Tuesday, October 26, 2010
puisi: Cinta Hakiki
Jadi inget waktu lomba puisi International Open Poetry Contest 2002. Puisi saya berbahas Inggris (Thank God) masuk deretan finalis + jadi special participant dalam bentuk buku dan CD. Jadi tambah heran, kok bikin puisi bahasa Indo gak lolos..malah puisi bahasa Inggris yang bisa lolos! hihihihi..lucu!
Dibawah ini puisi yang coba saya kirimkan ke Lomba Puisi FTD Riau tersebut. Gimana menurut Anda? ;p
CINTA HAKIKI
(De Veha)
Kutapaki setiap jalan dalam hidup
Kuarungi dengan hati yang redup
Satu, dua, tiga, langkah tetap tertutup
Kaku bagaikan manusia salju di kutub
Setiap kegundahan kucari cinta, sampai pintu kebahagiaan terbuka
Aku lega, hidupku penuh warna
Kutemukan jalanku
Kutemukan cintaku pada-Mu
Cinta yang abadi dan hakiki
Tuesday, October 19, 2010
South Bank Parklands, Brisbane
Kalo liburan bareng keluarga (terutama sama anak-anak) ke kota Brisbane, Australia, jangan lupa ya main ke South Bank Parklands. Dijamin seru & gak mau pulang!
![]() |
| The Arbour |
Monday, October 18, 2010
puisi: Kado Pernikahan
Aku bahagia
Engkau satukan dua jiwa dalam ikatan cinta, dari dua rusuk yang berbeda
Dua jiwa yang mencoba hidup sempurna tatkala sebagai anugrah
Dua jiwa yang berjanji dibawah pelangi surga, bersama meniti jalan di taman bunga
Dua jiwa yang mengharap belas kasih-Mu
Untuk dapat menghias pigura pada sebuah lentera
Pagi ini aku saksikan titik air mata bahagia
Yang menciptakan muara tangis dunia baru
Berikan mereka keinginan untuk berserah diri akan pertemuan dan perpisahan karena cinta-Mu
Berikan mereka sebuah mahkota hati yang sungguh mencintai, menyayangi dan memadu kasih hingga diujung waktu..
the Great Ocean Road, Victoria-Australia
This is the world's most scenic roads!
Perjalanan darat dari kota Melbourne kira-kira 3-4 jam. Tergantung kita mau menyusuri pantai atau nggak. Liburan ke Melbourne untuk yang kedua kalinya ini, kita siapin satu hari jalan-jalan menyusuri pantai Great Ocean Road & melihat 12 Apostles.
Memang, cukup lama di dalam mobil. Pegel! Capek! Apalagi jalanannya berkelok-kelok, turun-naik. Masuk-keluar hutan, masuk keluar farm ville. Ditambah, hujan datang dan berhenti sekali-sekali. Tapi keletihan itu terbayar dengan keindahan pemandangan di sepanjang perjalanan. Subhanallah!
Di sepanjang menyusuri pantai Great Ocean Road itu, terdapat tempat-tempat tertentu sebagai titik terbaik untuk melihat keindahan alam yang dapat dinikmati sebebasnya! Yang seru saat melewati pepohonan equaliptus, ada koala yang bertengger disana sedang makan daunnya.
Sampai pada akhirnya, kita tiba di tempat wisata yg populer "12 Apostles". Susunan 12 batu yang tingginya hampir mencapai 70 meter. Ini terjadi karena erosi pada tebing sejak 10-20 juta tahun lalu. Yang pasti, gak sia-sia jauh2 kesana soalnya pemandangannya KEREEEENNNN!!!!!!!!!
Holland in Melbourne
Mau jalan-jalan lihat festival tulip di Belanda?
Jauh banget?!!
Jangan khawatir, kamu bisa jalan-jalan dengan cukup berlibur ke Australia. Festival tulip yang diadakan setiap setahun sekali di saat musim semi ini, diadakan di ibukotanya, Canberra, dan di Silvan (daerah luar kota Melbourne).
Namun Tesselaar Tulip Festival yang berada di Silvan, Victoria, membawa kita seakan sedang berada di Holland. Gak percaya?! Lihat saja tata letak hamparan tulip yang beraneka ragam warnanya, kincir angin khas Belanda, iringan musik khas Belanda, belum lagi stand dutch pancake atau yang dikenal dengan poffertjes. Serasa di Belanda kan?!
Selain itu, yang ditawarkan dari festival ini adalah jajanan makanan yang terletak di pinggir-pinggir area dan kamu pun bisa membeli aneka tulip dengan harga yang sangat murah! Bahkan kalau sudah letih dan tak mampu untuk mengitari kebun tulip yang begitu luas, kamu bisa menaiki traktor dengan hanya membayar beberapa dollar saja.
Nah, yang terpenting dari perjalanan ini. Jangan lupa untuk membeli souvenir khas Belanda. Kamu bisa pilih sepatu kayu, miniatur kincir angin, atau magnet kulkas berbentuk rumah-rumahan khas orang Belanda!
Thursday, September 16, 2010
Me Birthday!
Syukur alhamdulillah yang tak terhingga atas rahmat, nikmat dan karunia-Nya yang diberikan untuk saya dan keluarga. Terutama nikmat sehat.. :)
Hari ini, tepat milad saya. Semoga semua keinginan, cita-cita dan doa dapat terkabul..insyaallah amiin..
Thank u to my lovely husband and son
Thank u to all my big family and friends
for the amount of love-pray-and birthday wishes for me..
Happy 4th Anniversary!
Harapan saya dan suami, semoga pernikahan kami menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warrahmah. Pernikahan kami dipenuhi oleh cinta-Nya, karunia dan rahmat dari-Nya. N' semoga terwujud cita-cita kami berdua untuk menunaikan ibadah Haji dan menambah momongan..insyaallah..amin! ;D
Happy 4th anniversary!
Ikutan antologi cerpen!
Kira-kira dua minggu nunggu hasil pengumuman. Alhamdulillah dari 36 naskah yang masuk, naskah saya lolos seleksi (dr 20 naskah yg terpilih). Wah, senangnya bukan main. Setidaknya saya aktif kembali ke dunia "buku". Setelah asyik di dunia "media" u/ artikel2..hehe.. Insyaallah kumpulan naskah antologi melahirkan ini akan di publikasikan dalam sebuah buku. Menurut kabar, naskahnya sedang di proses lay out untuk terbit. Mudah2an lancar prosesnya..amiiin! :)
Nanti kalau sudah terbit, naskahnya akan saya tulis di blog yaaa..!
