Notebook: De Veha

Writing is my passion..my love!


Monday, May 30, 2011

Calon novel yang lama terbengkalai!

Masih ku ingat saat kita menyanyikan lagu cinta
Masih ku ingat ketika kita sering bersama
Sepertinya tak pernah ku lupa semua
Namun saat dirinya berada diantara kita
Aku tidak marah, sebab kau bukan milikku
Aku tidak menangis, sebab kau terlihat bahagia
Dan masih ku ingat jelas wajahmu saat mengatakan ingin menikahinya
Cemburu, itu pasti
Luka, itu resiko

Tahun berganti
Cinta telah terbagi, begitu juga hati
Tapi selingkuh, aku tak berani!

Andai saja kau tau
Sesungguhnya cinta pernah ada
Rindu pun masih menyala


...petikan calon buku (novel) selanjutnya... :)

Sunday, May 8, 2011

Buku 2 - Antologi "Berjuanglah Bunda Tidak Sendiri"


Buku kedua saya, namun buku antologi pertama yang ditulis bareng Naqiyyah Syam, Qonita Musa, dkk. Baca cerita saya dalam bab Ruang Bersalin Satu, dengan judul TUJUHBELAS JAM PERJUANGAN.

Dapatkan segera di toko buku seluruh Indonesia!
Terbit: 11 May 2011
Penerbit: Elex Media

SINOPSIS
Melahirkan di mana saja; di desa, di kota, bahkan di luar negeri, dengan bidan atau dengan dokter spesialis, selalu mendatangkan rasa yang sama. Meski sedikit, rasa sakit itu pasti ada.
Yang kelihatan mudah pun, melahirkan dengan teknik epidural misalnya, akan membawa rasa sakit ketika menyuntikkannya pada tulang belakang walau kadarnya hanya setitik. Faktanya, dengan berbagai teknik yang dilakukan oleh paramedis atau ibu hamil itu sendiri, rasa sakit bisa diminimalisasi. Nah, Bunda bisa segera menemukan jawaban dengan membaca curhat para Bunda di buku ini.
Dalam buku ini, Bunda akan menemui beragam fakta yang akan membantu Bunda untuk sigap mengenali dan mempersiapkan kelahiran yang terbaik. Bunda bisa segera mengonsultasikan segala kekhawatiran Bunda dengan bidan atau dokter yang menangani kehamilan Bunda.
Cara melahirkan apapun yang Bunda pilih, semua istimewa! Buku ini terbagi atas empat ruang bersalin. Masing-masing ruang merepresentasikan kelahiran anak yang keberapa. Belum tentu melahirkan anak yang pertama lebih sakit daripada kelahiran anak yang kedua, dan seterusnya.
Spesial, pada kelahiran anak pertama, kami mengumpulkan banyak cerita karena pada umumnya, seorang Bunda akan mengalami kecemasan yang lebih tinggi pada kehamilannya yang pertama. Bunda bisa mengambil manfaat dari cerita-cerita yang dituliskan. Plus dilengkapi dengan tip-tip seputar melahirkan.

TUJUHBELAS JAM PERJUANGAN
    Dua minggu setelah menikah, saya langsung ditinggal sang suami ke Australia. Ia memang sudah puluhan tahun menetap di ibukota Australia, Canberra, bersama dengan kedua orang tuanya. Ia tidak bisa cuti lama karena pekerjaan dan kuliah masternya. Kami pun rela harus berpisah jarak dan waktu selama hampir 4 bulan. Selama waktu tersebut, saya sibuk melakukan persiapan pengurusan spouse visa untuk menetap disana bersamanya. Alhamdulillah, pengurusan tersebut selesai hanya sebulan saja.
    Setelah sebulan pertama, rasa rindu makin memuncak. Apalagi kami pengantin baru yang masih hangat-hangatnya. Walaupun saya berasal dari keluarga besar dan memiliki 4 saudara perempuan kandung. Sedikit rasa kesepian tak berada di samping suami tetap ada. Tidak heran, saya ingin segera memiliki keturunan.
    Saat suami datang ke Jakarta untuk menjemput, saya bahagia sekali. Beberapa hari kemudian kami berdua dan keluarga besar saya mengadakan tour de Java. Tujuan perjalanan kami ke Jogjakarta & Purwokerto, kebetulan kami ingin mengunjungi mertuanya kakak saya. Capek tapi senang. Namun yang paling berkesan adalah hasil dari perjalanan tersebut. Mengapa? Saya hamil!

