Dari 10 nominasi, testimonial ini salah satunya dan kemudian menang.
Ceritanya begini, ini sekalinya Papa saya sakit ampe sekarat saat beberapa minggu menjelang hari pernikahan saya. Saat itu Papa yang sosok tubuhnya tinggi tegap, sehat..tiba2 rapuh n' kelamaan tak berdaya.

Singkat cerita, alhamdulillah Papa lama-lama sehat berkat berobat alternatif dengan Pak Yosef. Dari situlah Papa mengkonsumsi beberapa produk K-Link. Nah, lalu Papa kasih tau kalo ada lomba ini. Nah, Papa kan kalo disuruh nulis cerita susah, jadi minta tolong saya. Pada intinya semua informasi dari Papa semua. Saya tinggal menggubah kata2 istilahnya, biar lebih mantap kalo dibaca..hehehe..
Lalu, karena testimonial ini termasuk finalis, maka sebelumnya Papa diwawancara disuruh cerita lagi di depan podium. Kalo disuruh ngomong mah, Papa jago banget dah! hehehe... Setelah itu, malamnya adalah Malam Grand Final. Selanjutnya tau kan? Eng ing eng.. "Pemenang ketiga adalah.." selanjutnya nama Papa dipanggil, padahal Papa lagi ngobrol di telpon n' kaget sendiri disuruh maju ke podium n jadi pemenang..hahaha..
Well, Pemenang pertama ke Cina (wah, kesian Mama-Papa gak ngerti bahasanya n susah cari makanan halal..hehehe), yang kedua ke Bangkok (Papa udah pernah kesana..tapi lagi-lagi alasan yg sama kayak sebelumnya). Emang Alloh SWT ngasihnya jadi pemenang ketiga ya, coz Papa dapet hadiah jalan-jalan ke Kuala Lumpur. Alhamdulillah.. Memang dari dulu Mama n Papa pengen banget ke KL. N' alhamdulillah saya bisa memberikan hadiah itu untuk mereka berdua..
TESTIMONIALNYA!:
Nama saya Nurul Perwirady Hady. Saya akan menceritakan kesaksian saya akan khasiat dari produk K-Link.
Usia saya memang hampir mencapai 60 tahun, selama itu pula alhamdulillah saya tidak pernah merasakan sakit yang akut hingga diharuskan rawat inap di rumah sakit. Paling hanyalah sakit biasa, seperti flu/pilek dan batuk ringan. Itupun, saya tidak pernah memanjakan diri untuk langsung pergi ke dokter, karena sejujurnya saya tidak terlalu percaya dengan dokter. Jadi, saya hanya minum beberapa obat untuk meredakannya ataupun saya diamkan saja.
Tahun lalu, entah mengapa seringkali tiba-tiba badan saya lemas. Saya merasa daya tahan tubuh saya menurun, ingin muntah karena mual dan tidak selera makan. Saya sedikit bingung dan khawatir. Pikiran saya saat itu, ah! mungkin saya hanya kelelahan. Tapi, saya tidak bekerja lagi dan lebih banyak menghabiskan waktu dirumah bersama istri serta anak-anak. Akhirnya, saya memberanikan diri dan mengalahkan ego untuk bertanya kepada teman yang merupakan seorang dokter. Namun dia hanya bilang “Kau itu tidak sakit, tapi terlalu banyak pikiran. Stress!”. Walaupun saya menganggap dia sedang melucu, tapi saya pikir ada benarnya juga.
Memang, saya sudah lama pensiun dan itu yang menjadi pikiran terberat saya. Saya memiliki lima anak perempuan, alhamdulillah tiga anak saya sudah menikah sekarang. Tetapi saya memiliki istri dan dua anak lagi yang masih harus menjadi tanggung jawab saya. Saya masih harus berusaha menafkahi mereka, terutama pendidikan untuk anak-anak saya. Saya ini orangnya tidak terbiasa meminta-minta, apalagi bergantung dengan orang lain. Maka dari itu saya telah berusaha kesana-kemari untuk mencoba berbisnis, namun beberapa kali tertipu. Bahkan pikiran terakhir, saya harus dapat menjual aset terakhir berupa rumah kami itu. Saya pun tidak ingin bertopang hidup dari pemberian anak-anak saya yang telah menikah ataupun bantuan dari saudara-saudara kandung saya. Jujur, saya malu! Hati saya menolak, karena saya yakin saya masih bisa berjuang demi keluarga. Pikiran-pikiran itu lah yang cukup mengganggu. Saya lebih banyak diam, berpikir, dan melamun walaupun ibadah tetap terus berjalan.