Thursday, April 22, 2010
Artikel "Canberra, The Bush Capital" - Majalah UMMI

Artikel perjalanan terbaru saya, yang dipublikasikan oleh Majalah UMMI pada edisi Spesial UMMI Maret 2010.
[artikel ini sudah di edit oleh pihak UMMI dan demi kenyamanan membaca karena ada beberapa kesalahan cetak, telah di edit ulang oleh saya, penulis]
Kota sepi namun unik. Mungkin inilah julukan yang tepat untuk Canberra. Penduduk ibukota Australia ini hanya berkisar tiga ratusan ribu orang. Kalah jauh dibandingkan lima kota besar lainnya di negeri Kanguru. Ukurannya yang kecil mungkin tidak menjadikannya tempat favorit untuk melancong. Tapi tunggu dulu, di Canberra tersimpan bermacam keunikan tersendiri.
Sejarahnya saja unik. Kota ini merupakan hasil sayembara internasional yang diadakan pemerintah untuk menetapkan ibukota. Syaratnya, kota harus menjadi kota taman dengan danau di pusat kota. Tidak heran kalau Canberra dijuluki “the bush capital” sebab kaya akan taman yang luas, dikelilingi bukit-bukit sebagai habitat kanguru yang hidup liar dan danau-danau yang menghiasi kota.
Pemenang sayembara ini adalah seorang arsitek dari Amerika, Walter Burley Griffin, kemudian namanya diabadikan untuk salah satu danau “Lake Burley Griffin” yang terkenal dengan water jet-nya.
Kata Canberra sendiri berasal dari bahasa aborigin, “Kanbarra” yang berarti tempat pertemuan. Pada tahun 1913, kota ini diberi nama oleh Lady Denman-istri seorang gubernur pada saat itu.
Keunikan lain, adalah luas Canberra yang tergolong mini untuk ukuran ibukota. Ia hanya menduduki peringkat ke-delapan. Lalu bagaimana bisa Canberra menjadi ibukota Australia?
Sebelumnya Sydney dan Melbourne bersaing untuk menjadi ibukota, akhirnya Melbourne lah yang terpilih menjadi ibukota sementara. Namun dikarenakan Canberra berada ditengah-tengah antara Sydney dan Melbourne, maka pada tahun 1972 pemerintah menetapkan bahwa Canberra yang menjadi ibukota negara sebagai hasil dari kesepakatan antara Sydney dan Melbourne.
Saya disambut hujan lebat ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota yang ternyata tak memiliki bandara internasional ini. Terang saja, saya datang saat menjelang musim gugur. Udara dingin dan angin pun kadang menyerbu terutama pada malam hari. Ini tak mengherankan karena Australia memiliki empat musim, sama seperti negara bagian Eropa dan Amerika. Namun yang membedakan hanyalah waktu. Ketika musim dingin terjadi pada akhir tahun di negara bagian Eropa dan Amerika, maka di Australia terjadi pada pertengahan tahun. Meski salju jarang sekali turun di Canberra.
Bulan ini hingga Mei nanti, musim gugur kembali datang. Rerumputan, pepohonan, dan bunga-bunga berubah warna namun tetap cantik dipandang. Kelamaan menjadi kuning, orange, jingga, merah tua, hingga kecoklatan dan berguguran. Ah, indahnya..
Selain musim gugur yang indah, kota ini pun dikenal sebagai kota pendidikan. Canberra memiliki lima kampus, salah satunya ANU (Australian National University) yang tercatat sebagai peringkat 16 besar di dunia. Tak heran jika banyak pelajar Indonesia yang mengenyam pendidikan disana.
Festival dan Tempat Wisata
Menjelang musim gugur, kita disambut dengan berbagai festival, salah satunya Ballon Fiesta. Disusul dengan festival lainnya yang berlangsung setiap tahun. Pada Festival Ballon Fiesta, beragam balon udara diperlihatkan dan siap terbang. Kami pun tak segan bangun dini hari untuk menyaksikannya lebih awal. Balon terbang ini boleh dinaiki, tapi kita harus punya tiket terlebih dahulu. Itu pun harus dipesan jauh-jauh hari sebelumnya. Sayang, festival ini sangat bergantuung dengan udara dan angin, bila angin tak menyapa jangan harap bisa terbang.
Selain balon udara, kami disuguhi aneka jajanan terutama khas Australia yang berada di pinggir-pinggir area. Sebut saja meat pie dan sausage roll, mmmh..yummy. Apalagi ditemani secangkir kopi panas. Tak jauh dari area tersebut, penyelenggara menyediakan café-café dadakan. Jadi jika lapar, langsung tancap gas kesana. Selain cafe ada juga bangunan-bangunan kecil berbentuk balok yang berdiri tegak. Ternyata itu adalah toilet umum. Hebat, fasilitas umum ini berjejer dengan rapi.
Toilet boleh diacungi jempol, tapi bagaimana dengan fasilitas lainnya? Jangan khawatir, fasilitas umum di Canberra amat mudah dan nyaman, terutama bagi pengendara sepeda, pejalan kaki, dan para penyandang cacat. Transportasi umum yang biasa digunakan adalah bis dan taksi. Sedangkan kereta api hanya untuk bepergian ke luar kota.
Macet? Tak ada tuh dalam kamus Canberra, karena penduduknya memang sedikit jadi tak perlu desak-desakan seperti di Jakarta. Imbasnya, udara yang bersih tanpa polusi dan kota yang ramah lingkungan. Alhamdulillah, saya merasa begitu dimanjakan dan betah tinggal disini.
Festival yang juga paling dinanti adalah Floriade. Festival yang berlangsung selama satu bulan ini akan menyajikan jutaan jenis bunga. Pemandangan yang menyejukkan mata ini sangat pas untuk dinikmati sekeluarga saat musim semi. Tak hanya bungan yang ditampilkan, beragam atraksi selalu berganti setiap harinya. Jika membawa si kecil, Anda tak perlu khawatir, panitia menyediakan arena bermain khusus anak-anak dan yang paling digemari adalah face painting.