Masa Kehamilan
    Hari keberangkatan diliputi dua perasaan. Senang karena saya hamil, sedih karena saya meninggalkan keluarga besar. Ini pertama kalinya saya akan jauh dari keluarga. Namun, perasaan dilema saya abaikan.
    Bulan-bulan pertama menetap di negeri orang, cukup sulit untuk saya. Perlahan saya belajar untuk beradaptasi dengan kehidupan dan kebiasaan orang Australia. Apalagi dalam keadaan hamil, pastilah emosi kadang lebih tinggi tingkatnya daripada logika. Selama hamil saya banyak marah dengan suami. Selain faktor hormon hamil, mungkin juga karena kami baru membina rumah tangga bersama. Padahal, tak selamanya suami punya kesalahan. Bahkan kadang Ia hanya memberikan saran. Tetapi saat itu, saya memang amat sensitif. Untung, sang suami mengerti keadaan emosi saya. Nangis, tentu saja. Bahkan hampir setiap hari! Tangisan menjadi teman baik saya, terutama saat saya merasa kesepian di rumah. Sendirian!
    Cukup berat bagi saya menghadapi hari demi hari. Suami kerja dan saya belum memiliki teman. Ayah dan Ibu mertua pun bekerja. Namun saya tak mau menjadi bulan-bulanan dalam kesedihan dan terlena dengan tangisan. Saya tak boleh menyerah, apalagi bersedih. Seperti salah satu judul buku favorit saya, La Tahzan! Obatnya selain shalat, saya telepon Mama ke Jakarta. Dalam sehari bisa lima kali.
    Saya bersyukur kehamilan saya sehat. Saya alami mual-mual dan muntah pun pada saat trisemester pertama saja. Sebagaimana wanita hamil lainnya. Di Australia, USG dilakukan hanya dua kali sekitar minggu ke-12 dan minggu ke-20 untuk kehamilan sehat. Pada usia kandungan minggu ke-20, kami mengecek jenis kelamin janin. Saat alat USG menari-nari di atas perut saya, janin yang berada dalam kandungan menendang-nendang dan terdengar jelas nada detak jantungnya. Air mata kami berdua pun tak sengaja keluar karena terharu. Tak lama kemudian, Midwife (suster) memberitahu dan memperlihatkan layar monitor USG bahwa anak kami berjenis kelamin laki-laki. Alhamdulillah!   
    Ngidam? Pasti. Sepertinya semua makanan Indonesia saya idam-idamkan selama hamil. Yang menjadi kendala, kalau hasrat ngidamnya terlalu spesifik dan tidak kesampaian. Misalnya, saya ngidam nasi bungkus Padang ala restoran Sederhana, atau mie ayam Menteng, atau makanan khas Palembang tekwan buatan Mama. Waduh! Walaupun langka menemukan jajanan masakan Indonesia, untungnya saya masih bisa mengatasi ngidam tersebut.

