Notebook: De Veha

Writing is my passion..my love!


Saturday, February 27, 2010

Foto: UMMI Spesial edisi Januari 2010




Beberapa bulan lalu, ibu DS selaku dirut majalah UMMI berkunjung ke Canberra. Kebetulan saya dan beliau sempat bertemu dan BBQ-an bersama. Tidak lama kemudian, setelah beliau kembali ke Jakarta. Salah satu asistennya, menghubungi saya untuk menuliskan artikel perjalanan edisi Januari 2010. Tapi kemudian, artikel tersebut ditunda penayangannya untuk edisi spesial UMMI bulan depan [Maret 2010]. Saya sih nggak keberatan. Malah yang ada, redaktur UMMI meminta izin salah satu foto saya tema Autumn untuk dijadikan artikel lain di edisi Januari tersebut [silakan lihat gambar].. :)

PS: Jangan lupa ya, baca artikel saya di majalah UMMI edisi bulan depan [Maret 2010]

Friday, February 26, 2010

Pertemuan pertama dgn Asma Nadia


Setelah meng-arrange waktu yang terus saja banyak kendalanya..akhirnya pertemuan saya dengan mbak Asma Nadia tercapai. Alhamdulillah.. :)

3 hari sebelum kembali ke Canberra. Saya janjian untuk ketemu dan bertandang ke rumah beliau. Saya diantar oleh suami. Walopun hanya 45 menit, tapi cukup [harus cukup kayaknya..hehe] untuk saya sharing ttg menulis dengan beliau. Thanks banget mbak Asma, sudah punya waktu diantara pekerjaan yang menumpuk untuk menerima kami main ke rumahnya. Mudah2an ada jalan saya untuk lebih mudah menerbitkan dan terus berkarya lagi. Atau bahkan impian saya untuk menulis bareng dengan mbak Asma segera tercapai..insyaallah..amiiin..semangat!!!!!!!!!!!

Artikel "Sejuta Cinta Dari Bunda" - majalah Parenting Indonesia



Thanks to Mbak DP.

The story is dedicated to my gorgeous son, Renzo..
..about you and me..about showing the amounts of love to you my dear.. :)

SEJUTA CINTA DARI BUNDA
oleh Devi Nurvitriyani Hady

Lega. Kepuasan ketika melihatnya pertama kali dalam dekapan dada. Tubuh mungilnya pun masih tercium harum darah segar. Bahagia, tentu saja. Semua merupakan pengalaman yang pertama. Mengandungnya selama 9 bulan, melahirkan dan mengasuhnya. Saya pun tak ingin menukar pengalaman itu dengan yang lainnya. Tak ingin pernah jauh walau sedetik. Buah hati bunda…buah hatiku sayang, Renzo (Muhammad Renzo Abrar, 15 bulan).

Kami menetap di Canberra, Australia. Tinggal di negeri asing, juga merupakan pengalaman pertama saya terutama untuk hidup mandiri. Gaya hidup orang Australia ini kelamaan menjadi kebiasaan. Jadi, jangan dikira ada pengasuh yang membantu pekerjaan rumah tangga. Tidak. Selain berbagi tugas dengan suami, selebihnya saya mengerjakan sendiri terutama ketika suami pergi bekerja. Begitu juga dengan hal mengasuh Renzo. Capek? Ya, saya akui amat sangat kelelahan. Tetapi beban berat yang bertumpu di pundak saya, terbayarkan dengan begitu banyak waktu yang dimiliki bersama dengan Renzo. Lebih dari cukup, alhamdulillah.

Waktu demi waktu saya nikmati dengannya. Dimulai dari dirinya bangun pagi dan melakukan aktifitas hingga tertidur lagi di malam hari. Perkembangannya yang semakin hari terus bertambah dan kepandaiannya yang tak luput dari pandangan, membuat saya begitu mensyukuri nikmat yang diberikan-Nya.