Pada hari jadi Canberra yang jatuh pada 8 Maret lalu, kami disuguhkan beragam atraksi. Mulai dari akrobat pesawat, pameran, musik dan tarian, serta olahraga air. Acara puncak Celebrate in the Park di gelar di pinggir Lake Burley Griffin, untuk menyaksikan fireworks yang megah pada pukul 9 malam. Agar dapat spot yang terbaik untuk melihat fireworks, kami rela datang lebih awal dengan membawa peralatan piknik.
Selain festival, Canberra memiliki banyak tempat wisata yang menarik. Misalnya Old Parliament House yang sekarang dijadikan museum dan new Parliament House tempat “perdebatan” antara perdana menteri dan oposisi. Ada juga Australian War Memorial, sebagai museum pahlawan yang kaya akan nilai historis dengan atap bangunannya seperti kubah. Bangunan cantik dan karya seni juga dapat kita nikmati di setiap sudut jalan.
Ingin melihat Canberra secara keseluruhan, 360 derajat? Yuk, kita naik ke sebuah monumen, lebih tepatnya menara sebagai one of the most symbolic landmarks di Canberra, Telstra Tower. Disini kita dapat melihat pemandangan tata kota Canberra yang indah. Lengkap dengan lekuk dan seluk kotanya.
Dari semua tempat wisata yang ada, yang paling wajib dikunjungi adalah Cockington Green. Sebuah taman luas yang dihiasi dengan berbagai miniatur bangunan dan ciri khas tiap negara-negara. Bahkan, candi borobudur mini ikut andil menghiasi taman ini. Beragam tumbuhan termasuk bunga aneka warna yang berjumlah hampir 35.000 bunga bisa ditemui disini. Itulah kenapa Canberra disebut dengan the bush capital.
Komunitas Indonesia
Canberra dihuni oleh beraneka ragam penduduk, mulai dari suku asli aborigin, para imigran asal negara Eropa sampai Asia termasuk Indonesia. Tidak hanya pelajar Indonesia, banyak pula warga Indonesia yang telah lama menetap di Canberra baik yang berstatus citizen atau permanent residence seperti saya.
Kota yang kecil membuat kekerabatan di antara individu begitu erat, khususnya sesama muslim. Perayaan besar seperti shalat Idul Fitri sering dilakukan di masjid-masjid dan di KBRI Canberra. Seluruh kegiatan umat muslim di Canberra dilakukan di Masjid Canberra. Kami memiliki beberapa organisasi islami yang dibentuk demi menambah keimanan dan tali silaturahim. Misalnya TPA Ceria Canberra dan pengajian AIMF-ACT
Hmm..saatnya hunting oleh-oleh. Ketika ada kerabat dan teman kesini, saya pasti akan membawa mereka untuk membeli oleh-oleh khas Canberra, berupa boomerang dan kulit kanguru.
“Rasa” Indonesia
Gaya hidup ala orang bule menular pada saya. Semua pekerjaan dilakukan sendiri, tanpa bantuan maid. Termasuk kegiatan memasak. Berburu bumbu dapur dan daging halal, cukup mudah. Barang-barang impor dari Indonesia juga sudah banyak ditemui, seperti teh dalam kemasan kotak, sambal botol, bahkan mie instan merek sudah tersedia di supermarket-supermarket lokal seluruh Australia. Kalau malas pergi ke toko, saya biasa belanja melalui jasa online Kambera Sembako dan simsalabim barang sudah ada didepan mata.
Kadang saya juga mengajak keluarga untuk makan diluar. Asian Food Mart tempat favorit kami. Menu masakan Indonesia tersedia disini. Saya juga bisa pesan jajanan tradisional dan masakan Indonesia melalui teman-teman yang membuka usaha katering kecil-kecilan. Cukuplah untuk mengobati kangen akan masakan kampung halaman.
Tuesday, March 30, 2010
interviewed by Radio Ardan Bandung
Lagi inget2 waktu diinterview sama Radio Ardan. Yang ngerekomendasiin adek saya, Adinda Hady. Kebetulan bulan Ramadhan, so, pihak Radio Ardan pengen tahu sedikit cerita tentang suasana Ramadhan di Canberra, Australia.. ;)
Tuesday, March 2, 2010
Happy Birthday to you, beb..
Namun sayang baru dua kali kami bersama-sama merayakan ulang tahunnya dengan personil lengkap bertiga [saya, suami dan anak]. Sebab, dua tahun belakangan ini..saya sering pulang ke Indo karena Ayah saya sakit. Maka, suami berulang tahun sendirian di Canberra, sementara saya dan anak masih berada di Indonesia.
Tahun pertama pernikahan, saat ulang tahunnya kami berdua merayakan dengan tiup lilin bersama. Saya hanya memberikan sebuah kartu ucapan. Tahun kedua, dirayakan dengan candle light dinner di balkon rumah kami yang menghadap ke danau, tahun ketiga saya membuatkan sebuah tulisan tentang dirinya sebagai seorang suami dan ayah yang hebat! Tulisan yang masih saya pegang teguh dan akan terus diingat.. :)
Lagi, tepat di hari ulang tahunnya..kami berpisah jarak dan waktu lagi. Walaupun begitu, doa dan cinta untuk suami tak pernah berhenti..
"Happy birthday beb..Happy birthday to you
Semoga selalu dalam lindungan ALlah SWT, sehat selalu, tambah rejekinya, makin sayang Bunda & Renzo.. ;)
We love and miss you Ayah.."
Dibawah ini, petikan tulisan yang saya buat untuk sang suami tercinta:
"Dia adalah suami yang selalu berkata “Good night sayang..sweet dream..love you, hon..” sembari mencium sebelum kami berdua tertidur. Kami juga selalu saling berkata “Love you..” dan “Miss you..” di setiap kesempatan. “Maaf” juga tidak segan terlontar dari mulutnya ketika Ia mengakui kesalahannya, apalagi “Terima kasih”. Kata-kata yang menurut saya sangat sederhana.
Pada hari ulang tahunnya, saya ingin memberikan kejutan dengan membuat cerita ini dan ungkapan hati yang sama untuknya dalam sebuah kartu seperti tahun lalu “All I want to do is take care of you, beb. I want you to know that I respect you greatly. I love the things you do. I love the things you say. I love the way you look. I love the way you touch. I love the way you love. I love the way that you are a part of my life. And I am so blessed to be loved by someone as wonderful as you. I am thankful for the way you are and I thank you for being the best man and dad in the world, in every way. And this thank u is for all the things you do. I love you.. but maybe the word "love" isn't enough to explain. It's more than words can say, more than pictures can show, more than anything. Deeply, truly, and forever. Love you, beb..”