Sehari Sebelum Melahirkan
    Berkomunikasi dengan janin dalam kandungan, selalu saya lakukan. Bahkan ketika saya memintanya sabar menunggu datuk dan neneknya datang dahulu dari Jakarta. Dan benar, Ia pun belum mau keluar dari perut saya.
Bahagia. Papa dan Mama akhirnya bisa datang untuk berkunjung dan ikut menemani saya melahirkan nanti. Seminggu Papa dan Mama di Canberra, sang janin masih betah dalam kandungan. Tanda-tanda kontraksi palsu juga belum ada. Padahal lusa adalah due date-nya, tepat dimana seluruh orang muslim merayakan hari kemenangan. Ya, saya diperkirakan akan melahirkan pada saat hari raya Idul Fitri.
    Keesokan harinya, 12 Oktober, kebetulan suami sudah mengambil cuti kerja. Kami berdua mengajak Papa dan Mama jalan-jalan untuk melihat keindahan festival bunga Floriade. Festival ini berlangsung saat musim semi setiap tahun, sekitar bulan September – Oktober. Tidak afdol rasanya kalau belum mengajak Papa dan Mama ke Floriade. Saya takut tidak sempat, apalagi bila setelah melahirkan nanti. Maka saya pun memaksa untuk menemani Papa dan Mama. Dengan berjalan membawa perut besar dalam keadaan hamil tua, saya semangat sekali untuk berjalan kaki. Katanya toh, banyak yang bilang kalau jalan kaki sehat untuk ibu hamil terutama agar persalinannya lancar.
    Tiga jam berkeliling dengan berjalan kaki dan mengitari ribuan meter luasnya, keletihan tak saya rasakan. Bahkan saya masih asyik berfoto ria dengan Papa dan Mama seraya memamerkan perut besar. Kami pun beranjak pulang ketika matahari sudah enggan untuk menampakkan dirinya.
    Sampai dirumah, saya langsung merebahkan diri di kasur sebentar. Pegalnya kaki mulai terasa sampai ke pinggang.  Sesekali Mama memijit-mijit kaki sembari bolak-balik ke dapur melihat masakannya. Malam itu beliau sedang memasak opor ayam untuk lebaran esok hari. Kalau di Jakarta, malam takbiran seperti ini mungkin sudah ramai sekali dengan irama bedug dan kumandang takbir. Tapi kalau di Australia, kami cukup mendengarkan hanya dari radio Ramadhan Australia. Kemudian, saya lanjutkan dengan menyetrika baju dan mukenah yang akan dipakai untuk shalat Ied. Saya juga masih sempat beres-beres rumah bersama suami.
    Pukul 10 malam, saya menelepon kakak-kakak dan adik-adik di Jakarta. Saat itu, keluarga besar Mama sedang berkumpul bersama. Setengah jam ditelepon dipenuhi dengan obrolan dan tawa harus saya hentikan karena saya kebelet untuk buang air kecil.
    Tiba-tiba saya melihat noda berwarna merah. Saya sama sekali tidak panik karena seperti yang sudah dijelaskan pada waktu mengikuti kelas hamil, bahwa flek tersebut merupakan tanda akan melahirkan. Saya memberitahu suami dan Mama. Mama berkata, “Sebentar lagi tuh, Ti.” Lalu saya kembali merebahkan diri. Kontraksi masih belum ada.
    Sejam kemudian, saya buang air kecil lagi. Kali ini spontan saya teriak memanggil-manggil suami dan Mama. Papa pun ikut terkejut dan berlari ke arah kamar mandi. Mereka bertiga bertanya bersaut-sautan, “kenapa?...kenapa?”. Bukan lagi flek merah yang terlihat, tetapi darah merah segar. Saya merasakan darah itu perlahan mengalir sedikit demi sedikit. Saya sangat panik sebab ada rasa takut kalau pendarahan yang terjadi.
    Suami segera menelepon rumah sakit dan menceritakan keadaan saya. Saya berusaha untuk menenangkan diri dengan tidur. Tetapi tetap saja tidak bisa. Sejam kemudian, perut keram mulai saya rasakan. Apakah ini yang dinamakan kontraksi? Kelamaan perut semakin mules. Saya menghitung sekitar dua puluh menit sekali interval-nya. Dalam dua jam, menjadi lima menit sekali. Mama sempat membuatkan minuman tradisional orang dulu, berupa campuran madu dan telur untuk saya minum.
    Saya semakin ketakutan karena pendarahan itu semakin banyak. Suami pun kelihatan kebingungan karena ini pertama kalinya dia menghadapi orang yang akan melahirkan. Akhirnya midwife menyarankan agar kami segera kerumah sakit. Saya ditemani oleh Mama dan suami, sedangkan Papa menunggu dirumah.