Namun mendadak chicken pox atau cacar air datang menghampiri tanpa diundang. Kesal! Perasaan yang muncul pertama kali ketika sang dokter UGD memberikan statement-nya. Lagi-lagi kesal. Saya diharuskan segera menjauh dengan Renzo. Saya diharuskan pisah kamar dengannya. Dokter mengatakan kalau saya tidak harus pisah rumah sebab Renzo sudah terekspos sehingga ada kemungkinan terkena cacar air juga. Namun kalau pun diharuskan pisah rumah bahkan untuk beberapa hari, pasti saya akan terkena penyakit yang lebih parah lagi. Depresi dan stress berat. Saya tak mampu untuk berpisah lama dengan Renzo.

Dengan berat hati, kemudian saya terisolasi sendiri di kamar utama. Hari pertama setelah dinyatakan terkena virus tersebut, seakan waktu berdua saya dengan Renzo berhenti begitu saja. Suami dan Ibu mertua yang meminta cuti bekerja pun akhirnya mengambil alih untuk bergantian mengasuh Renzo.
Sedih! Saya hanya bisa mendengarkan suaranya melalui rongga dinding kamar tanpa melihat wajahnya sekalipun. Pasti Ia sedang menonton TV channel ABC Kids atau bermain dengan kereta Thomas favoritnya, pikir saya. Kadang sesekali Ia memanggil-manggil saya, “..Nda..Ndaaa..” panggil bunda maksudnya. Saya pun membalas panggilannya. Kalau saja saya tidak sakit, pasti saya sudah bersamanya dan sedang asyik bermain di dunianya. Tetapi saya berusaha untuk sabar dan tidak banyak mengeluh. Karena saya yakin, mungkin Tuhan memberikan saya waktu untuk dapat beristirahat sejenak dan terlepas dari segala kelelahan.

Hari ketiga. Saya sudah tidak tahan lagi menahan rindu untuk melihat wajah pangeran kecil, Renzo. Saya selalu bertanya pada suami tentang aktifitas Renzo setiap harinya. Saya juga meminta suami untuk membawanya bermain di balkon apartemen kami. Renzo langsung mendatangi dan mengetuk-ngetuk kaca jendela. Kami berkomunikasi melalui jendela kamar tidur yang menjadi satu dengan balkon. Walaupun saya hanya dapat melihatnya melalui kaca jendela, saya senang sekali. Ia langsung memanggil-manggil dan mencium saya dari balik jendela. Haru. Seorang bunda yang sadar kalau tiga hari terasa begitu lama bak setahun.

Nangis. Air mata tak sempat membendung lama di pelupuk. Saya menangis karena sangat terharu, terutama ketika melihat kepandaian barunya yang kali ini luput dari pandangan saya. Biasanya saya selalu menjadi yang pertama kali mengetahui seluruh kepandaiannya, tetapi kini suami yang memberitahu kalau Renzo sudah pandai berjalan. Ya. Sebelum saya terkena cacar air, Renzo sedang belajar melangkah, tertatih-tatih 4 sampai 9 langkah. Subhanallah, kini Ia bahkan sudah lancar berjalan. Kakinya telah kuat menopang tubuh. Dengan berani dan percaya diri Ia berjalan menuju Ayahnya. Kalau saja saya bisa, saat itu rasanya saya ingin segera keluar dari kamar dan memeluknya erat. Sayang sekali, saya harus menunda keinginan saya.