Dia adalah suami yang mengajarkan saya begitu banyak pelajaran, dengan cinta dan sayangnya. Dia memang bukan lelaki yang sempurna, tetapi dia suami yang mencoba menjadi sempurna bersama saya dan yang melengkapi hidup saya dihadapan Allah. Saya tidak pernah menyesal menikahinya, tidak pernah menyesal bahwa ternyata dirinyalah teman sejati yang Allah pilihkan untuk saya hingga nanti. Insyaallah.. Amin ya robbala’lamiin..
Dan tiada yang indah selain ucapan syukur berjuta kali dari lubuk hati saya yang paling dalam, Alhamdulillah..
Saturday, February 27, 2010
Foto: UMMI Spesial edisi Januari 2010
Beberapa bulan lalu, ibu DS selaku dirut majalah UMMI berkunjung ke Canberra. Kebetulan saya dan beliau sempat bertemu dan BBQ-an bersama. Tidak lama kemudian, setelah beliau kembali ke Jakarta. Salah satu asistennya, menghubungi saya untuk menuliskan artikel perjalanan edisi Januari 2010. Tapi kemudian, artikel tersebut ditunda penayangannya untuk edisi spesial UMMI bulan depan [Maret 2010]. Saya sih nggak keberatan. Malah yang ada, redaktur UMMI meminta izin salah satu foto saya tema Autumn untuk dijadikan artikel lain di edisi Januari tersebut [silakan lihat gambar].. :)
PS: Jangan lupa ya, baca artikel saya di majalah UMMI edisi bulan depan [Maret 2010]
Friday, February 26, 2010
Pertemuan pertama dgn Asma Nadia

Setelah meng-arrange waktu yang terus saja banyak kendalanya..akhirnya pertemuan saya dengan mbak Asma Nadia tercapai. Alhamdulillah.. :)
3 hari sebelum kembali ke Canberra. Saya janjian untuk ketemu dan bertandang ke rumah beliau. Saya diantar oleh suami. Walopun hanya 45 menit, tapi cukup [harus cukup kayaknya..hehe] untuk saya sharing ttg menulis dengan beliau. Thanks banget mbak Asma, sudah punya waktu diantara pekerjaan yang menumpuk untuk menerima kami main ke rumahnya. Mudah2an ada jalan saya untuk lebih mudah menerbitkan dan terus berkarya lagi. Atau bahkan impian saya untuk menulis bareng dengan mbak Asma segera tercapai..insyaallah..amiiin..semangat!!!!!!!!!!!
Artikel "Sejuta Cinta Dari Bunda" - majalah Parenting Indonesia

Thanks to Mbak DP.
The story is dedicated to my gorgeous son, Renzo..
..about you and me..about showing the amounts of love to you my dear.. :)
SEJUTA CINTA DARI BUNDA
oleh Devi Nurvitriyani Hady
Lega. Kepuasan ketika melihatnya pertama kali dalam dekapan dada. Tubuh mungilnya pun masih tercium harum darah segar. Bahagia, tentu saja. Semua merupakan pengalaman yang pertama. Mengandungnya selama 9 bulan, melahirkan dan mengasuhnya. Saya pun tak ingin menukar pengalaman itu dengan yang lainnya. Tak ingin pernah jauh walau sedetik. Buah hati bunda…buah hatiku sayang, Renzo (Muhammad Renzo Abrar, 15 bulan).
Kami menetap di Canberra, Australia. Tinggal di negeri asing, juga merupakan pengalaman pertama saya terutama untuk hidup mandiri. Gaya hidup orang Australia ini kelamaan menjadi kebiasaan. Jadi, jangan dikira ada pengasuh yang membantu pekerjaan rumah tangga. Tidak. Selain berbagi tugas dengan suami, selebihnya saya mengerjakan sendiri terutama ketika suami pergi bekerja. Begitu juga dengan hal mengasuh Renzo. Capek? Ya, saya akui amat sangat kelelahan. Tetapi beban berat yang bertumpu di pundak saya, terbayarkan dengan begitu banyak waktu yang dimiliki bersama dengan Renzo. Lebih dari cukup, alhamdulillah.
Waktu demi waktu saya nikmati dengannya. Dimulai dari dirinya bangun pagi dan melakukan aktifitas hingga tertidur lagi di malam hari. Perkembangannya yang semakin hari terus bertambah dan kepandaiannya yang tak luput dari pandangan, membuat saya begitu mensyukuri
nikmat yang diberikan-Nya.Namun mendadak chicken pox atau cacar air datang menghampiri tanpa diundang. Kesal! Perasaan yang muncul pertama kali ketika sang dokter UGD memberikan statement-nya. Lagi-lagi kesal. Saya diharuskan segera menjauh dengan Renzo. Saya diharuskan pisah kamar dengannya. Dokter mengatakan kalau saya tidak harus pisah rumah sebab Renzo sudah terekspos sehingga ada kemungkinan terkena cacar air juga. Namun kalau pun diharuskan pisah rumah bahkan untuk beberapa hari, pasti saya akan terkena penyakit yang lebih parah lagi. Depresi dan stress berat. Saya tak mampu untuk berpisah lama dengan Renzo.
Dengan berat hati, kemudian saya terisolasi sendiri di kamar utama. Hari pertama setelah dinyatakan terkena virus tersebut, seakan waktu berdua saya dengan Renzo berhenti begitu saja. Suami dan Ibu mertua yang meminta cuti bekerja pun akhirnya mengambil alih untuk bergantian mengasuh Renzo.
Sedih! Saya hanya bisa mendengarkan suaranya melalui rongga dinding kamar tanpa melihat wajahnya sekalipun. Pasti Ia sedang menonton TV channel ABC Kids atau bermain dengan kereta Thomas favoritnya, pikir saya. Kadang sesekali Ia memanggil-manggil saya, “..Nda..Ndaaa..” panggil bunda maksudnya. Saya pun membalas panggilannya. Kalau saja saya tidak sakit, pasti saya sudah bersamanya dan sedang asyik bermain di dunianya. Tetapi saya berusaha untuk sabar dan tidak banyak mengeluh. Karena saya yakin, mungkin Tuhan memberikan saya waktu untuk dapat beristirahat sejenak dan terlepas dari segala kelelahan.
