Notebook: De Veha

Writing is my passion..my love!


Friday, February 26, 2010

Artikel "Sejuta Cinta Dari Bunda" - majalah Parenting Indonesia



Thanks to Mbak DP.

The story is dedicated to my gorgeous son, Renzo..
..about you and me..about showing the amounts of love to you my dear.. :)

SEJUTA CINTA DARI BUNDA
oleh Devi Nurvitriyani Hady

Lega. Kepuasan ketika melihatnya pertama kali dalam dekapan dada. Tubuh mungilnya pun masih tercium harum darah segar. Bahagia, tentu saja. Semua merupakan pengalaman yang pertama. Mengandungnya selama 9 bulan, melahirkan dan mengasuhnya. Saya pun tak ingin menukar pengalaman itu dengan yang lainnya. Tak ingin pernah jauh walau sedetik. Buah hati bunda…buah hatiku sayang, Renzo (Muhammad Renzo Abrar, 15 bulan).

Kami menetap di Canberra, Australia. Tinggal di negeri asing, juga merupakan pengalaman pertama saya terutama untuk hidup mandiri. Gaya hidup orang Australia ini kelamaan menjadi kebiasaan. Jadi, jangan dikira ada pengasuh yang membantu pekerjaan rumah tangga. Tidak. Selain berbagi tugas dengan suami, selebihnya saya mengerjakan sendiri terutama ketika suami pergi bekerja. Begitu juga dengan hal mengasuh Renzo. Capek? Ya, saya akui amat sangat kelelahan. Tetapi beban berat yang bertumpu di pundak saya, terbayarkan dengan begitu banyak waktu yang dimiliki bersama dengan Renzo. Lebih dari cukup, alhamdulillah.

Waktu demi waktu saya nikmati dengannya. Dimulai dari dirinya bangun pagi dan melakukan aktifitas hingga tertidur lagi di malam hari. Perkembangannya yang semakin hari terus bertambah dan kepandaiannya yang tak luput dari pandangan, membuat saya begitu mensyukuri nikmat yang diberikan-Nya.

Namun mendadak chicken pox atau cacar air datang menghampiri tanpa diundang. Kesal! Perasaan yang muncul pertama kali ketika sang dokter UGD memberikan statement-nya. Lagi-lagi kesal. Saya diharuskan segera menjauh dengan Renzo. Saya diharuskan pisah kamar dengannya. Dokter mengatakan kalau saya tidak harus pisah rumah sebab Renzo sudah terekspos sehingga ada kemungkinan terkena cacar air juga. Namun kalau pun diharuskan pisah rumah bahkan untuk beberapa hari, pasti saya akan terkena penyakit yang lebih parah lagi. Depresi dan stress berat. Saya tak mampu untuk berpisah lama dengan Renzo.

Dengan berat hati, kemudian saya terisolasi sendiri di kamar utama. Hari pertama setelah dinyatakan terkena virus tersebut, seakan waktu berdua saya dengan Renzo berhenti begitu saja. Suami dan Ibu mertua yang meminta cuti bekerja pun akhirnya mengambil alih untuk bergantian mengasuh Renzo.
Sedih! Saya hanya bisa mendengarkan suaranya melalui rongga dinding kamar tanpa melihat wajahnya sekalipun. Pasti Ia sedang menonton TV channel ABC Kids atau bermain dengan kereta Thomas favoritnya, pikir saya. Kadang sesekali Ia memanggil-manggil saya, “..Nda..Ndaaa..” panggil bunda maksudnya. Saya pun membalas panggilannya. Kalau saja saya tidak sakit, pasti saya sudah bersamanya dan sedang asyik bermain di dunianya. Tetapi saya berusaha untuk sabar dan tidak banyak mengeluh. Karena saya yakin, mungkin Tuhan memberikan saya waktu untuk dapat beristirahat sejenak dan terlepas dari segala kelelahan.