Kerinduan saya untuk dekat dengannya semakin memuncak ketika menjelang seminggu. Rasanya saya tak kuasa lagi bila harus menunggu waktu, menghitung hari sampai benar-benar sembuh. Ketika saya hanya menghabiskan waktu sendiri di kamar, saya banyak menangis. Air mata ini keluar begitu saja. “Ya Allah...saya amat merindukannya. Merindukan waktu ketika bersamanya, berdua saja. Izinkan saya untuk segera sembuh dan dekat kembali dengan Renzo”, pinta saya pada-Nya dalam hati berulang-ulang. Mungkin hal ini juga dirasakan oleh Renzo, sebab dirinya sudah cukup lama tidak bersama saya seperti biasanya. Ia mulai sering “mengamuk” dan rewel tanpa sebab yang jelas. Kadang sampai memukul-mukul kepalanya tanda kesal. Kebiasaan tidurnya yang memang tidak sulit, kini harus dimulai dahulu dengan tangisan meringis. Ibu mertua dan suami pun menjadi bingung dengan tingkahnya. Kasihan Renzo.
Hari kesembilan, Ayahnya kembali mengajaknya ke balkon agar dapat melihat saya. Kami sempatkan berlama-lama untuk bermain. Sebelum suami membawanya kembali ke dalam, Renzo tidak lupa untuk melambaikan tangannya dan kiss bye pada saya sembari berkata “da...daa...baa...bay...”.
Esok sudah memasuki hari kesepuluh. Lagi-lagi saya masih harus menunda untuk dekat dengan Renzo. Hati kecil saya amat sangat sedih dan tidak tega melihat Renzo berlama-lama jauh dari saya, bundanya. Ketika dirinya memanggil saya dari balik pintu kamar, saya pun bilang berkali-kali “Sabar ya nak…bunda sebentar lagi sembuh. Renzo, be nice ya sayang...” Saya mencoba untuk memberikan pengertian padanya. Saya akui, saat itu saya menangis lagi. Bagaimana tidak? Bayangkan saja, saya dan Renzo berkomunikasi hanya melalui pintu kamar dan bahkan kaca jendela.

Hari kesepuluh. Saya mulai untuk membuka pintu kamar, namun belum memberanikan untuk keluar dan dekat dengannya. Pintu kamar yang terbuka lebar, dibatasi dengan pagar pembatas. Walaupun Renzo tidak dapat memasuki kamar, saya hanya ingin Ia tetap bisa melihat saya. Saya ingin dirinya tahu bahwa saya tidak meninggalkannya. Saya masih dekat dengannya walau tidak secara fisik. Renzo tampak bahagia ketika dirinya bebas melihat saya. Sesekali Ia tunjukkan kepandaiannya berjalan, bahkan menari saat terdengar musik dimainkan di televisi.

Malam hari kesebelas. Saya dan suami memutuskan agar keesokan harinya saya mulai kembali untuk bersama dengan Renzo. Memang saya belum pulih benar dan masih harus menunggu seminggu lagi. Namun keputusan yang kami buat semata-mata demi Renzo, bukan disengajakan untuk menularkan chicken pox. Tidak. Saya dan suami hanya tidak tega melihat Renzo terus menuangkan kekesalannya karena tidak dapat dekat dengan saya.

Malam itu, dapat dibayangkan bagaimana perasaan saya sebagai seorang ibu. Gugup, bingung, senang. Saya mendadak sulit tidur karena sibuk menghitung detik-detik untuk dekat dengan Renzo. Gemetar menanti penantian esok hari. Perasaan ini lebih dari ketika menunggu pengumuman hasil ujian sidang skripsi, lebih dari ketika sedang jatuh cinta, bahkan lebih dari itu. Saya tak mampu untuk mendeskripsikannya.

Hari yang ditunggu pun tiba, tepat hari keduabelas. Sang suami membangunkan. Saya hanya tertidur tiga jam saja tadi malam. Itu pun seperti tidur ayam. Kemudian, sayup-sayup saya dengar suara keriangan Renzo dari balik pintu kamar. Saya bergegas bersiap diri untuk bertemu dengannya secara fisik. Saya tak sabar ingin cepat melangkah keluar kamar. Detak jantung seakan mendadak begitu cepat dan tak terkendali. Saat pintu kamar dan pagar pembatas terbuka, saya panggil Renzo. Saya menghampirinya. Saat itu juga saya lihat wajah cerianya dengan tawa lebar sembari berjalan kearah saya, memeluk dan mencium bundanya.