Hari ketiga. Saya sudah tidak tahan lagi menahan rindu untuk melihat wajah pangeran kecil, Renzo. Saya selalu bertanya pada suami tentang aktifitas Renzo setiap harinya. Saya juga meminta suami untuk membawanya bermain di balkon apartemen kami. Renzo langsung mendatangi dan mengetuk-ngetuk kaca jendela. Kami berkomunikasi melalui jendela kamar tidur yang menjadi satu dengan balkon. Walaupun saya hanya dapat melihatnya melalui kaca jendela, saya senang sekali. Ia langsung memanggil-manggil dan mencium saya dari balik jendela. Haru. Seorang bunda yang sadar kalau tiga hari terasa begitu lama bak setahun.
Nangis. Air mata tak sempat membendung lama di pelupuk. Saya menangis karena sangat terharu, terutama ketika melihat kepandaian barunya yang kali ini luput dari pandangan saya. Biasanya saya selalu menjadi yang pertama kali mengetahui seluruh kepandaiannya, tetapi kini suami yang memberitahu kalau Renzo sudah pandai berjalan. Ya. Sebelum saya terkena cacar air, Renzo sedang belajar melangkah, tertatih-tatih 4 sampai 9 langkah. Subhanallah, kini Ia bahkan sudah lancar berjalan. Kakinya telah kuat menopang tubuh. Dengan berani dan percaya diri Ia berjalan menuju Ayahnya. Kalau saja saya bisa, saat itu rasanya saya ingin segera keluar dari kamar dan memeluknya erat. Sayang sekali, saya harus menunda keinginan saya.
Kerinduan saya untuk dekat dengannya semakin memuncak ketika menjelang seminggu. Rasanya saya tak kuasa lagi bila harus menunggu waktu, menghitung hari sampai benar-benar sembuh. Ketika saya hanya menghabiskan waktu sendiri di kamar, saya banyak menangis. Air mata ini keluar begitu saja. “Ya Allah...saya amat merindukannya. Merindukan waktu ketika bersamanya, berdua saja. Izinkan saya untuk segera sembuh dan dekat kembali dengan Renzo”, pinta saya pada-Nya dalam hati berulang-ulang. Mungkin hal ini juga dirasakan oleh Renzo, sebab dirinya sudah cukup lama tidak bersama saya seperti biasanya. Ia mulai sering “mengamuk” dan rewel tanpa sebab yang jelas. Kadang sampai memukul-mukul kepalanya tanda kesal. Kebiasaan tidurnya yang memang tidak sulit, kini harus dimulai dahulu dengan tangisan meringis. Ibu mertua dan suami pun menjadi bingung dengan tingkahnya. Kasihan Renzo.
Hari kesembilan, Ayahnya kembali mengajaknya ke balkon agar dapat melihat saya. Kami sempatkan berlama-lama untuk bermain. Sebelum suami membawanya kembali ke dalam, Renzo tidak lupa untuk melambaikan tangannya dan kiss bye pada saya sembari berkata “da...daa...baa...bay...”.
Esok sudah memasuki hari kesepuluh. Lagi-lagi saya masih harus menunda untuk dekat dengan Renzo. Hati kecil saya amat sangat sedih dan tidak tega melihat Renzo berlama-lama jauh dari saya, bundanya. Ketika dirinya memanggil saya dari balik pintu kamar, saya pun bilang berkali-kali “Sabar ya nak…bunda sebentar lagi sembuh. Renzo, be nice ya sayang...” Saya mencoba untuk memberikan pengertian padanya. Saya akui, saat itu saya menangis lagi. Bagaimana tidak? Bayangkan saja, saya dan Renzo berkomunikasi hanya melalui pintu kamar dan bahkan kaca jendela.
Hari kesepuluh. Saya mulai untuk membuka pintu kamar, namun belum memberanikan untuk keluar dan dekat dengannya. Pintu kamar yang terbuka lebar, dibatasi dengan pagar pembatas. Walaupun Renzo tidak dapat memasuki kamar, saya hanya ingin Ia tetap bisa melihat saya. Saya ingin dirinya tahu bahwa saya tidak meninggalkannya. Saya masih dekat dengannya walau tidak secara fisik. Renzo tampak bahagia ketika dirinya bebas melihat saya. Sesekali Ia tunjukkan kepandaiannya berjalan, bahkan menari saat terdengar musik dimainkan di televisi.
Malam hari kesebelas. Saya dan suami memutuskan agar keesokan harinya saya mulai kembali untuk bersama dengan Renzo. Memang saya belum pulih benar dan masih harus menunggu seminggu lagi. Namun keputusan yang kami buat semata-mata demi Renzo, bukan disengajakan untuk menularkan chicken pox. Tidak. Saya dan suami hanya tidak tega melihat Renzo terus menuangkan kekesalannya karena tidak dapat dekat dengan saya.
Malam itu, dapat dibayangkan bagaimana perasaan saya sebagai seorang ibu. Gugup, bingung, senang. Saya mendadak sulit tidur karena sibuk menghitung detik-detik untuk dekat dengan Renzo. Gemetar menanti penantian esok hari. Perasaan ini lebih dari ketika menunggu pengumuman hasil ujian sidang skripsi, lebih dari ketika sedang jatuh cinta, bahkan lebih dari itu. Saya tak mampu untuk mendeskripsikannya.
Hari yang ditunggu pun tiba, tepat hari keduabelas. Sang suami membangunkan. Saya hanya tertidur tiga jam saja tadi malam. Itu pun seperti tidur ayam. Kemudian, sayup-sayup saya dengar suara keriangan Renzo dari balik pintu kamar. Saya bergegas bersiap diri untuk bertemu dengannya secara fisik. Saya tak sabar ingin cepat melangkah keluar kamar. Detak jantung seakan mendadak begitu cepat dan tak terkendali. Saat pintu kamar dan pagar pembatas terbuka, saya panggil Renzo. Saya menghampirinya. Saat itu juga saya lihat wajah cerianya dengan tawa lebar sembari berjalan kearah saya, memeluk dan mencium bundanya.