Setelah saya beberapa kali merasa lemas, saya pun mulai merasakan air seni tidak selancar seperti biasanya ketika saya buang air kecil. Lalu, sebentar-sebentar mau buang air kecil lagi yang esok-esoknya disusul dengan keluar darah. Seperti biasa, pertama-tama saya diamkan saja. Saya pun tidak memberitahu istri, apalagi anak-anak.
Suatu hari kira-kira bulan Agustus 2006, saya mengunjungi adik di Bandung. Ia bilang badan saya terlihat kurus. Tidak hanya dia yang mengatakan demikian, istri dan anak-anak pun kelamaan memperhatikan. Saat itu juga adik saya memaksa agar saya diperiksa ke dokter. Bujukan istri dan adik pun meluluhkan hati, saya diperiksa laboratorium dan hasilnya mengejutkan. Hasil laboratorium mengatakan saya mengidap penyakit GAGAL GINJAL. Dokter pun langsung menyarankan agar saya dirawat inap, tetapi saya menolak sarannya dan bersikeras untuk pulang ke Jakarta.
Seminggu kemudian, saya memutuskan untuk balik lagi ke Bandung menemui dokter tersebut. Ternyata kondisi badan saya sudah tidak kuat lagi, lemas! Pandangan saya gelap dan hampir tak sadarkan diri. Akhirnya saya dibawa ke rumah sakit. Besoknya saya harus menjalani cuci darah. Setelah diperiksa laboratorium untuk yang kedua kali, hasilnya pun sama, GAGAL GINJAL yang disebabkan oleh prostat. Berat badan saya yang semula 86kg, turun drastis menjadi 65kg. Sampai pada keputusan akhir, dokter menyatakan harus menjalani operasi prostat. Saat itu rasanya saya lebih baik mati bila harus dioperasi. Keluarga besar pun berdiskusi untuk memutuskan apakah mereka mendukung operasi tersebut. Hati kecil saya ingin menolak operasi itu, tetapi saya berpikir ulang kalau harus sembuh demi istri dan anak-anak. Sejuknya mata, cinta dan kasih sayang mereka yang membuat saya siap untuk dioperasi walaupun sempat berhari-hari saya menyimpan tangis yang dalam.
Alhamdulillah operasi tersebut lancar dalam beberapa jam. Namun, saya harus tetap menjalani cuci darah dua kali dalam satu minggu. Di rumah sakit tersebut, saya dirawat inap hampir satu bulan. Sungguh, itu sangat menyiksa saya terutama saat cuci darah berlangsung selama 4 jam. Saya menolak “cymino”, sebuah alat khusus berupa selang yang dapat langsung disambungkan ke dalam bagian tubuh. Saya bersikeras tidak ingin menggunakannya. Saya pun pernah tiga kali pingsan setelah cuci darah, juga saat proses cuci darah berlangsung saya hampir kehilangan kesadaran. Rasanya mau mati, sekarat! Di ruangan tersebut, seakan maut bisa kapan saja menjemput. Saya pun siap bila mana memang harus lepas nyawa saat itu. Saya sudah tidak tahan lagi, sakit!
Dilema hati antara hidup dan mati, ternyata Allah SWT masih mencintai saya. Berita bahagia datang dari anak saya yang ketiga, ia akan menikah. Kondisi saya saat itu memang belum stabil, bahkan saya belum diperbolehkan untuk pulang. Mendekati hari pernikahannya, ada semangat tinggi untuk dapat langsung menikahkannya. Saya tidak ingin melewati hari bahagianya yang sangat dinantikan itu. Saya pun memaksakan diri untuk hadir sesaat walaupun kateter terus menggantung di bagian tubuh saya. Sempat saya terpaku dan merasakan sedih yang teramat sangat, tapi saya sangat bahagia hari itu.