Hari ketiga. Saya sudah tidak tahan lagi menahan rindu untuk melihat wajah pangeran kecil, Renzo. Saya selalu bertanya pada suami tentang aktifitas Renzo setiap harinya. Saya juga meminta suami untuk membawanya bermain di balkon apartemen kami. Renzo langsung mendatangi dan mengetuk-ngetuk kaca jendela. Kami berkomunikasi melalui jendela kamar tidur yang menjadi satu dengan balkon. Walaupun saya hanya dapat melihatnya melalui kaca jendela, saya senang sekali. Ia langsung memanggil-manggil dan mencium saya dari balik jendela. Haru. Seorang bunda yang sadar kalau tiga hari terasa begitu lama bak setahun.

Nangis. Air mata tak sempat membendung lama di pelupuk. Saya menangis karena sangat terharu, terutama ketika melihat kepandaian barunya yang kali ini luput dari pandangan saya. Biasanya saya selalu menjadi yang pertama kali mengetahui seluruh kepandaiannya, tetapi kini suami yang memberitahu kalau Renzo sudah pandai berjalan. Ya. Sebelum saya terkena cacar air, Renzo sedang belajar melangkah, tertatih-tatih 4 sampai 9 langkah. Subhanallah, kini Ia bahkan sudah lancar berjalan. Kakinya telah kuat menopang tubuh. Dengan berani dan percaya diri Ia berjalan menuju Ayahnya. Kalau saja saya bisa, saat itu rasanya saya ingin segera keluar dari kamar dan memeluknya erat. Sayang sekali, saya harus menunda keinginan saya.

Kerinduan saya untuk dekat dengannya semakin memuncak ketika menjelang seminggu. Rasanya saya tak kuasa lagi bila harus menunggu waktu, menghitung hari sampai benar-benar sembuh. Ketika saya hanya menghabiskan waktu sendiri di kamar, saya banyak menangis. Air mata ini keluar begitu saja. “Ya Allah...saya amat merindukannya. Merindukan waktu ketika bersamanya, berdua saja. Izinkan saya untuk segera sembuh dan dekat kembali dengan Renzo”, pinta saya pada-Nya dalam hati berulang-ulang. Mungkin hal ini juga dirasakan oleh Renzo, sebab dirinya sudah cukup lama tidak bersama saya seperti biasanya. Ia mulai sering “mengamuk” dan rewel tanpa sebab yang jelas. Kadang sampai memukul-mukul kepalanya tanda kesal. Kebiasaan tidurnya yang memang tidak sulit, kini harus dimulai dahulu dengan tangisan meringis. Ibu mertua dan suami pun menjadi bingung dengan tingkahnya. Kasihan Renzo.
Hari kesembilan, Ayahnya kembali mengajaknya ke balkon agar dapat melihat saya. Kami sempatkan berlama-lama untuk bermain. Sebelum suami membawanya kembali ke dalam, Renzo tidak lupa untuk melambaikan tangannya dan kiss bye pada saya sembari berkata “da...daa...baa...bay...”.
Esok sudah memasuki hari kesepuluh. Lagi-lagi saya masih harus menunda untuk dekat dengan Renzo. Hati kecil saya amat sangat sedih dan tidak tega melihat Renzo berlama-lama jauh dari saya, bundanya. Ketika dirinya memanggil saya dari balik pintu kamar, saya pun bilang berkali-kali “Sabar ya nak…bunda sebentar lagi sembuh. Renzo, be nice ya sayang...” Saya mencoba untuk memberikan pengertian padanya. Saya akui, saat itu saya menangis lagi. Bagaimana tidak? Bayangkan saja, saya dan Renzo berkomunikasi hanya melalui pintu kamar dan bahkan kaca jendela.

