji Seorang Balita (Pipiet Senja)
3.Anakku Hidup dan Matiku (Nenden Salwa)
4.Berkat Kisah Teladan (Nashita Zayn)
5.Calon Penghuni Surga (Eric Shandy)
6.Ivon Jagoan (Endang Ssn)
7.Pemberani Penuh Empati (Jazimah al-Muhyi)
8.Doa Fikri Kecil (Yooke Tjuparmah)
9.Pengamat Label Halal (Yudith Fabiola)
10.Peri Kecilku (Ayesha Darmawan)
11.Aku Ingin Lancar Bicara (Tantri Pranashita)
12.Balita Multibahasa (De Veha)
13.Merasa Tidak Diperhatikan (Trimanto)
14.Bintang Kecil Sendiri (Lintang Kinanti)
15.Ada Malaikat Penjaga (Dila Saktika)
16.Aku Gemar Membaca (Dewi Muliyawan)
17.Si Kecil Menjadi Guru (Ika Maya Susanti)
18.Rekan Bunda di Rumah (Ratna Dwi Kumala)
19.Dongeng Untuk Adik (Retno Winar
20.Diary With My Daughters: I Love Card & Apologize (Tias Tatanka)
21.Nyanyian Huzai (Muthiah Al Hasany)
22.Ambilkan Selimut Kakak (Leyla Imtichanah)

Bab Dua: Kiat-Kiat Merawat Balita
1.Tip Pijat Bayi (Noviana Wahyu Widayanti)
2.Makanan Bunda Sehat dan Bergizi (Noviana Wahyu Widayanti)
3.9 Kesalahan Dalam Merawat Balita (Sumer Detikhealt)
4.10 Penyakit Balita (Sumber Detikhealth)


Ini cerita saya tentang menghadapi polah tingkah Renzo:

BALITA MULTIBAHASA

Saya bahagia ketika pertama kali mendengar suara tangis kencangnya dan kemudian memeluknya dalam dekapan dada. Air mata haru pun tak dapat ditahan. Melahirkan pangeran kecil saya, Renzo, merupakan pengalaman yang sungguh luar biasa.

Tahun Pertama
​Setelah menikah, saya ikut suami untuk menetap di ibukota Australia, Canberra. Ketika saya sampai di Canberra, saya telah dinyatakan hamil oleh dokter. Sembilan bulan mengandung sangatlah menakjubkan. Sampai pada kelahiran pangeran kecil kami. Bahagia, tentu saja. Perjalanan dan pengalaman kami pun bertambah dengan adanya si kecil.
​Tiga bulan pertama setelah kelahiran Renzo, saya masih banyak memiliki waktu luang. Saya tidak terlalu kerepotan dalam mengurus Renzo, sebab saya dibantu oleh Mama yang sengaja datang dari Jakarta. Namun, setelah tiga bulan berlalu dan mama harus kembali ke Jakarta. Saya harus mengurus Renzo sendiri sehari-harinya, disamping suami yang bekerja.
​Tak lama Mama berangkat kembali ke Jakarta, saya dikejutkan dengan kepandaian Renzo diusianya yang baru tiga bulan. Ia sudah dapat tengkurap sendiri. Makin bertambah bulan, Ia pandai merangkak, mengeluarkan suara dan bunyi-bunyian. Gigi pertamanya pun tumbuh dan disusul satu demi satu gigi lainnya. Yang paling mengharukan untuk saya adalah ketika dirinya pertama kali mengucapkan sebuah kata, yaitu “Mama”. Semua kepandaian dan grafik pertumbuhannya ini selalu saya amati dan catat sebagai hari penting untuk diingat. Nyaris belum pernah saya lewati masa pertumbuhannya sebab saya sendiri yang mengurus Renzo sehari-harinya. Tidak heran saya mengetahui dan menyaksikan benar polah tingkahnya.
​Namun, disaat saya senang melihat pertama kalinya Renzo melangkah. Tiba-tiba saja saya terkena chicken pox alias cacar air. Sungguh saya sangat kesal mendengar pernyataan dokter. Saya diharuskan tidak dekat-dekat dengan Renzo untuk sementara dalam beberapa minggu. Oh! Rasanya saya mau marah!
​Sepulang dari dokter, saya tertegun melihat Renzo yang terus memanggil-manggil saya “ndaaa..ndaa..”. Tetapi apa daya saya tak dapat dekat dengannya, memeluknya, bahkan menciumnya. Saya tambah sedih ketika melihatnya nangis karena tak dapat tidur dengan saya. Saya dan Renzo hanya berkomunikasi melalui pintu kamar atau bahkan jendela balkon.
Selama saya terkena cacar air, Renzo semakin susah untuk tidur terutama malam hari. Sampai ibu mertua dan suami yang bergantian cuti kerja, kewalahan menghadapi tingkahnya. Namun yang lebih menyedihkan lagi, saya melewati masa-masa Renzo belajar berjalan. Jujur, saya menangis selama masa karantina itu. Sebab saya sudah tidak tahan lagi untuk segera memeluknya dan menimangnya kembali. Sepuluh hari terlalu lama bagi saya dan Renzo. Maka keesokan harinya saya dan suami memutuskan agar saya dapat dekat lagi dengan Renzo. Dokter pun setuju sebab beliau berkata bahwa Renzo mungkin sudah terekspos. Ada kemungkinan Renzo tertular. Benar, tiga hari kemudian Renzo terkena cacar air juga.

