Notebook: De Veha

Writing is my passion..my love!


Thursday, January 12, 2012

Artikel "Taman Mini Cockington Green" - Majalah Liburan


Artikel saya yang dipublikasikan di awal tahun 2012 oleh majalah Liburan edisi Januari 2012. Baca ya! :)
 

 

Teks: De Veha
Foto: Riko Abrar

TAMAN MINI COCKINGTON GREEN
CANBERRA, AUSTRALIA

          Banyak orang telah mengenal Canberra sebagai Ibu kota negara Kangguru, Australia. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa ibu kota yang penduduknya hanya berjumlah tiga ratusan ribu tersebut memiliki tempat-tempat wisata yang wajib di kunjungi. Salah satu yang menarik adalah taman Cockington Green.
         
Cockington Green
Dari namanya saja, taman luas yang dipenuhi pepohonan dan rumput hijau. Pasti indah sekali. Canberra memang banyak memiliki taman-taman di tengah kota yang luas. Rasanya nikmat sekali bila jalan-jalan di pagi hari atau sore, bahkan hanya sekedar duduk-duduk saja di taman. Yang menarik, Cockington Green bukanlah hanya taman yang biasa dipenuhi oleh berbagai macam jenis tanaman, tetapi lebih dari itu. Lalu apa yang membuat Cockington Green menjadi salah satu daya tarik wisata Canberra? Rahasianya adalah taman cantik ini dihiasi dengan puluhan ribu jenis tanaman dan aneka miniatur bangunan yang khusus ditata sedemikian rupa.

Sejak dibuka untuk publik pada tahun 1979, penataannya selalu berkembang secara terus menerus. Penasaran seperti apa bentuk tamannya? Ketika sampai, saya disambut oleh berbagai macam jenis bunga mawar yang tumbuh di sepanjang jalan kecil menuju pintu depan sebuah rumah lama bergaya Inggris. Sebelum memasuki area taman di belakang rumah, saya harus membeli tiket masuk terlebih dahulu. Dalam rumah tersebut juga ada toko kecil yang menjual beberapa suvenir. Setelah membayar dan keluar menuju belakang rumah, barulah saya dapat memasuki taman Cockington Green yang sebenarnya. Cockington Green terbagi menjadi dua area, yakni The Original Display Area and The International Display Area.
         
The Original Display Area
Saya mulai mengitari jalan kecil di wilayah taman yang pertama ini. Mata saya terbelalak karena disejukkan oleh berjuta tanaman hijau, bunga-bunga berwarna, serta miniatur bangunan yang dilengkapi aneka miniatur kendaraan dan manusia yang tertata sangat apik. Ada miniatur Baraemar Castle yang terdapat di Skotlandia, miniatur lapangan bola yang dilengkapi dengan riuh suara penonton, the famous Stonehenge dari Inggris, hingga terdapat bentuk khusus berupa hand cut Turf Maze dalam bentuk labirin.
         
Dalam area ini juga terdapat kolam kecil yang seolah-olah merupakan sebuah sungai atau danau yang digenangi beberapa boat. Air terjun buatan juga ada. Bahkan miniatur kereta api menghiasi taman ini sesuai dengan train time table yang ada. Saya pun juga dapat menggerakkan miniatur lainnya dengan cara hanya menekan tombol sesuai petunjuk. Tidak hanya nikmat di pandang tetapi juga fun kan?
         

The International Display Area
Setelah melihat-lihat The Original Display Area, saya memasuki The International Display Area. Pastilah sudah terbayang area taman seperti apa yang satu ini. Ya, ini area taman yang menjadi perwakilan dari negara-negara di dunia. Pertama kalinya area ini dibuat pada tahun 1998 yang diawali oleh beberapa dari kedutaan besar. Lebih dari 20 negara di dunia ikut berpartisipasi mensponsori pembangunan miniatur untuk mewakili negaranya masing-masing. Penataan tersebut pun berkembang sehingga tidak hanya berupa miniatur kedutaan besar saja, melainkan menonjolkan penataan multicultural dari tiap negara. Lihat saja, ada Karlstejn Castle dari Czech Republic, The Trakai Castle dari Lithuania, Chateau of Bojnice dari Slovakia, dan beberapa miniatur baru dari negara lain seperti Korea, Turki, serta Jordania yang bangunannya bernama The Treasury Petra serta masih banyak negara lainnya yang baru bergabung. Satu lagi yang tidak ketinggalan adalah ciri khas dari tanah air Indonesia, Candi Borobudur yang terpajang sebagai pembuka awal di area ini. Begitu bangganya saya melihat Candi Borobudur walau hanya berupa miniatur.
         
Dari kedua area taman ini, setiap miniatur terdapat papan kecil yang menceritakan sedikit mengenai miniatur yang terpajang tersebut. Jadi, dengan begitu saya akan tahu history nya. Sambil berwisata, sambil belajar juga tentunya.
         