Detik-detik Perjuangan Melahirkan
    Tepat pukul dua pagi, tidak sampai sepuluh menit kami sampai di gedung bagian maternity rumah sakit. Empat ruang bersalin kosong semua. Senangnya saya dapat ruang bersalin VIP dengan kamar mandi di dalam, sehingga lebih memberikan saya kenyamanan dan privasi.
    Baru merebahkan badan di atas kasur, dua Midwife yang jaga malam itu memasangkan alat-alat ke bagian perut dan seputar pinggang. Alat-alat tersebut termasuk alat deteksi jantung si janin dan diagram kontraksi. Lalu, midwife memriksa bagian dalam dan ternyata saya baru bukaan satu. Prosesnya masih lama. Tetapi midwife tidak menyuruh saya pulang karena masih bukaan satu. Mungkin kalau di Jakarta, saya sudah diharuskan pulang dulu.
    Sesekali saya masih bisa tertawa mendengar candaan suami yang mencoba menghindari kepanikannya. Namun kelamaan saya rasakan mules di perut semakin sering dan teratur. Saya coba menahan dengan mengatur nafas dan menyebut asma Allah SWT.
    Azan subuh tiba-tiba berkumandang dari handphone saya. Mama segera menjalankan shalat dan kemudian bergantian dengan suami. Saya masih sibuk konsentrasi menghadapi kontraksi. Namun, saya sedikit terganggu dengan suara diluar kamar. Sepertinya ada beberapa wanita lain yang baru datang dan akan melahirkan. Ternyata benar, suami bertanya ke midwife ruangan yang lainnya sudah penuh.
    Saya sadar, saat saya terbaring di delivery room ini adalah hari raya Idul Fitri. Sempat saya menitikkan air mata dan berdoa dalam hati memohon pada-Nya kemudahan untuk melahirkan anak pertama saya.
    Setelah subuh, Ibu dan Bapak mertua datang berkunjung melihat keadaan saya. Mereka sudah rapi dengan membawa perlengkapan shalat Ied di KBRI Canberra. Suami, Papa dan Mama pun tak jadi berangkat untuk shalat Ied. Mereka tetap menunggu saya di kamar bersalin.
    Dua jam kemudian, dokter kandungan datang. Dr. Rebecca memeriksa bagian dalam lagi. Duh! Ini yang paling saya tidak suka kalau diperiksa bagian dalam. Rasanya seluruh urat dan otot di tubuh tegang semua. Sakit! Dr. Rebecca mengatakan kalau saya sudah bukaan empat. Sebentar lagi, pikir saya.
    Lalu, air ketuban saya dipecahkan. Dr. Rebecca dibantu oleh midwife membersihkan kotoran yang keluar beserta air ketuban tersebut. Alhamdulillah saya masih bisa menahan kontraksi yang sakit luar biasa. Nauudzubillah.. Saya pun tak berteriak-teriak menahan sakit seperti para wanita dikamar lainnya. Dengan jelas saya dengar mereka berteriak-teriak, bahkan berkata yang tak seharusnya patut didengar. Sampai-sampai, Dr. Rebecca bertanya “Why don’t u scream? You can scream if you want to, Iti”. Saya hanya tertawa dan memohon padanya “Doc, just give me an epidural right now please!”. Sayang sekali, epidural belum bisa diberikan karena belum dibutuhkan dan belum melewati sepuluh jam masa waktu labour (persalinan). Epidural diberikan hanya jika kondisi sang ibu dan janin dalam keadaan yang amat mendesak, terutama sudah melemah.
    Ketakutan mulai makin mendatangi saya. Sakit yang luar biasa tersebut membuat saya teringat dosa pada orang tua, terutama pada Mama. Berkali-kali saya minta maaf sama Mama dengan air mata yang berlinang. Suami pun ikut menitikkan air mata. Mulut saya tak henti-henti berkomat kamit membaca doa-doa.
    Dr. Rebecca memberikan suntik hormon untuk mempercepat kontraksi. Ini disebabkan karena pembukaannya terlalu lambat. Sementara saya dan janin yang berada dalam kandungan sudah keletihan. Namun suntikan itu tidak berpengaruh.
    Sekitar pukul 1 siang, Dr. Rebecca datang beserta seniornya, Dr. Armellin. Beliau berdua mendiskusikan tindakan yang terbaik untuk saya. Dilihat dari grafik, deteksi jantung janin sudah turun naik. Beliau harus segera mengambil tindakan. Dr. Armellin memberikan alternatif untuk saya. Beliau akan memberikan epidural guna menahan kontraksi. Dengan  harapan bukaan akan lebih cepat membesar hingga fully dilated. Ah, kenapa tidak dari tadi saja para dokter ini memberikan epidural untuk saya? Saya sudah tidak tahan lagi. Kalau setelah diberikan epidural bukaan belum juga memberikan kemajuan, maka tindakan selanjutnya operasi Caesar.