Sungguh! Adegan yang paling mengharukan. Rasanya hati akan meledak begitu saja untuk mengeluarkan seluruh perasaan yang bercampur aduk dan yang telah lama terpendam. Renzo kembali dalam pelukan saya. Lagi, saya tak dapat menahan tangis. Suami pun ikut memeluk saya dan Renzo.
Beberapa hari kemudian, saya dan suami mengetahui bahwa kini giliran Renzo yang terkena cacar air. Saya memperhatikan timbul bintik-bintik merah di kulitnya yang kemudian semakin banyak. Walaupun sedih karena dirinya tertular, namun saya tidak perlu khawatir karena saya tidak lagi jauh darinya. Saya akan merawatnya dengan sepenuh hati kapanpun saat dirinya sakit ataupun tidak.
Setiap kali melihatnya tertidur, dirinya begitu damai. Saya menikmati saat-saat seperti ini. Melihat mata kecilnya yang tertutup rapat, bibir mungil dan indahnya saat mendengar hembusan nafas lembutnya. Saya bisikkan ke telinganya “Bunda akan selalu disini...dekat denganmu, Renzo…” Saat itulah saya rasakan kenikmatan dari-Nya yang luar biasa. Alhamdulillah...
Saya sadar benar, betapa berharganya waktu berdua saya dengan Renzo. Betapa berharganya kedekatan kami, seorang bunda dan buah hatinya. Saya sangat bahagia menjadi istri sekaligus ibu yang memiliki banyak waktu untuk memberikan sejuta cinta dan kasih sayangnya bagi keluarga. Saya ingin kedekatan ini akan terus berkekalan hingga nanti. Karena bunda mencintaimu, sayang…
Thursday, February 25, 2010
Artikel "Miniatur Dari Berbagai Negara" - Koran Sindo

Ada satu taman yang menarik, sangat indah dan menurut saya wajib dikunjungi. Namanya Cockington Green. Taman ini ditumbuhi oleh ribuan jenis tanaman, bahkan hampir 35.000 bunga aneka warna menghiasi. Nggak hanya itu, miniatur-miniatur bangunan kecil pun ikut dipajang. Contohnya, ada mini Candi Borobudur yang mewakili tanah air kita Indonesia.. :)
cerpen: Annora
Dibuat setelah sepupu wafat. Si kecil yang hanya berjuang hidup selama 21 bulan..
Silakan baca di enewsletter Wanita Online edisi ketiga Okt-Nov 2008 di:
http://www.wanitaonline.com/newsletter/nov2008/index.html
atau langsung di:
http://www.wanitaonline.com/newsletter/nov2008/annora.htm
Ibu rumah tangga VS Penulis

Kadang udah niat mau mulai nulis, tapi ada aja halangannya.
Misalnya mood, ngantuk, capek, dll. Maka saat-saat Renzo lagi tidur atau asyik bermain dengan his toys + watching his favorite DVD, bener-bener digunain waktunya buat nulis. Tapi tetep, kalau lagi nggak mood..ya..nggak nulis. Karena nggak akan bisa menghasilkan tulisan yang bagus. Lagipula tulisan yang bagus nggak akan bisa jadi sekali aja, pasti berulang-ulang, sekalipun penulis profesional. Dan lagi, ide/ilham itu datang dengan sendirinya, gak akan bisa dipaksa..so..nyantai aja..

Dulu, terbiasa begadang. Nulis dari jam 9 malam sampe pagi. Sekarang nggak bisa gitu lagi. Pagi-sore urus Renzo sendirian (maklum disini nggak dibiasakan punya nanny/pembantu). Disini terbiasa hidup mandiri. Makanya nggak ada TKI/TKW..
Tapi nikmatnya luar biasa, walo capek..kedekatan dengan anak tingkatnya lebih tinggi.. Nah, sorenya, setelah suami pulang kerja..gantian deh take over Renzo.. akhirnya..
Tapinya lagi ya..urus Ayahnya dulu..hahahaha... Baru deh kalo Renzo udah bobo, ayahnya udah makan, mulai deh nulis..biasanya sampe jam 12 atau 1 pagi. Pernah coba begadang sampe jam 4.30 pagi. Waduuuh...ternyata lebih capek ya...super duper capeknya..gak bisa lagi begadang kayak dulu..
Semangat menulis selalu ada..terus dan terus..semakin tinggi! Alhamdulillah suami mendukung banget! Yang paling penting pekerjaan yang tidak menganggu aktifitas sebagai ibu rumah tangga..

Tetap semangat menulis!
Juara 3 Lomba Testimonial se-Indonesia
Ceritanya begini, ini sekalinya Papa saya sakit ampe sekarat saat beberapa minggu menjelang hari pernikahan saya. Saat itu Papa yang sosok tubuhnya tinggi tegap, sehat..tiba2 rapuh n' kelamaan tak berdaya.

Singkat cerita, alhamdulillah Papa lama-lama sehat berkat berobat alternatif dengan Pak Yosef. Dari situlah Papa mengkonsumsi beberapa produk K-Link. Nah, lalu Papa kasih tau kalo ada lomba ini. Nah, Papa kan kalo disuruh nulis cerita susah, jadi minta tolong saya. Pada intinya semua informasi dari Papa semua. Saya tinggal menggubah kata2 istilahnya, biar lebih mantap kalo dibaca..hehehe..
Lalu, karena testimonial ini termasuk finalis, maka sebelumnya Papa diwawancara disuruh cerita lagi di depan podium. Kalo disuruh ngomong mah, Papa jago banget dah! hehehe... Setelah itu, malamnya adalah Malam Grand Final. Selanjutnya tau kan? Eng ing eng.. "Pemenang ketiga adalah.." selanjutnya nama Papa dipanggil, padahal Papa lagi ngobrol di telpon n' kaget sendiri disuruh maju ke podium n jadi pemenang..hahaha..
Well, Pemenang pertama ke Cina (wah, kesian Mama-Papa gak ngerti bahasanya n susah cari makanan halal..hehehe), yang kedua ke Bangkok (Papa udah pernah kesana..tapi lagi-lagi alasan yg sama kayak sebelumnya). Emang Alloh SWT ngasihnya jadi pemenang ketiga ya, coz Papa dapet hadiah jalan-jalan ke Kuala Lumpur. Alhamdulillah.. Memang dari dulu Mama n Papa pengen banget ke KL. N' alhamdulillah saya bisa memberikan hadiah itu untuk mereka berdua..
