
Artikel perjalanan terbaru saya, yang dipublikasikan oleh Majalah UMMI pada edisi Spesial UMMI Maret 2010.
[artikel ini sudah di edit oleh pihak UMMI dan demi kenyamanan membaca karena ada beberapa kesalahan cetak, telah di edit ulang oleh saya, penulis]
Kota sepi namun unik. Mungkin inilah julukan yang tepat untuk Canberra. Penduduk ibukota Australia ini hanya berkisar tiga ratusan ribu orang. Kalah jauh dibandingkan lima kota besar lainnya di negeri Kanguru. Ukurannya yang kecil mungkin tidak menjadikannya tempat favorit untuk melancong. Tapi tunggu dulu, di Canberra tersimpan bermacam keunikan tersendiri.
Sejarahnya saja unik. Kota ini merupakan hasil sayembara internasional yang diadakan pemerintah untuk menetapkan ibukota. Syaratnya, kota harus menjadi kota taman dengan danau di pusat kota. Tidak heran kalau Canberra dijuluki “the bush capital” sebab kaya akan taman yang luas, dikelilingi bukit-bukit sebagai habitat kanguru yang hidup liar dan danau-danau yang menghiasi kota.
Pemenang sayembara ini adalah seorang arsitek dari Amerika, Walter Burley Griffin, kemudian namanya diabadikan untuk salah satu danau “Lake Burley Griffin” yang terkenal dengan water jet-nya.
Kata Canberra sendiri berasal dari bahasa aborigin, “Kanbarra” yang berarti tempat pertemuan. Pada tahun 1913, kota ini diberi nama oleh Lady Denman-istri seorang gubernur pada saat itu.
Keunikan lain, adalah luas Canberra yang tergolong mini untuk ukuran ibukota. Ia hanya menduduki peringkat ke-delapan. Lalu bagaimana bisa Canberra menjadi ibukota Australia?
Sebelumnya Sydney dan Melbourne bersaing untuk menjadi ibukota, akhirnya Melbourne lah yang terpilih menjadi ibukota sementara. Namun dikarenakan Canberra berada ditengah-tengah antara Sydney dan Melbourne, maka pada tahun 1972 pemerintah menetapkan bahwa Canberra yang menjadi ibukota negara sebagai hasil dari kesepakatan antara Sydney dan Melbourne.
Saya disambut hujan lebat ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota yang ternyata tak memiliki bandara internasional ini. Terang saja, saya datang saat menjelang musim gugur. Udara dingin dan angin pun kadang menyerbu terutama pada malam hari. Ini tak mengherankan karena Australia memiliki empat musim, sama seperti negara bagian Eropa dan Amerika. Namun yang membedakan hanyalah waktu. Ketika musim dingin terjadi pada akhir tahun di negara bagian Eropa dan Amerika, maka di Australia terjadi pada pertengahan tahun. Meski salju jarang sekali turun di Canberra.
Bulan ini hingga Mei nanti, musim gugur kembali datang. Rerumputan, pepohonan, dan bunga-bunga berubah warna namun tetap cantik dipandang. Kelamaan menjadi kuning, orange, jingga, merah tua, hingga kecoklatan dan berguguran. Ah, indahnya..
Selain musim gugur yang indah, kota ini pun dikenal sebagai kota pendidikan. Canberra memiliki lima kampus, salah satunya ANU (Australian National University) yang tercatat sebagai peringkat 16 besar di dunia. Tak heran jika banyak pelajar Indonesia yang mengenyam pendidikan disana.
Festival dan Tempat Wisata
Menjelang musim gugur, kita disambut dengan berbagai festival, salah satunya Ballon Fiesta. Disusul dengan festival lainnya yang berlangsung setiap tahun. Pada Festival Ballon Fiesta, beragam balon udara diperlihatkan dan siap terbang. Kami pun tak segan bangun dini hari untuk menyaksikannya lebih awal. Balon terbang ini boleh dinaiki, tapi kita harus punya tiket terlebih dahulu. Itu pun harus dipesan jauh-jauh hari sebelumnya. Sayang, festival ini sangat bergantuung dengan udara dan angin, bila angin tak menyapa jangan harap bisa terbang.
Selain balon udara, kami disuguhi aneka jajanan terutama khas Australia yang berada di pinggir-pinggir area. Sebut saja meat pie dan sausage roll, mmmh..yummy. Apalagi ditemani secangkir kopi panas. Tak jauh dari area tersebut, penyelenggara menyediakan café-café dadakan. Jadi jika lapar, langsung tancap gas kesana. Selain cafe ada juga bangunan-bangunan kecil berbentuk balok yang berdiri tegak. Ternyata itu adalah toilet umum. Hebat, fasilitas umum ini berjejer dengan rapi.