Epidural, please!
    Caesar?! Mendengar kata Caesar saja jantung saya mendadak terbelah dua! Semakin takut kalau saja harus dioperasi. Tetapi ketika saya memikirkan janin, anak pertama kami, maka apapun akan saya lakukan demi keselamatannya. Tetap, saya memohon pada Allah SWT agar saya bisa melahirkan secara normal. Akhirnya kami memilih untuk diberikan epidural terlebih dahulu.
    Saya sampai tak habis pikir, hebat sekali wanita yang bisa menahan sakit menjelang melahirkan. Mama dan ibu mertua salah satunya termasuk wanita yang hebat! Saya sendiri beberapa kali mengeluh sakit. Sepertinya kekuatan saya mulai menipis akibat amat sangat kelelahan. Mau mati rasanya!
    Kami menunggu dokter anastesi yang akan memberikan epidural untuk saya. Sambil menunggu, suami dan Mama memegang erat kedua tangan saya. Sedangkan Papa berdoa disudut ruangan.
    Ketika dokter anestesi beserta dua timnya datang, saya disuruh duduk membelakangi beliau. Berkali-kali saya bertanya dahulu pada dokternya, “Is it hurt? Are you sure I am gonna be okay after you put an epidural?” Dokter meyakinkan diri saya.
    Saya duduk tegak di atas kasur. Papa langsung keluar dari ruang bersalin dan Mama berdiri di dekat pintu sembari mengintip dari horden. Sedangkan suami memeluk saya. Beberapa detik kemudian, selang kecil epidural pelan-pelan masuk dalam tulang belakang saya. Alhamdulillah tidak sakit. Saya sempat menoleh ke arah Mama. Beliau pun menangis! Lalu, tubuh saya mati rasa. Pinggang sampai kaki tidak dapat saya rasakan, apalagi menggerakkannya. Saya pun tertidur pulas. Seperti yang dikatakan dokter, bahwa saya akan tidur selama 3 jam dan Dr. Rebecca akan memeriksa kembali bukaannya.

Diantara Dua Pilihan
    Tiga jam tertidur membuat tenaga saya kembali pulih. Semangat kembali meningkat. Pukul 16.30 saya diperiksa kembali oleh Dr. Rebecca. Puji bagi Allah SWT, saya memasuki tahap fully dilated! Spontan Dr. Rebecca berkata dengan riang, “I can see the baby’s hair”. Suami ikut melihat dan Ia tak dapat menahan tangis haru.
    Dr. Rebecca beserta seorang midwife akan membantu persalinan. Dikarenakan saya tak dapat merasakan kontraksi akibat epidural, maka beliau memberikan aba-aba kapan saya harus mulai nge-push. Sekali push, dua kali push, janin tidak keluar. Setelah diperiksa, ternyata posisi kepala sang bayi menghadap ke langit-langit. Sebaiknya posisi kepala menghadap ke bawah. Posisi ini bukanlah sungsang atau terlilit oleh tali pusar. Dalam istilah kedokteran disebut posisi posterior.
    Mengetahui posisinya seperti itu, saya berkata “Aduh nak, pasti ini karena bunda kebanyakan duduk leyeh-leyeh di lazy boy deh. Jadi kamu ikut-ikutan posisinya rebahan liat ke atas”. Suami tertawa mendengar saya berkomentar demikian.
    Saya tetap bersikeras tidak mau di Caesar. Saya yakin saya bisa melahirkan normal. Jauh sebelum tiba waktu melahirkan saya niat untuk melahirkan normal. Alhamdulillah para dokter disini begitu sabar. Mereka tidak langsung mengambil tindakan Caesar seenaknya. Bahkan Australia tidak menyarankan tindakan Caesar kecuali bila dalam keadaan terpaksa akibat kebutuhan medis bukan komersil. Maka lagi-lagi saya diberikan dua alternatif, antaranya melahirkan normal dibantu dengan alat forcep seperti sendok untuk memutar kepala bayi atau mengambil tindakan operasi Caesar.
    Saya dan suami memilih untuk menggunakan forcep dahulu. Ternyata, tindakan ini harus dilakukan di ruang operasi. Sehingga kalau dengan forcep tidak berhasil, maka langsung Caesar. Ya Allah! Hamba mohon kekuatan dari-Mu dan kemudahan untuk berjuang dijalan-Mu..
    Setelah semua siap, saya dipindahkan ke ruang operasi. Papa dan Mama menunggu di luar. Sedangkan suami setia menemani saya dan terus memegang tangan saya. Alat-alat dipersiapkan. Saya ditawarkan kaca untuk melihat prosesnya. Tetapi saya menolak sebab saya takut sekali! Pertama kalinya berada diruang operasi, menurut saya sangat menyeramkan. Horor!
    Kedua tangan saya mulai dipenuhi infus dan suntikan bius agar tidak terasa hingga ke dada. Setengah badan saya ditutupi kain putih agar saya tak melihat prosesnya. Dentingan alat-alat kedokteran semakin membuat suasana ruangan operasi bertambah menyeramkan. Aksipun dimulai.
    Bayangkan, kira-kita terdapat lima dokter dan tiga perawat dalam ruang operasi. Dr. Rebecca dan Dr. Armellin sebagai dokter kandungan, dokter anak, dokter anastesi, dokter bedah dan para perawat. Saya tak merasakan alat forcep tersebut masuk. Tetapi saya bisa melihat gunting yang dipegang Dr. Armellin dari sela-sela kain putih yang menutupi.
    Disini saya semakin ikhlas dan pasrah sama Allah SWT. Tiada daya dan upaya selain pertolongan-Nya. Apapun yang terjadi, maka terjadilah. Tiba saatnya Dr. Armellin memberikan aba-aba untuk mendorong. Dengan mengucap bismillah dan sekuat tenaga saya dorong. Sedikit demi sedikit mungkin kepala bayi diputar dengan forcep saat kontraksi datang. Tak pernah berhenti suami memberikan dukungannya, “Ayo sayang, push...push... sayang pasti bisa!” Dengan keyakinan dan semangat yang tinggi, Dr. Armellin memberikan aba-aba yang terakhir untuk mendorong. Saya tarik nafas dan mencoba mendorong yang lama dan panjang. Sampai pada akhirnya kami yang berada diruangan tersebut mendengar tangisan kencang sang buah hati. Lega!
    Tepat pada hari raya Idul Fitri, 1 Syawal 1428 H (13 Oktober 2007), pukul 17.35 waktu Australia, pangeran kecil kami lahir ke bumi dengan sehat dan selamat. Tangisan bahagia kami berdua keluar begitu saja. Saat paling mengharukan ketika tubuh mungilnya yang masih ada darah merah, berada dalam dekapan dada saya. Bahagia luar biasa, bahagia dunia akhirat. Subhannallah...Alhamdulillah…Allahuakbar!
    Keletihan dan kesakitan selama tujuh belas jam perjuangan melahirkannya, terbayar oleh kehadirannya. Saya merasa menang. Menang melawan ketakutan, kepanikan dan kesakitan yang menghantui. Bagi kami sekeluarga, ini merupakan puncak kebahagiaan dari semua kebahagiaan yang diberikan oleh-Nya hari itu. Anugerah terindah dalam hidup saya, suami dan keluarga besar pada saat hari lebaran, hari raya kemenangan. Dia yang Maha Penolong paling tertinggi untuk saya hingga dapat melahirkan dengan selamat.
    Saya dan suami berharap, kelak pangeran kecil kami ini memahami arti sebuah kehidupan. Kami berdoa agar pangeran kecil kami menjadi golongan Nabi Muhammad SAW yang berkepribadian kuat, mandiri dan selalu berbuat kebajikan di dunia. Sesuai dengan arti namanya yang kami berikan, Muhammad Renzo Abrar.
“Pangeranku, inilah 17 jam saat bunda berjuang melahirkanmu..”