TESTIMONIALNYA!:
Nama saya Nurul Perwirady Hady. Saya akan menceritakan kesaksian saya akan khasiat dari produk K-Link.
Tahun lalu, entah mengapa seringkali tiba-tiba badan saya lemas. Saya merasa daya tahan tubuh saya menurun, ingin muntah karena mual dan tidak selera makan. Saya sedikit bingung dan khawatir. Pikiran saya saat itu, ah! mungkin saya hanya kelelahan. Tapi, saya tidak bekerja lagi dan lebih banyak menghabiskan waktu dirumah bersama istri serta anak-anak. Akhirnya, saya memberanikan diri dan mengalahkan ego untuk bertanya kepada teman yang merupakan seorang dokter. Namun dia hanya bilang “Kau itu tidak sakit, tapi terlalu banyak pikiran. Stress!”. Walaupun saya menganggap dia sedang melucu, tapi saya pikir ada benarnya juga.
Memang, saya sudah lama pensiun dan itu yang menjadi pikiran terberat saya. Saya memiliki
Setelah saya beberapa kali merasa lemas, saya pun mulai merasakan air seni tidak selancar seperti biasanya ketika saya buang air kecil. Lalu, sebentar-sebentar mau buang air kecil lagi yang esok-esoknya disusul dengan keluar darah. Seperti biasa, pertama-tama saya diamkan saja. Saya pun tidak memberitahu istri, apalagi anak-anak.
Suatu hari kira-kira bulan Agustus 2006, saya mengunjungi adik di
Alhamdulillah operasi tersebut lancar dalam beberapa jam. Namun, saya harus tetap menjalani cuci darah dua kali dalam satu minggu. Di rumah sakit tersebut, saya dirawat inap hampir satu bulan. Sungguh, itu sangat menyiksa saya terutama saat cuci darah berlangsung selama 4 jam. Saya menolak “cymino”, sebuah alat khusus berupa selang yang dapat langsung disambungkan ke dalam bagian tubuh. Saya bersikeras tidak ingin menggunakannya. Saya pun pernah tiga kali pingsan setelah cuci darah, juga saat proses cuci darah berlangsung saya hampir kehilangan kesadaran. Rasanya mau mati, sekarat! Di ruangan tersebut, seakan maut bisa kapan saja menjemput. Saya pun siap bila mana memang harus lepas nyawa saat itu. Saya sudah tidak tahan lagi, sakit!
Dilema hati antara hidup dan mati, ternyata Allah SWT masih mencintai saya. Berita bahagia datang dari anak saya yang ketiga, ia akan menikah. Kondisi saya saat itu memang belum stabil, bahkan saya belum diperbolehkan untuk pulang. Mendekati hari pernikahannya, ada semangat tinggi untuk dapat langsung menikahkannya. Saya tidak ingin melewati hari bahagianya yang sangat dinantikan itu. Saya pun memaksakan diri untuk hadir sesaat walaupun kateter terus menggantung di bagian tubuh saya. Sempat saya terpaku dan merasakan sedih yang teramat sangat, tapi saya sangat bahagia hari itu.
Sebulan kemudian kira-kira akhir Oktober 2006, seorang teman baik datang ke rumah untuk menjenguk. Ia menawarkan terapi holistic dan menjelaskan sedikit mengenai pengobatan tersebut. Saya langsung tertarik sebab saya ingin kembali sehat dan tidak mau ke dokter selamanya. Beberapa hari kemudian, tepatnya pada tanggal 8 November 2006 sekitar pukul 08.00 pagi saya dipertemukan dengan Pak Yosef Darma Rista dan istrinya, Enny Setyorini di klinik beliau “Fairuzholistic”. Mereka berdua mulai melakukan terapi terhadap saya, dengan kondisi saya yang saat itu masih menjalani cuci darah dua kali seminggu, masih menggunakan kateter, Hb 7.3, Ureum 108.2, Creatinine 16.1, dan Uric Acid 9.5. Saya ikuti seluruh terapi berupa Akupuntur, Koryo Sooji Chim, Bekam, Refleksi, Massage, Yoga, Diet, dan terapi lainnya dengan frekuensi awal tiga kali seminggu dan secara bertahap terus berkurang.
Dari terapi rutin tersebut, disitulah Pak Yosef Darma Rista dan istrinya, Enny Setyorini yang kebetulan distributor K-Link memperkenalkan saya dengan produk K-Link. Ia memberikan sedikit demi sedikit informasi mengenai produk ini. Kemudian, saya pun mencobanya.
Saya mulai mengkonsumsi Chlorophyl, Gamat Vitaplus, Omegasqua, Roibos Tea dan Propolis Platinum. Tidak hanya itu, saya juga memakai K-Link Kino. Saya ikuti terus sesuai petunjuk beliau dan berlangsung hingga bulan Desember 2006. Alhamdulillah setelah 2 bulan pemakaian, saya merasa lebih baik walaupun masih tetap menjalani proses cuci darah yang berkurang menjadi seminggu sekali hingga 10 hari sekali.
Saya merasakan benar khasiat produk K-Link dan terapi pada tanggal 29 Mei 2007 menjadi terapi saya yang terakhir. Kondisi tubuh saya lebih baik dari pada sebelumnya. Saya sudah mampu bepergian jauh selama beberapa hari hingga keluar kota, berlibur bersama keluarga tercinta, kembali berbisnis, berolah raga, hingga mengendarai mobil sendiri, dan aktivitas lainnya yang sempat tidak bisa saya lakukan selama beberapa waktu. Sampai pada hari ini pun, saya tetap mengkonsumsi produk K-Link tersebut dan menjalani terapi diet. Alhamdulillah akhirnya selama 8 bulan ini saya tidak lagi menjalani cuci darah yang sangat menyiksa itu.
Artikel "Jelajahi Salju Perisher Blue" - majalah EVE
Artikel wisata yang kedua kalinya dimuat di EVE Magazine. Kali ini saya menulis tentang salju di Perisher Blue. Australia punya 4 musim, sama seperti di negara-negara bagian Eropa dan Amerika. Tapi, yang membedakan adalah waktunya. Kalau di bagian negara lain, musim dingin terjadi pada akhir tahun. Nah, kalo di Australia terjadi pada tengah tahun.Di ibukotanya sendiri, Canberra, saat musim dingin menjadi kota paling dingin. Suhu bisa mencapai kurang dari nol derajat. Hebatnya, salju nyaris jarang turun. Paling sekali dalam beberapa tahun. Atau hanya biang es yang bertebaran sedikit di pinggir-pinggir jalan. Hujan es kerikil juga sekali-sekali.