Terrible Two

​Semakin bertambah usianya, semakin meningkat ujian yang saya hadapi sebagai orang tuanya. Terutama saya yang paling banyak berinteraksi dengan Renzo di rumah dan menghadapi ulah serangan “terrible two”.
​Awalnya saya bertanya pada diri sendiri apakah mampu mengurus anak sendiri, ketika suami bekerja. Jujur, memang sulit. Tetapi ketika keihklasan dan cinta sebagai orang tua dalam mengurus dan mendidik anak menjadi andil utama, maka saya yakin akan lebih mudah.
​Tak dipungkiri kadang sekali-sekali saya berkhayal memiliki pembantu rumah tangga seperti sebelum menikah. Semua tinggal perintah. Semua dilayani. Nikmatnya! Apalagi kalau sudah menikah, lebih nikmat lagi. Masakan sudah tersedia, anak-anak ada yang menjaga, rumah rapi setiap hari. Tetapi, jangan dikira bisa saya terapkan disini. Disamping mempekerjakan pegawai biayanya sangat mahal, Australia adalah negara yang mandiri. Alhamdulillah, kebiasaan gaya hidup sendiri. Dimulai dari belanja mingguan, mengurus anak dan suami sampai pekerjaan saya sebagai penulis.
​Capek. Sudah pasti. Apalagi ditambah dengan menghadapi tingkah laku Renzo di usia dua tahun. Ia mulai tak mendengarkan perintah. Sesekali Ia juga mulai merengek kalau saya tolak keinginannya. Kesabaran saya semakin diuji. Teriakan marah pun sering keluar dari mulut saya.
​Kalau saya tak dapat menahan kesabaran, paling saya hanya mengomel saja. Tak ada sedikit pun di pikiran untuk melukai fisiknya. Namun pernah suatu ketika, saya sedang pusing dan letih sekali. Setelah memasak dan kemudian menyuapinya, dengan sengaja Ia menumpahkan piring beserta isinya. Spontan saya marah dan langsung memukul tangannya cukup keras. Memerah! Ia menangis sembari berkata “sorry bunda” dengan memelas. Spontan saya ucap “astagfirullahaladziim” dan segera memeluk serta meminta maaf pada Renzo. Saya pun ikut menangis. Ini kejadian yang paling saya sesali dan berjanji tak akan pernah lagi saya melukai fisiknya, apalagi hatinya. Sejak itu, jika Renzo melakukan kesalahan. Hukuman yang berhasil saya terapkan padanya adalah “time out”, dengan mengurungnya di kamar selama paling lama tiga menit. Satu-satunya hukuman paling ampuh tanpa menyakiti hati dan fisiknya.