The Hardest Year..Papa passed away!

Innalillahiwainnailaihirojiuun..
Minggu, 27 Maret 2011. Papa passed away.. :"(

Tepat sebulan kembali ke Canberra, mendadak dapat kabar duka Papa meninggal dunia. Tiga hari sebelum meninggal, Papa koma di Cinere Hospital sejak hari Jumat sore (25 Maret 2011).

Kronologis:


Jumat, 25 Maret 2011
Papa masih sempat untuk shalat Jumat. Setelah itu makan siang sama-sama dengan Mama, dilanjutkan leyeh2 di kamar tidur. Saat adzan Ashar berkumandang, beliau berdua bangun. Mama melanjutkan kegiatannya di dapur setelah shalat Ashar. Papa pun berwudhu dan siap untuk shalat Ashar. Disadarinya, Papa tiba-tiba lupa bacaan niat shalat. Papa minta Pak Rasyidin (tetangga yg selalu nemenin ngobrol dirumah sejak Papa kritis), untuk tulisin niat shalat. Berkali-kali Papa minta Pak Rasyidin untuk nulis (padahal Pak Rasyidin lagi nulis). Papa sepertinya gak sadar dan tekanan darahnya udah naik. Pak Rasyidin baru menuliskan kalimat "husholli.." Tiba-tiba Papa ngomongnya udah ngelantur kata Pak Rasyidin. Spontan pak Rasyidin panggil-panggil Mama di belakang. "Ibu..ibu..tolong bu, ini Pak Hady kenapa?!"

Mama lari dari dapur dan teriak "Pa, Papa..Papa kenapa?" Pak Rasyidin dan Mama coba untuk angkat Papa dibawa ke kamar. Tapi gak berhasil, Papa tinggi besar jadi berat. Papa lalu teriak dan nunjuk-nunjuk ke arah ruang keluarga. Papa bilang "Apa itu? Itu..itu apa..itu apa!" Entah apa yang Papa lihat, pdahal nggak ada apa-apa. Sebagian orang bilang Malaikat datang untuk menjemputnya. Waallahualam.. Papa kejang-kejang dan tak bisa ngomong lagi. Akhirnya pak Rasyidin minta tolong sama tetangga dan orang-orang yang kebetulan lewat di depan rumah. Papa pun dibawa ke dalam kamar. Mama langsung hubungi Yu' Ade (kakak) dan Gita (adek).