Sebulan kemudian kira-kira akhir Oktober 2006, seorang teman baik datang ke rumah untuk menjenguk. Ia menawarkan terapi holistic dan menjelaskan sedikit mengenai pengobatan tersebut. Saya langsung tertarik sebab saya ingin kembali sehat dan tidak mau ke dokter selamanya. Beberapa hari kemudian, tepatnya pada tanggal 8 November 2006 sekitar pukul 08.00 pagi saya dipertemukan dengan Pak Yosef Darma Rista dan istrinya, Enny Setyorini di klinik beliau “Fairuzholistic”. Mereka berdua mulai melakukan terapi terhadap saya, dengan kondisi saya yang saat itu masih menjalani cuci darah dua kali seminggu, masih menggunakan kateter, Hb 7.3, Ureum 108.2, Creatinine 16.1, dan Uric Acid 9.5. Saya ikuti seluruh terapi berupa Akupuntur, Koryo Sooji Chim, Bekam, Refleksi, Massage, Yoga, Diet, dan terapi lainnya dengan frekuensi awal tiga kali seminggu dan secara bertahap terus berkurang.
Dari terapi rutin tersebut, disitulah Pak Yosef Darma Rista dan istrinya, Enny Setyorini yang kebetulan distributor K-Link memperkenalkan saya dengan produk K-Link. Ia memberikan sedikit demi sedikit informasi mengenai produk ini. Kemudian, saya pun mencobanya.
Saya mulai mengkonsumsi Chlorophyl, Gamat Vitaplus, Omegasqua, Roibos Tea dan Propolis Platinum. Tidak hanya itu, saya juga memakai K-Link Kino. Saya ikuti terus sesuai petunjuk beliau dan berlangsung hingga bulan Desember 2006. Alhamdulillah setelah 2 bulan pemakaian, saya merasa lebih baik walaupun masih tetap menjalani proses cuci darah yang berkurang menjadi seminggu sekali hingga 10 hari sekali.
Bertepatan pada tanggal terakhir saya melakukan cuci darah, 19 Januari 2007, dengan mempertimbangkan kondisi saya tersebut yang sudah tampak lebih bertenaga, saya mulai menjalani terapi Colon dengan mengkonsumsi Riddance selama 10 hari berturut-turut. Selanjutnya pada tanggal 1 Februari 2007, saya mulai mengkonsumsi produk Ayurverda, antara lain: Ayurin, Ayulite, Ayuarthis, dan Ayulax. Pada terapi ke 23, tanggal 15 Februari 2007, saya mendapatkan berita yang menggembirakan hati bahwa berdasarkan data lab, saya benar-benar tidak perlu lagi menjalani cuci darah.
Saya merasakan benar khasiat produk K-Link dan terapi pada tanggal 29 Mei 2007 menjadi terapi saya yang terakhir. Kondisi tubuh saya lebih baik dari pada sebelumnya. Saya sudah mampu bepergian jauh selama beberapa hari hingga keluar kota, berlibur bersama keluarga tercinta, kembali berbisnis, berolah raga, hingga mengendarai mobil sendiri, dan aktivitas lainnya yang sempat tidak bisa saya lakukan selama beberapa waktu. Sampai pada hari ini pun, saya tetap mengkonsumsi produk K-Link tersebut dan menjalani terapi diet. Alhamdulillah akhirnya selama 8 bulan ini saya tidak lagi menjalani cuci darah yang sangat menyiksa itu.
Inilah hasil yang saya dapatkan dari khasiat produk K-Link. Saya sadar, ini semua kehendak-Nya dan jalan dari-Nya. Dengan kegigihan saya untuk dapat sembuh dan kembali pulih. Semua itu pun juga karena dukungan istri, anak-anak dan keluarga besar yang mempengaruhi semangat saya untuk berjuang hidup.
Jakarta, 5 Oktober 2007