Toilet boleh diacungi jempol, tapi bagaimana dengan fasilitas lainnya? Jangan khawatir, fasilitas umum di Canberra amat mudah dan nyaman, terutama bagi pengendara sepeda, pejalan kaki, dan para penyandang cacat. Transportasi umum yang biasa digunakan adalah bis dan taksi. Sedangkan kereta api hanya untuk bepergian ke luar kota.
Macet? Tak ada tuh dalam kamus Canberra, karena penduduknya memang sedikit jadi tak perlu desak-desakan seperti di Jakarta. Imbasnya, udara yang bersih tanpa polusi dan kota yang ramah lingkungan. Alhamdulillah, saya merasa begitu dimanjakan dan betah tinggal disini.
Festival yang juga paling dinanti adalah Floriade. Festival yang berlangsung selama satu bulan ini akan menyajikan jutaan jenis bunga. Pemandangan yang menyejukkan mata ini sangat pas untuk dinikmati sekeluarga saat musim semi. Tak hanya bungan yang ditampilkan, beragam atraksi selalu berganti setiap harinya. Jika membawa si kecil, Anda tak perlu khawatir, panitia menyediakan arena bermain khusus anak-anak dan yang paling digemari adalah face painting.
Pada hari jadi Canberra yang jatuh pada 8 Maret lalu, kami disuguhkan beragam atraksi. Mulai dari akrobat pesawat, pameran, musik dan tarian, serta olahraga air. Acara puncak Celebrate in the Park di gelar di pinggir Lake Burley Griffin, untuk menyaksikan fireworks yang megah pada pukul 9 malam. Agar dapat spot yang terbaik untuk melihat fireworks, kami rela datang lebih awal dengan membawa peralatan piknik.
Selain festival, Canberra memiliki banyak tempat wisata yang menarik. Misalnya Old Parliament House yang sekarang dijadikan museum dan new Parliament House tempat “perdebatan” antara perdana menteri dan oposisi. Ada juga Australian War Memorial, sebagai museum pahlawan yang kaya akan nilai historis dengan atap bangunannya seperti kubah. Bangunan cantik dan karya seni juga dapat kita nikmati di setiap sudut jalan.
Ingin melihat Canberra secara keseluruhan, 360 derajat? Yuk, kita naik ke sebuah monumen, lebih tepatnya menara sebagai one of the most symbolic landmarks di Canberra, Telstra Tower. Disini kita dapat melihat pemandangan tata kota Canberra yang indah. Lengkap dengan lekuk dan seluk kotanya.
Dari semua tempat wisata yang ada, yang paling wajib dikunjungi adalah Cockington Green. Sebuah taman luas yang dihiasi dengan berbagai miniatur bangunan dan ciri khas tiap negara-negara. Bahkan, candi borobudur mini ikut andil menghiasi taman ini. Beragam tumbuhan termasuk bunga aneka warna yang berjumlah hampir 35.000 bunga bisa ditemui disini. Itulah kenapa Canberra disebut dengan the bush capital.
Komunitas Indonesia
Canberra dihuni oleh beraneka ragam penduduk, mulai dari suku asli aborigin, para imigran asal negara Eropa sampai Asia termasuk Indonesia. Tidak hanya pelajar Indonesia, banyak pula warga Indonesia yang telah lama menetap di Canberra baik yang berstatus citizen atau permanent residence seperti saya.
Kota yang kecil membuat kekerabatan di antara individu begitu erat, khususnya sesama muslim. Perayaan besar seperti shalat Idul Fitri sering dilakukan di masjid-masjid dan di KBRI Canberra. Seluruh kegiatan umat muslim di Canberra dilakukan di Masjid Canberra. Kami memiliki beberapa organisasi islami yang dibentuk demi menambah keimanan dan tali silaturahim. Misalnya TPA Ceria Canberra dan pengajian AIMF-ACT
Hmm..saatnya hunting oleh-oleh. Ketika ada kerabat dan teman kesini, saya pasti akan membawa mereka untuk membeli oleh-oleh khas Canberra, berupa boomerang dan kulit kanguru.
“Rasa” Indonesia
Gaya hidup ala orang bule menular pada saya. Semua pekerjaan dilakukan sendiri, tanpa bantuan maid. Termasuk kegiatan memasak. Berburu bumbu dapur dan daging halal, cukup mudah. Barang-barang impor dari Indonesia juga sudah banyak ditemui, seperti teh dalam kemasan kotak, sambal botol, bahkan mie instan merek sudah tersedia di supermarket-supermarket lokal seluruh Australia. Kalau malas pergi ke toko, saya biasa belanja melalui jasa online Kambera Sembako dan simsalabim barang sudah ada didepan mata.
Kadang saya juga mengajak keluarga untuk makan diluar. Asian Food Mart tempat favorit kami. Menu masakan Indonesia tersedia disini. Saya juga bisa pesan jajanan tradisional dan masakan Indonesia melalui teman-teman yang membuka usaha katering kecil-kecilan. Cukuplah untuk mengobati kangen akan masakan kampung halaman.

No comments:
Post a Comment