Unik dan Tak Biasa
Yang juga menarik perhatian saya, adalah keberadaan beberapa tanaman berwarna merah hingga ungu tua berupa rangkaian tanaman sejenis cabe rawit yang sengaja ditanam menghadap ke atas. Setahu saya, tanaman cabe rawit pasti melengkung ke bawah. Tapi ini tidak, semuanya lurus tumbuh menghadap langit biru. Sungguh hebat orang yang menata tanaman-tanaman ini sehingga sangat menarik perhatian.   
         
Cockington Green pun tidak hanya dihiasi oleh tanaman-tanaman tersebut, tetapi juga memiliki sesuatu yang menarik lainnya untuk dilihat. Terdapat ruangan pameran yang disebut Rose Room indoor exhibiton. Disini dapat kita lihat aneka barang-barang miniatur di mulai dari peralatan rumah tangga sampai koleksi boneka yang memakai pakaian tradisional dari negara-negara di dunia.   
         
Bila masih belum puas untuk menikmati taman ini, kita bisa berkeliling dengan menggunakan kereta api mini yang tersedia bagi para pengunjung. Biasanya anak-anak gemar sekali menaikinya. Hanya dengan koin $2 Australia, saya dapat mengelilingi taman satu kali sambil memandangi taman cantik Cockington Green.
         
Setelah sedikit lelah mengelilingi taman Cockington Green, saya pun dapat istirahat sejenak dan menikmati secangkir kopi panas di Parsons Nose Garden Café baik dari dalam maupun luar café. Lebih nikmat apabila duduk diluar café, lengkap dengan pemandangan yang cantik dan udara yang sejuk saat musim semi.
         
Taman yang pernah mendapatkan penghargaan National Tourism Award ini, dihiasi hampir 35.000 bunga yang di tanam setiap tahunnya agar semakin terus berwarna. Dengan demikian, pengunjung seperti saya akan dimanjakan dengan beraneka ragam jenis bunga dan dedaunan yang tersebar. Pemandangan indah yang kaya akan nilai historisnya dan sangat berkesan.

Cockington Green. Taman cantik yang selalu lekat dan menyejukkan hati. Pengunjung pun tiada henti berdatangan, baik turis lokal maupun manca negara. Bahkan diantara mereka rela beberapa kali menyempatkan hanya untuk  berkunjung. Taman ini memberikan keindahan yang dapat membuat betah bagi setiap pengunjungnya. Tidak heran bila taman yang beroperasi hingga empat generasi ini, dapat dikatakan sebagai a wonderful Canberra Icon. Jadi, kapan giliran Anda akan berkunjung?
         
           

Book 4 - Antologi "Suka Duka Hidup di Australia"

Buku antologi yang saya tulis bareng teman-teman FLP (Forum Lingkar Pena) Australia.
Buku ini cocok bagi yang akan tinggal sementara (kuliah, kerja, dll) atau permanen di Australia.Tulisan saya berjudul "Suka Duka Hari Raya di Canberra"

Penulis: Nawa Aziz, De Veha, dkk.
Foto Cover: Riko Abrar.
Penerbit: Indiva Media Kreasi (indivamediakreasi.com)
Harga: Rp. 36.000 (Indonesia) / $10 (Australia-termasuk ongkir). Pemesanan wilayah Australia, hubungi flpaustralia@yahoo.com.au





"Buku ini dapat menjadi sumber informasi dan inspirasi bagi pembaca, khususnya masyarakat Indonesia yang akan berangkat maupun tiba di Australia, karena bekerja maupun menuntut ilmu" (Primo Alui J, Duta besar untuk Australia dan Vanuatu)

"Informatif! Inilah buku panduan belajar dan hidup yang lengkap bagi mahasiswa/i Indonesia yang akan dan sedang melanjutkan studi ke benua Australia, lengkap dengan kisah suka dan duka yang memperkaya jiwa" (Habiburrahman El SHirazy, penulis mega bestseller dan Sutradara)


"Travelling to a strange new country to study or work can be a disconcerting and confronting experience. When everything you took for granted is replaced by the textures of the unknown where can you go for comfort? Through the stories of others who have gone before, this helpful book provides practical knowledge and useful information in hopeful and heart warming accounts of ‘arriving and surviving’ in Australia. A ‘must read’ for Indonesians thinking of staying a while in Oz. “ (Jan Cornall, Writer-Performer-Teacher and Traveller based in Sydney, Australia)


"Mencermati kiprah anak bangsa di Australia, sungguh membuat kita adakalanya ikut larut dalam sukaduka, kisah-kasih dan kisuh misuh; bagaimana mahasiswi sebagai istri, sebagai ibu muda dan hamil, atau para lelaki pengikut istri dan seribu lakon, semuanya sangat menginspirasi. Tiada kata selain: Selamat ya dengan buku inspiratif ini!" (Pipiet Senja, penulis senior)


Sinopsis:
Letak geografisnya yang bersebelahan dengan Indonesia, keindahan alamnya, juga perbedaan budaya karena masuk negara Barat, menjadikan Australia memiliki daya tarik untuk dikunjungi warga Indonesia.