Sungguh! Adegan yang paling mengharukan. Rasanya hati akan meledak begitu saja untuk mengeluarkan seluruh perasaan yang bercampur aduk dan yang telah lama terpendam. Renzo kembali dalam pelukan saya. Lagi, saya tak dapat menahan tangis. Suami pun ikut memeluk saya dan Renzo.
Beberapa hari kemudian, saya dan suami mengetahui bahwa kini giliran Renzo yang terkena cacar air. Saya memperhatikan timbul bintik-bintik merah di kulitnya yang kemudian semakin banyak. Walaupun sedih karena dirinya tertular, namun saya tidak perlu khawatir karena saya tidak lagi jauh darinya. Saya akan merawatnya dengan sepenuh hati kapanpun saat dirinya sakit ataupun tidak.

Setiap kali melihatnya tertidur, dirinya begitu damai. Saya menikmati saat-saat seperti ini. Melihat mata kecilnya yang tertutup rapat, bibir mungil dan indahnya saat mendengar hembusan nafas lembutnya. Saya bisikkan ke telinganya “Bunda akan selalu disini...dekat denganmu, Renzo…” Saat itulah saya rasakan kenikmatan dari-Nya yang luar biasa. Alhamdulillah...

Saya sadar benar, betapa berharganya waktu berdua saya dengan Renzo. Betapa berharganya kedekatan kami, seorang bunda dan buah hatinya. Saya sangat bahagia menjadi istri sekaligus ibu yang memiliki banyak waktu untuk memberikan sejuta cinta dan kasih sayangnya bagi keluarga. Saya ingin kedekatan ini akan terus berkekalan hingga nanti. Karena bunda mencintaimu, sayang…

Thursday, February 25, 2010

Artikel "Miniatur Dari Berbagai Negara" - Koran Sindo


Canberra, dijuluki the bush capital. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mungkin artinya "kota semak". Maksudnya, Canberra merupakan kota taman dan dikelilingi perbukitan. Banyak taman-taman yang luas dan saat musim panas dijadikan tempat untuk BBQ-an.

Ada satu taman yang menarik, sangat indah dan menurut saya wajib dikunjungi. Namanya Cockington Green. Taman ini ditumbuhi oleh ribuan jenis tanaman, bahkan hampir 35.000 bunga aneka warna menghiasi. Nggak hanya itu, miniatur-miniatur bangunan kecil pun ikut dipajang. Contohnya, ada mini Candi Borobudur yang mewakili tanah air kita Indonesia.. :)

Fyi, please have a look at the website: http://www.cockingtongreen.com.au/

cerpen: Annora

Judulnya Annora.
Dibuat setelah sepupu wafat. Si kecil yang hanya berjuang hidup selama 21 bulan..
Silakan baca di enewsletter Wanita Online edisi ketiga Okt-Nov 2008 di:

http://www.wanitaonline.com/newsletter/nov2008/index.html

atau langsung di:

http://www.wanitaonline.com/newsletter/nov2008/annora.htm

Ibu rumah tangga VS Penulis

Beda banget ketika belum menikah, waktu untuk fokus pada sebuah tulisan (naskah, puisi, artikel, cerpen, dll) lebih banyak. Kalau sekarang, udah punya keluarga sendiri harus lebih bisa ngebagi waktunya. Padahal order tulisan menumpuk dari pada sebelum menikah. Nah, berarti menikah itu rejekinya lebih banyak loh! ayo-ayo pada nikah..