Hari kesepuluh. Saya mulai untuk membuka pintu kamar, namun belum memberanikan untuk keluar dan dekat dengannya. Pintu kamar yang terbuka lebar, dibatasi dengan pagar pembatas. Walaupun Renzo tidak dapat memasuki kamar, saya hanya ingin Ia tetap bisa melihat saya. Saya ingin dirinya tahu bahwa saya tidak meninggalkannya. Saya masih dekat dengannya walau tidak secara fisik. Renzo tampak bahagia ketika dirinya bebas melihat saya. Sesekali Ia tunjukkan kepandaiannya berjalan, bahkan menari saat terdengar musik dimainkan di televisi.

Malam hari kesebelas. Saya dan suami memutuskan agar keesokan harinya saya mulai kembali untuk bersama dengan Renzo. Memang saya belum pulih benar dan masih harus menunggu seminggu lagi. Namun keputusan yang kami buat semata-mata demi Renzo, bukan disengajakan untuk menularkan chicken pox. Tidak. Saya dan suami hanya tidak tega melihat Renzo terus menuangkan kekesalannya karena tidak dapat dekat dengan saya.

Malam itu, dapat dibayangkan bagaimana perasaan saya sebagai seorang ibu. Gugup, bingung, senang. Saya mendadak sulit tidur karena sibuk menghitung detik-detik untuk dekat dengan Renzo. Gemetar menanti penantian esok hari. Perasaan ini lebih dari ketika menunggu pengumuman hasil ujian sidang skripsi, lebih dari ketika sedang jatuh cinta, bahkan lebih dari itu. Saya tak mampu untuk mendeskripsikannya.

Hari yang ditunggu pun tiba, tepat hari keduabelas. Sang suami membangunkan. Saya hanya tertidur tiga jam saja tadi malam. Itu pun seperti tidur ayam. Kemudian, sayup-sayup saya dengar suara keriangan Renzo dari balik pintu kamar. Saya bergegas bersiap diri untuk bertemu dengannya secara fisik. Saya tak sabar ingin cepat melangkah keluar kamar. Detak jantung seakan mendadak begitu cepat dan tak terkendali. Saat pintu kamar dan pagar pembatas terbuka, saya panggil Renzo. Saya menghampirinya. Saat itu juga saya lihat wajah cerianya dengan tawa lebar sembari berjalan kearah saya, memeluk dan mencium bundanya.

Sungguh! Adegan yang paling mengharukan. Rasanya hati akan meledak begitu saja untuk mengeluarkan seluruh perasaan yang bercampur aduk dan yang telah lama terpendam. Renzo kembali dalam pelukan saya. Lagi, saya tak dapat menahan tangis. Suami pun ikut memeluk saya dan Renzo.
Beberapa hari kemudian, saya dan suami mengetahui bahwa kini giliran Renzo yang terkena cacar air. Saya memperhatikan timbul bintik-bintik merah di kulitnya yang kemudian semakin banyak. Walaupun sedih karena dirinya tertular, namun saya tidak perlu khawatir karena saya tidak lagi jauh darinya. Saya akan merawatnya dengan sepenuh hati kapanpun saat dirinya sakit ataupun tidak.

Setiap kali melihatnya tertidur, dirinya begitu damai. Saya menikmati saat-saat seperti ini. Melihat mata kecilnya yang tertutup rapat, bibir mungil dan indahnya saat mendengar hembusan nafas lembutnya. Saya bisikkan ke telinganya “Bunda akan selalu disini...dekat denganmu, Renzo…” Saat itulah saya rasakan kenikmatan dari-Nya yang luar biasa. Alhamdulillah...

Saya sadar benar, betapa berharganya waktu berdua saya dengan Renzo. Betapa berharganya kedekatan kami, seorang bunda dan buah hatinya. Saya sangat bahagia menjadi istri sekaligus ibu yang memiliki banyak waktu untuk memberikan sejuta cinta dan kasih sayangnya bagi keluarga. Saya ingin kedekatan ini akan terus berkekalan hingga nanti. Karena bunda mencintaimu, sayang…

No comments:

Post a Comment