Memiliki universitas yang punya ranking cukup baik di tingkat dunia berikut fasilitas belajarnya: perpustakaan dengan koleksi baik buku cetak maupun akses elektronik, kualitas pengajar, ilmu-ilmu baru dan up-to-date serta kesempatan bertemu dan membangun jaringan dengan banyak kolega dari mancanegara, sehingga tak heran jika warga Indonesia menempati tingkat persentasi tertinggi (12%) sebagai perantau di Australia.

Dan inilah kisah-kisah orang Indonesia yang bermukim di Australia. Mulai dari student yang menuntut ilmu disana, maupun yang menetap secara permanen. Di buku ini, akan kita temukan pengalaman-pengalaman sehari-hari mereka yang membuat mata kita tiba-tiba basah karena haru, bibir menyungging senyum, juga aplaus penuh kekaguman.

Dari mulai nude food policy yang membuat kita malu, sistem pendidikan yang membuat kita kagum, pengalaman pindahan rumah dan berburu akomodasi yang ribet, saat terkena denda karena salah parkir, suasana Ramadhan dan Lebaran yang mengharukan, hingga cara mengatasi stres dengan memancing, gardening, dan camping!

Wednesday, January 4, 2012

Artikel "Summer Breeze at Broulee North Beach"

Halo!

Selamat Tahun Baru 2012!

Sebelum tahun baru, saya jalan-jalan bersama keluarga ke pantai Broulee North yang letaknya di daerah Batesman Bay, NSW. Cerita perjalanan saya ini, dipublikasikan di website khusus parenting. Namanya momsguideindonesia.com

Yuk, baca cerita saya mengajak Renzo main di Broulee North Beach!
Atau bisa diunduh di:
http://momsguideindonesia.com/summer-breeze-at-broulee-north-beach.html


Summer Breeze at Broulee North Beach

​Summer holiday, waktu liburan terpanjang yang selalu ditunggu-tunggu terutama bagi anak-anak. Untuk mengawali liburan kali ini, saya dan suami mengajak Renzo (4 tahun) ke pantai terdekat dari Canberra.​Minggu lalu, kami berangkat bersama dengan rombongan teman-teman yang membawa serta keluarga. Kebetulan, hari itu adalah hari Natal sehingga jalanan sangat sepi dan di pantai pun tak ramai.

​Saya dan keluarga berangkat dari Canberra pukul 6.30 pagi. Kami berkumpul di Blackall Park terlebih dahulu dan kemudian 6 mobil konvoi beranjak menuju Batesman Bay. Mobil kami berada paling depan sebagai pemandu jalan.

​Perjalanan dari Canberra ke Batesman Bay membutuhkan waktu sekitar 2 jam lebih. Pemandangan kiri dan kanan selama perjalanan tak membosankan sebab terlihat hamparan luas tanah peternakan yang sedap dipandang. Kemudian, mobil kami memasuki hutan yang dipenuhi pohon ekualiptus. Jika beruntung, kadang kita bisa lihat koala yang sedang bertengger untuk makan daunnya.

​Jalanan mulai berkelok-kelok dan menukik tajam turun naik. Jalanan seperti ini bisa membuat mual dan pusing. Untunglah Renzo tertidur pulas lagi setelah sarapan roti croissant yang di bawa, sebab ia saya bangunkan lebih awal dari jadwal bangun tidur biasanya.

​Sekitar pukul 10.30, kami tiba di Batesman Bay. Namun mobil kami tak berhenti. Suami meneruskan perjalanan untuk membawa kami ke pantai yang berada di luar Batesman Bay, namanya pantai Broulee North Beach. Letaknya 20 kilometer di selatan Batemans Bay. Pantai ini merupakan pantai favorit para turis dan sangat ideal ideal untuk keluarga. Cuaca pun sangat bersahabat, tidak panas dan tidak pula dingin, namun angin cukup kencang. Sebelum bermain di pantai, kami makan siang bersama di area piknik dengan menggelar tikar.

​Setelah makan siang Renzo tampak bersemangat sekali, ia segera berlari ke pantai sembari berteriak “I’m ready to catch a wave!. Sesekali ia tunjukkan gaya surfing yang sering ditonton di salah satu program acara ABC Kids favoritnya. Kadang ia juga bermain bola dengan teman-teman sebayanya dan melompat-lompat diatas gelombang air laut dengan tawanya yang membahana.

​Hampir dua jam di pantai Broulee North, kami beranjak ke Batesman Bay. Di sini, kami mampir di sebuah taman dekat dengan kapan-kapal yang merapat. Sebelum kembali ke Canberra, kami sempatkan untuk berfoto. Saya dan suami pun niat untuk foto berdua saja dengan menggunakan timer. Ketika timer sudah dinyalakan dan siap beraksi di depan kamera, tiba-tiba Renzo berada di depan kamera sehingga menghalangi kami. Saya dan suami tertawa terbahak-bahak dengan kejahilannya, untung saja hasilnya memuaskan!


Tips:
1. Perhatikan cuaca sebelum berangkat, terutama di negara 4 musim.
2. Sarapan dan makan siang penting, agar anak-anak tak rentan sakit.
3. Pakai sunscreen untuk melindungi kulit dari teriknya sinar matahari Australia yang menyengat.
4. Siapkan kotak P3K.
​   ​