Innalillahiwainnailaihirojiuun..
Minggu, 27 Maret 2011. Papa passed away.. :"(
Tepat sebulan kembali ke Canberra, mendadak dapat kabar duka Papa meninggal dunia. Tiga hari sebelum meninggal, Papa koma di Cinere Hospital sejak hari Jumat sore (25 Maret 2011).
Kronologis:
Jumat, 25 Maret 2011
Papa masih sempat untuk shalat Jumat. Setelah itu makan siang sama-sama dengan Mama, dilanjutkan leyeh2 di kamar tidur. Saat adzan Ashar berkumandang, beliau berdua bangun. Mama melanjutkan kegiatannya di dapur setelah shalat Ashar. Papa pun berwudhu dan siap untuk shalat Ashar. Disadarinya, Papa tiba-tiba lupa bacaan niat shalat. Papa minta Pak Rasyidin (tetangga yg selalu nemenin ngobrol dirumah sejak Papa kritis), untuk tulisin niat shalat. Berkali-kali Papa minta Pak Rasyidin untuk nulis (padahal Pak Rasyidin lagi nulis). Papa sepertinya gak sadar dan tekanan darahnya udah naik. Pak Rasyidin baru menuliskan kalimat "husholli.." Tiba-tiba Papa ngomongnya udah ngelantur kata Pak Rasyidin. Spontan pak Rasyidin panggil-panggil Mama di belakang. "Ibu..ibu..tolong bu, ini Pak Hady kenapa?!"
Mama lari dari dapur dan teriak "Pa, Papa..Papa kenapa?" Pak Rasyidin dan Mama coba untuk angkat Papa dibawa ke kamar. Tapi gak berhasil, Papa tinggi besar jadi berat. Papa lalu teriak dan nunjuk-nunjuk ke arah ruang keluarga. Papa bilang "Apa itu? Itu..itu apa..itu apa!" Entah apa yang Papa lihat, pdahal nggak ada apa-apa. Sebagian orang bilang Malaikat datang untuk menjemputnya. Waallahualam.. Papa kejang-kejang dan tak bisa ngomong lagi. Akhirnya pak Rasyidin minta tolong sama tetangga dan orang-orang yang kebetulan lewat di depan rumah. Papa pun dibawa ke dalam kamar. Mama langsung hubungi Yu' Ade (kakak) dan Gita (adek).
Yu' Ade dan Gita cerita, sampai dirumah mereka lihat Papa keadaannya sudah mengenaskan. Semua badannya reflek ke arah kiri. Seperti orang kena struk. Mulutnya, matanya, tangannya.. Astagfirullaha'ladziim.. Panik luar biasa! Mereka bertangisan. Papa pun yang gak bisa ngomong lagi, hanya menangis. Mereka berusaha untuk bawa Papa ke Hospital Cinere tempat Papa biasa dirawat. Tapi sayang, Papa gak bisa masuk mobil karena kaki Papa gak bisa ditekuk. Alhamdulillah ada ambulans dari Masjid di depan rumah yang bawa Papa.
Sampai di Hospital Cinere, dokter langsung bertindak. Awalnya hasil lab bilang, ada penyumbatan darah di otak. Ini yang membuat Papa kejang-kejang, struk dan tak sadarkan diri. Ada yang bilang, kalau sudah sampai ke otak..akan susah untuk diobati, bahkan diselamatkan! Kami sekeluarga pasrah, apapun yang terbaik kehendak-Nya untuk Papa.
Dalam sms Yu' Ade: "Ti, lo telepati sama Papa ya. Bilang kalo gak bisa pulang. Tapi udah ikhlas kalo emang Papa udah mau pergi. Kesian juga Papa, takutnya mengharapkan elo dateng. Sedih lo gak bisa pulang.."
Sabtu, 26 Maret 2011
Papa belum sadarkan diri. Papa masih berjuang dengan nafasnya sendiri. kami sekeluarga sepakat dan menandatangani surat untuk tidak menggunakan ventilator jika keadaan semakin memburuk (gagal nafas).
Tak tega melihat kondisinya yang sudah jauh melampaui garis batas kritis. Setiap diperbolehkan untuk melihat Papa di ruang ICU, ketika satu-persatu memanggil "Papa.." Papa hanya bisa mengeluarkan air mata tanpa berkata-kata. Bisa dibayangkan betapa tragisnya adegan itu! Sedangkan saya, hanya bisa mendengar cerita dari keluarga. Saya belum dapat pulang karena sulit mendapat tiket pesawat dalam keadaan mendesak, terlebih weekend.
Sabtu pagi, saya telepon ke Jakarta. Saya minta Gita untuk beritahu Papa bahwa saya menelepon. Gita pegang handphone sambil ditempelkannya di telinga Papa. Walaupun Papa sudah tak sadarkan diri sejak hari Jumat, saya yakin di bawah alam sadarnya Papa masih bisa mendengarkan suara saya di seberang. Papa yang tadinya masih kejang-kejang, mendadak berhenti dan tenang (begitu yang diceritakan oleh Gita) ketika Gita kasih tahu bahwa saya menelepon dan ingin ngomong dengan Papa.
Saat mulut ini memulai dengan kata panggilan "Pa..ini Iti". Tangis saya tak dapat ditahan lagi. Saya berhenti sejenak dalam hening dan hanya terdengar sayup-sayup hembusan nafas Papa.