Yu' Ade dan Gita cerita, sampai dirumah mereka lihat Papa keadaannya sudah mengenaskan. Semua badannya reflek ke arah kiri. Seperti orang kena struk. Mulutnya, matanya, tangannya.. Astagfirullaha'ladziim.. Panik luar biasa! Mereka bertangisan. Papa pun yang gak bisa ngomong lagi, hanya menangis. Mereka berusaha untuk bawa Papa ke Hospital Cinere tempat Papa biasa dirawat. Tapi sayang, Papa gak bisa masuk mobil karena kaki Papa gak bisa ditekuk. Alhamdulillah ada ambulans dari Masjid di depan rumah yang bawa Papa.

Sampai di Hospital Cinere, dokter langsung bertindak. Awalnya hasil lab bilang, ada penyumbatan darah di otak. Ini yang membuat Papa kejang-kejang, struk dan tak sadarkan diri. Ada yang bilang, kalau sudah sampai ke otak..akan susah untuk diobati, bahkan diselamatkan! Kami sekeluarga pasrah, apapun yang terbaik kehendak-Nya untuk Papa.


Dalam sms Yu' Ade: "Ti, lo telepati sama Papa ya. Bilang kalo gak bisa pulang. Tapi udah ikhlas kalo emang Papa udah mau pergi. Kesian juga Papa, takutnya mengharapkan elo dateng. Sedih lo gak bisa pulang.."


Sabtu, 26 Maret 2011
Papa belum sadarkan diri. Papa masih berjuang dengan nafasnya sendiri. kami sekeluarga sepakat dan menandatangani surat untuk tidak menggunakan ventilator jika keadaan semakin memburuk (gagal nafas).

Tak tega melihat kondisinya yang sudah jauh melampaui garis batas kritis. Setiap diperbolehkan untuk melihat Papa di ruang ICU, ketika satu-persatu memanggil "Papa.." Papa hanya bisa mengeluarkan air mata tanpa berkata-kata. Bisa dibayangkan betapa tragisnya adegan itu! Sedangkan saya, hanya bisa mendengar cerita dari keluarga. Saya belum dapat pulang karena sulit mendapat tiket pesawat dalam keadaan mendesak, terlebih weekend.

Sabtu pagi, saya telepon ke Jakarta. Saya minta Gita untuk beritahu Papa bahwa saya menelepon. Gita pegang handphone sambil ditempelkannya di telinga Papa. Walaupun Papa sudah tak sadarkan diri sejak hari Jumat, saya yakin di bawah alam sadarnya Papa masih bisa mendengarkan suara saya di seberang. Papa yang tadinya masih kejang-kejang, mendadak berhenti dan tenang (begitu yang diceritakan oleh Gita) ketika Gita kasih tahu bahwa saya menelepon dan ingin ngomong dengan Papa.

Saat mulut ini memulai dengan kata panggilan "Pa..ini Iti". Tangis saya tak dapat ditahan lagi. Saya berhenti sejenak dalam hening dan hanya terdengar sayup-sayup hembusan nafas Papa.
"Pa, maaf ya.. Iti belum bisa pulang cepet. Pa, kalau Papa sudah tidak kuat lagi. Iti insyaAllah ikhlas jika Papa ingin kembali pada Allah seperti yang Papa pernah bilang waktu itu. Maafin Iti ya, Pa.. Iti sayang Papa"

Tak kuat lagi saya banyak berkata. Saya lanjutkan untuk ngomong dengan Gita dan Ia bertanya kapan saya bisa pulang. Saya dan suami terus berusaha mencari tiket pesawat. Tapi sayang, tak semudah yang kami inginkan. Gemas rasanya ketika dalam keadaan yang mendesak seperti ini, saya tak bisa banyak berbuat apa-apa. Hanya terus  berkirim doa untuk Papa. Kaki ini sudah tak sabar berlari untuk segera memeluk Papa.