Anak Multibahasa​
​Memasuki usia ke tiga, Renzo tumbuh menjadi anak yang cerdas. Ia tidak lagi bertingkah mengesalkan. Ia lebih bijak dan cukup bisa diberitahu apa yang benar dan salah. Renzo juga sudah lancar berbicara, mengingat Ia pandai berbicara saat usia satu setengah tahun.
​Mendidik anak multibahasa seperti Renzo tidak mudah. Sebagai orang tuanya yang berlatar belakang budaya Indonesia yang kental. Pasti saya dan suami menginginkan dirinya untuk tetap pandai berbicara bahasa Indonesia walaupun menetap di negeri asing. Mengapa demikian? Sebab saya menyayangkan anak-anak yang lahir dari peranakan Indonesia atau pernikahan campur, tidak mengenal bahasa ibu, bahasa Indonesia. Pada umumnya mereka lebih lancar berbahasa Inggris. Bahkan yang lebih disayangkan lagi, kadang diantara anak-anak mereka malu dan takut kalau diajak berbicara dengan bahasa Indonesia. Alhamdulillah, Renzo masih fasih berbahasa Indonesia hingga kini.
Saya dan suami menerapkan dua bahasa di rumah, Inggris dan Indonesia. Kami berdua pernah mencoba untuk menggunakan dua bahasa ketika berbicara pada Renzo. Hasilnya, Renzo menjadi kebingungan dan lebih banyak menggunakan satu kalimat dalam dua bahasa. Misalnya, Ia berkata “Renzo mau main ball”. Sehingga menurut kami, Ia belum mampu berbicara dengan bahasa yang baik dan benar.
Pada akhirnya, saya dan suami sepakat untuk memilih mana bahasa yang kami gunakan ketika berbicara pada Renzo. Suami menggunakan bahasa Inggris saja, dan saya menggunakan bahasa Indonesia saja. Ternyata penerapan ini lebih berhasil ketimbang sebelumnya.
Semakin bertambah usia,  Renzo sudah cukup mampu menggunakan kedua bahasa tersebut dengan baik dan benar. Ia sudah bisa berbicara dengan menggunakan kalimat dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia dengan penuh. Bahkan kalau saya perhatikan ketika dirinya bermain bersama teman-teman sebayanya yang menggunakan bahasa Inggris sehari-hari, Renzo sudah bisa mengimbangi dengan ikut berbicara menggunakan bahasa Inggris. Begitu pula ketika diajak berbicara dengan bahasa Indonesia.
Penerapan lainnya kami lakukan dengan memasukkannya ke dalam lingkungan playgroup yang berbahasa bilingual (Inggris-Indonesia). Dengan demikian, sebagai anak multibahasa Renzo mampu berbicara dua bahasa dengan baik dan benar.
​Kadang pun gemas sekali ketika tiba-tiba dirinya berkata dalam bahasa Inggris, tanpa pernah kami ajarkan. Mungkin Ia dapat dari tontonan channel favoritnya, ABC Kids. Seperti dalam dialog saya dengannya berikut ini:
Renzo: "bunda masak apa sih?"
Bunda: "bunda masak sup"
Renzo: "pake chicken?"
Bunda: "iya, pake chicken. Trus ada fish tofu juga.."
Renzo: "trus apalagi?"
Bunda: "pake kentang"
Renzo: "trus?"
Bunda: "buncis, wortel, daun bawang.."
Tiba-tiba dengan riang dia langsung berkata, "Wow, awesome!" Langsung saya tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat “wow, awesome!”

***
​Benar kata Mama saya, mengurus anak itu susah-susah gampang. Sebagai orang tua kita harus lebih bijak dan kreatif menghadapi tingkah laku anak. Kesal, lelah, marah, kan terhapus dengan cinta yang besar untuk Renzo. Cinta bunda yang diabadikan dalam bentuk puisi berikut ini:
Bunda masih ingat saat dirimu masih dalam tubuhku
Irama gerakan, tendangan kuat, dan sikutannya membuat perutku berubah-ubah bentuk hingga menggelitik kegelian.
Aneh, namun sempurna..Subhanallah!

***
1 Syawal 1428H [Sabtu, 13 Oktober 2007], pukul 17:35 waktu Canberra-Australia
Catatan sejarah yang tak pernah ku lupa
Selamat datang cinta!
Kuberi nama dia, Muhammad Renzo Abrar
Dunia terasa begitu indah, saat dirinya hadir menyambut Syawal dengan takbir..
17 jam perjuangan Bunda yang melelahkan dan sakit luar biasa, seakan terhapus begitu saja..
Allahuakbar..allahuakbar..allahuakbar!
Renzo sayangku..
Tak terasa kini tiga tahun sudah usiamu
Semakin bertambah kepandaian dan polah tingkahmu
Dimulai dari pertama kali kau ucap kata “nda..” untuk memanggilku
Atau ketika kau mulai berteriak kencang, hanya karena keinginanmu kuabaikan
Kadang kau buatku senang hingga menangis haru, bahkan kadang buatku kesal hingga menangis sendu
Tetapi Nak, tak pernah berubah cinta dan sayang Bunda..
Renzo sayang..
Kau masih ingin kutimang, apalagi saat dirimu berkata “Bunda, nenong..”
Kau masih ingin tidur hanya ditemani olehku, bahkan kau meminta agar kita berpegangan tangan erat sampai kau tak sadarkan diri tertidur pulas
Tak apa begitu sayang, tak penting usiamu karena kau bayiku

Ayah dan Bunda bersyukur kau tumbuh sehat, lincah dan kuat
Semoga di hari-hari mendatang kan menjadi berkah bagimu
Ayah dan Bunda kan terus berikan doa di setiap hembusan nafas
Berharap dengan izin-Nya, kau kan jadi pengikut Nabi Muhammad SAW yang berkepribadian kuat dan mandiri, sesuai namamu
Kau kan jadi lelaki sholeh yang mencintai dan menyebut nama-Nya di sepanjang waktu
​ ​
​
​