"Pa, maaf ya.. Iti belum bisa pulang cepet. Pa, kalau Papa sudah tidak kuat lagi. Iti insyaAllah ikhlas jika Papa ingin kembali pada Allah seperti yang Papa pernah bilang waktu itu. Maafin Iti ya, Pa.. Iti sayang Papa"
Tak kuat lagi saya banyak berkata. Saya lanjutkan untuk ngomong dengan Gita dan Ia bertanya kapan saya bisa pulang. Saya dan suami terus berusaha mencari tiket pesawat. Tapi sayang, tak semudah yang kami inginkan. Gemas rasanya ketika dalam keadaan yang mendesak seperti ini, saya tak bisa banyak berbuat apa-apa. Hanya terus berkirim doa untuk Papa. Kaki ini sudah tak sabar berlari untuk segera memeluk Papa.
Minggu, 27 Maret 2011
Tiba-tiba Yu' Ade sms: "Telepon gue sekarang!" Hati semakin kalut melihat smsnya. Pikiran buruk pun mulai datang. Baru saja saya bilang "Halo Yu'.." Terdengar tangisan kuat dari seberang. Jelas, saya pun tak dapat menahan tangis. Pertama kalinya saya mendengar Yu' Ade menangis kencang! Yu' Ade ingin saya cepat pulang dan tak menyesal bila tak sempat bertemu Papa lagi. Renzo, anak saya pun ikut menangis ketika melihat saya menangis.
Saya harus pulang, begitu keinginan hati! Suami berusaha terus mencari tiket. Alhamdulillah saya dapet tiket pesawat yang akan terbang esok sore waktu Australia (Senin). Saya masih ada harapan kecil kalau sempat bertemu Papa.
Papa sudah gak kejang lagi. Matanya sudah tertutup rapat, seperti orang sedang tidur. Hanya suara nafasnya pelan yang masih terdengar dan mencoba untuk berjuang antara hidup dan mati. Keluarga bilang, telinga Papa seperti ketarik naik ke atas dan ubun-ubun kepalanya penuh dengan butiran keringat. Subhanallah.. Lagi, katanya ini tanda sudah dekat dan sakaratul maut yang mudah bagi orang yang sholeh. Mudah-mudahan ya, Pa..Amiiin.. Yang pasti tekanan nadi Papa sudah semakin menurun, antara 40-60. Sebelumnya sempat turun-naik, stabil di angka 70-90.
Setelah melakukan shalat tahajud malamnya, saya mencoba untuk tidur tetapi tak bisa nyenyak. Tiba-tiba sekitar jam 3 pagi waktu Australia (23.15 WIB), terdengar bunyi suara handphone saya berkali-kali. Saya lihat isi sms didalamnya: "Innalillahi.." Pembuka kalimat itu membuat saya dan suami terbangun! Saya menangis luar biasa! Keluarga di Jakarta menelepon untuk mengabarkan berita duka. Saya sudah tak dapat lagi berbicara, hanya menangis..menangis..dan menangis!
Papa meninggal dunia, Minggu 27 Maret 2011 pukul 23.10 WIB. Setelah istri dan kelima anak perempuannya telah ikhlas, Papa terlihat lebih ringan untuk kembali kepada Allah SWT. Bahkan setengah jam sebelum Papa meninggal dunia, sepertinya Papa menunggu Yu'Epi (kakak pertama yang belum sempat menemui Papa) untuk pulang ke Jakarta dari Palembang. Mama yang menyaksikan sendiri detik-detik halusnya sakaratul maut menjemput Papa dengan diiringi alunan doa dan ayat-ayat cinta.
Innalillahiwainnailaihirojiuun..
Senin, 28 Maret 2011.
Papa dikuburkan di TPU Srengseng Sawah, pukul 10.00 WIB pagi. Saya dan Renzo baru tiba di rumah pukul 20.30 WIB. Tak ada yang perlu disesali, terutama terlambatnya saya pulang ke Jakarta. Sebab insyaAllah hati telah ikhlas lebih dulu. Saya bahagia masih sempat bertemu dan menemani Papa sebulan sebelum kepergiannya, terutama ketika Papa di rumah sakit.
Saya teringat, pelukan dan ciuman terakhir kami (25 Februari 2011). Saya harus kembali ke Canberra. Papa yang biasanya bisa mengantarkan saya ke bandara, kini tak mampu lagi. Papa menangis dan berkata, "Hati-hati di jalan ya Ti. Mungkin ini yang terakhir kalinya..Mungkin Papa gak bisa ketemu kamu lagi.." Saya ikut menangis. Seakan memang sudah waktunya. Ketika mobil sudah berada di depan gerbang rumah kami dan siap untuk berangkat. Hati saya bersikeras untuk keluar dari mobil. Saya pun berlari untuk kembali ke dalam rumah. Saya peluk erat dan cium Papa lagi. Kemudian saya minta maaf pada Papa. Dan memang benar, ternyata hari itulah terakhir kami bersama..
Pa, maafin Iti yang tak sempat menemani saat ajal memanggil Papa
Tak apa, tak pernah ada kata selamat tinggal
InsyaAllah Iti sudah Ikhlas
Mungkin dengan begini Papa lebih bahagia
Tersenyum lega karena lepas segala derita
Iti memohon agar Allah SWT melapangkan kubur Papa
memberi penerangan oleh cahaya-Nya
memberi kesejukan didalamnya
Iti selalu berharap, surga kini sedang menunggu Papa
Doa dan cinta pun akan terus mengalir, Pa
I love, you..


No comments:
Post a Comment