Kalo mau main salju di Australia, yang paling deket dari Canberra salah satunya Perisher Blue. Sebelumnya kita bisa nyewa perlengkapan main ski di tempat penyewaan. Bukit Perisher Blue disediakan untuk para pemula sampe yang sudah jago. Bahkan ada sekolah ski [snowsport school]. Ada juga bukit salju khusus bagi pemain ski yang udah jago, udah prof istilahnya..namanya bukit Thredbo.

Jangan lupa ya, kalo ke Australia pertengahan tahun..mampir untuk main ski disini n bawa oleh-oleh snowball!
Artikel "Semarak Autumn di Canberra" - majalah AUSINDO
Lagi-lagi, seneng!
Saya bakal tambah semangat untuk nulis! :)
Artikel "Semarak Autumn di Canberra" - majalah EVE
Ini adalah artikel perjalanan/wisata saya yang pertama kali tayang di media cetak, EVE Magazine. Kebetulan saya bagian dari EVE reader panel editor dan udah kenal dengan rekan di EVE Magazine. Sebelumnya, sang managing editor [mbak SP] menghubungi dan meminta saya untuk nulis artikel perjalanan sebagai kontributornya. Dengan senang hati saya menulis tentang Canberra, dimana saya menetap. Nggak lama kemudian respon dari beliau sangat senang dan menyukai artikel saya. Begitu juga respon yang sama saya dapat dari editor in chief-nya, mbak APW.Waktu mereka mengirimkan majalahnya, saya bahagia banget! Bahkan sampe loncat2an segala.. :D Apalagi waktu ngelihat hasilnya dan ngebaca artikel lengkap dengan foto-foto penunjang yang diabadikan oleh suami.
Jan Cornall, my Guru..
Saturday, 19/07/08, Me and my lil' fam (husband, the little prince Renzo n mom in law) left for Sydney. Around 11:30 am we arrived and went to Jan's house. Jan is my writing teacher when following writing workshops in Jakarta. From the beginning I arrived in Australia, me and Jan wants to meet each other.
Alhamdulillah after a few years we could meet again. Jan immediately greeted with a warm hug. Jan lived in a flat with her son. Funny thing is, when she offered us a drink or food. We chose the cold water. Suddenly she served biscuits and Teh Kotak Sosro. Yup, Teh Kotak. Hahaha..
Launching kumcer PPI-Australia


February 10, 2006, I was invited by PPIA (Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia/Indonesia Australia Student Association) to be a guest speaker at QB World Book Kemang, Jakarta. The event was attended by students from the PPIA, the general public and journalists.
PPIA held a short story contest. After that they collected these stories to be published in a book titled "SATU PERTANYAAN DARI SELATAN".
This is my first experience was a guest speaker. Exciting and memorable! :)
Juri-Aksi 30 Serenity
Tepatnya tanggal 15-20 Januari 2006, saya diundang untuk jadi juri perlombaan (lomba baca puisi n lomba menulis cerpen) yang diadain sama adek2 dari SMA Negeri 1 Depok.Thanks ya adek2 buat kenang2an ini.. ;)
Selamat berekspresi!
My first book
Publish a book is my dream. Thank God it's a dream come true.This is my first novel, SPRING OF LOVE. I wrote this novel just a month, while working on thesis. Honestly, this novel tells a little of my personal experience. Hehehe .. There is a desire to reprint, because quite a lot of demand. Is there a publisher who wants to reprint my novel? Hello ..?! :)
Sinopsi in Bahasa:
"Kala cinta datang, hati tak kuasa berkata. kala cinta pergi, jejaknya tergores dalam di hati. Begitulah cinta Kalila, cewek mandiri yang berkarir dan melajang di Inggris. Sementara bertahun-tahun Kalila menyimpan cintanya untuk Azka, ada orang lain yang tak henti-henti memberikan cintanya dan tak pernah pergi. Itukah cinta sejati?"
Sinopsis in English:
"When love comes, the heart was unable to say. When love left, traces etched in the hearts. That love Kalila, independent career women and single in the UK. For years Kalila kept her love for Azka, but there was another man who had not stopped giving his love and never left. Is that true love? "
-Inneke Basuki, penulis Oh No!-
Lihat, Baca, dan Resapi... Hmm, romantis! Banyak ungkapan puitis didalamnya.
Membuat kita terpaku hingga akhir cerita.
-Mya Ye, penulis Luv Me, Princess!-
Novel yang satu ini gak bakalan membuat kita mengerutkan dahi. Cara penuturannya nyantai dan mudah dipahami. Bahasanya yang nge-pop, menjadikan novel ini berkesan cerdas.
-Leonita Easter Patricia, penulis First Kiss-
Kalo komen dan saran dari saya: "Get tissue, please!"
Past..

Once, I had time to work in media companies. I worked as a writer, and an editor. I handled a number of magazines for 5 malls and 1 property magazine in Jakarta and Bogor. And I do not have a background in journalism, but advertising. Long before working in media companies, I had an internship at Ogilvy company for 3 months.
Me & I

Hi everyone, my name is De Veha.
This pen name was given after I published the first book in 2005, a novel titled chicklit SPRING OF LOVE. Have you ever read my book? Until now I had not published a book again. Oh, I hope someday. Because right now I'm much to write short stories, travel and parenting articles. Some of my writings have been published in various media in Indonesia & Australia.
I love writing a lot! This has become a part of my life and will become a lasting career. Btw, I am writing since junior high school. I remember when I used to follow writing competition and won several times. I used to write in a diary, and then continued to write poetry and short stories.
Anyway, I've blogging in MP. But then I rarely write blogs. For some reason after watching the movie "Julie & Julia" with my husband, I miss blogging. So finally I tried to write a blog here.
In this blog, I wanted to share my writing and my experience in the world of writing. In addition, I also want to add a lot of friends, especially who loves to write, too. Come write with love and sincerity!
Love,
dvh