Minggu, 27 Maret 2011
Tiba-tiba Yu' Ade sms: "Telepon gue sekarang!" Hati semakin kalut melihat smsnya. Pikiran buruk pun mulai datang. Baru saja saya bilang "Halo Yu'.." Terdengar tangisan kuat dari seberang. Jelas, saya pun tak dapat menahan tangis. Pertama kalinya saya mendengar Yu' Ade menangis kencang! Yu' Ade ingin saya cepat pulang dan tak menyesal bila tak sempat bertemu Papa lagi. Renzo, anak saya pun ikut menangis ketika melihat saya menangis.

Saya harus pulang, begitu keinginan hati! Suami berusaha terus mencari tiket. Alhamdulillah saya dapet tiket pesawat yang akan terbang esok sore waktu Australia (Senin). Saya masih ada harapan kecil kalau sempat bertemu Papa.

Papa sudah gak kejang lagi. Matanya sudah tertutup rapat, seperti orang sedang tidur. Hanya suara nafasnya pelan yang masih terdengar dan mencoba untuk berjuang antara hidup dan mati. Keluarga bilang, telinga Papa seperti ketarik naik ke atas dan ubun-ubun kepalanya penuh dengan butiran keringat. Subhanallah.. Lagi, katanya ini tanda sudah dekat dan sakaratul maut yang mudah bagi orang yang sholeh. Mudah-mudahan ya, Pa..Amiiin.. Yang pasti tekanan nadi Papa sudah semakin menurun, antara 40-60. Sebelumnya sempat turun-naik, stabil di angka 70-90.

Setelah melakukan shalat tahajud malamnya, saya mencoba untuk tidur tetapi tak bisa nyenyak. Tiba-tiba sekitar jam 3 pagi waktu Australia (23.15 WIB), terdengar bunyi suara handphone saya berkali-kali. Saya lihat isi sms didalamnya: "Innalillahi.." Pembuka kalimat itu membuat saya dan suami terbangun! Saya menangis luar biasa! Keluarga di Jakarta menelepon untuk mengabarkan berita duka. Saya sudah tak dapat lagi berbicara, hanya menangis..menangis..dan menangis!

Papa meninggal dunia, Minggu 27 Maret 2011 pukul 23.10 WIB. Setelah istri dan kelima anak perempuannya telah ikhlas, Papa terlihat lebih ringan untuk kembali kepada Allah SWT. Bahkan setengah jam sebelum Papa meninggal dunia, sepertinya Papa menunggu Yu'Epi (kakak pertama yang belum sempat menemui Papa) untuk pulang ke Jakarta dari Palembang. Mama yang menyaksikan sendiri detik-detik halusnya sakaratul maut menjemput Papa dengan diiringi alunan doa dan ayat-ayat cinta.
Innalillahiwainnailaihirojiuun..


Senin, 28 Maret 2011.
Papa dikuburkan di TPU Srengseng Sawah, pukul 10.00 WIB pagi. Saya dan Renzo baru tiba di rumah pukul 20.30 WIB. Tak ada yang perlu disesali, terutama terlambatnya saya pulang ke Jakarta. Sebab insyaAllah hati telah ikhlas lebih dulu. Saya bahagia masih sempat bertemu dan menemani Papa sebulan sebelum kepergiannya, terutama ketika Papa di rumah sakit.

Saya teringat, pelukan dan ciuman terakhir kami (25 Februari 2011). Saya harus kembali ke Canberra. Papa yang biasanya bisa mengantarkan saya ke bandara, kini tak mampu lagi. Papa menangis dan berkata, "Hati-hati di jalan ya Ti. Mungkin ini yang terakhir kalinya..Mungkin Papa gak bisa ketemu kamu lagi.." Saya ikut menangis. Seakan memang sudah waktunya. Ketika mobil sudah berada di depan gerbang rumah kami dan siap untuk berangkat. Hati saya bersikeras untuk keluar dari mobil. Saya pun berlari untuk kembali ke dalam rumah. Saya peluk erat dan cium Papa lagi. Kemudian saya minta maaf pada Papa. Dan memang benar, ternyata hari itulah terakhir kami bersama..  

Pa, maafin Iti yang tak sempat menemani saat ajal memanggil Papa
Tak apa, tak pernah ada kata selamat tinggal
InsyaAllah Iti sudah Ikhlas

Mungkin dengan begini Papa lebih bahagia
Tersenyum lega karena lepas segala derita
Iti memohon agar Allah SWT melapangkan kubur Papa
memberi penerangan oleh cahaya-Nya
memberi kesejukan didalamnya
Iti selalu berharap, surga kini sedang menunggu Papa 
Doa dan cinta pun akan terus mengalir, Pa 

I love, you..