Kadang udah niat mau mulai nulis, tapi ada aja halangannya.
Misalnya mood, ngantuk, capek, dll. Maka saat-saat Renzo lagi tidur atau asyik bermain dengan his toys + watching his favorite DVD, bener-bener digunain waktunya buat nulis. Tapi tetep, kalau lagi nggak mood..ya..nggak nulis. Karena nggak akan bisa menghasilkan tulisan yang bagus. Lagipula tulisan yang bagus nggak akan bisa jadi sekali aja, pasti berulang-ulang, sekalipun penulis profesional. Dan lagi, ide/ilham itu datang dengan sendirinya, gak akan bisa dipaksa..so..nyantai aja..

Dulu, terbiasa begadang. Nulis dari jam 9 malam sampe pagi. Sekarang nggak bisa gitu lagi. Pagi-sore urus Renzo sendirian (maklum disini nggak dibiasakan punya nanny/pembantu). Disini terbiasa hidup mandiri. Makanya nggak ada TKI/TKW.. Tapi nikmatnya luar biasa, walo capek..kedekatan dengan anak tingkatnya lebih tinggi.. Nah, sorenya, setelah suami pulang kerja..gantian deh take over Renzo.. akhirnya.. Tapinya lagi ya..urus Ayahnya dulu..hahahaha... Baru deh kalo Renzo udah bobo, ayahnya udah makan, mulai deh nulis..biasanya sampe jam 12 atau 1 pagi. Pernah coba begadang sampe jam 4.30 pagi. Waduuuh...ternyata lebih capek ya...super duper capeknya..gak bisa lagi begadang kayak dulu..
Semangat menulis selalu ada..terus dan terus..semakin tinggi! Alhamdulillah suami mendukung banget! Yang paling penting pekerjaan yang tidak menganggu aktifitas sebagai ibu rumah tangga..

Tetap semangat menulis!

Juara 3 Lomba Testimonial se-Indonesia

Dari 10 nominasi, testimonial ini salah satunya dan kemudian menang.
Ceritanya begini, ini sekalinya Papa saya sakit ampe sekarat saat beberapa minggu menjelang hari pernikahan saya. Saat itu Papa yang sosok tubuhnya tinggi tegap, sehat..tiba2 rapuh n' kelamaan tak berdaya.
Singkat cerita, alhamdulillah Papa lama-lama sehat berkat berobat alternatif dengan Pak Yosef. Dari situlah Papa mengkonsumsi beberapa produk K-Link. Nah, lalu Papa kasih tau kalo ada lomba ini. Nah, Papa kan kalo disuruh nulis cerita susah, jadi minta tolong saya. Pada intinya semua informasi dari Papa semua. Saya tinggal menggubah kata2 istilahnya, biar lebih mantap kalo dibaca..hehehe..
Lalu, karena testimonial ini termasuk finalis, maka sebelumnya Papa diwawancara disuruh cerita lagi di depan podium. Kalo disuruh ngomong mah, Papa jago banget dah! hehehe... Setelah itu, malamnya adalah Malam Grand Final. Selanjutnya tau kan? Eng ing eng.. "Pemenang ketiga adalah.." selanjutnya nama Papa dipanggil, padahal Papa lagi ngobrol di telpon n' kaget sendiri disuruh maju ke podium n jadi pemenang..hahaha..

Well, Pemenang pertama ke Cina (wah, kesian Mama-Papa gak ngerti bahasanya n susah cari makanan halal..hehehe), yang kedua ke Bangkok (Papa udah pernah kesana..tapi lagi-lagi alasan yg sama kayak sebelumnya). Emang Alloh SWT ngasihnya jadi pemenang ketiga ya, coz Papa dapet hadiah jalan-jalan ke Kuala Lumpur. Alhamdulillah.. Memang dari dulu Mama n Papa pengen banget ke KL. N' alhamdulillah saya bisa memberikan hadiah itu untuk mereka berdua..
TESTIMONIALNYA!:

Nama saya Nurul Perwirady Hady. Saya akan menceritakan kesaksian saya akan khasiat dari produk K-Link.

Usia saya memang hampir mencapai 60 tahun, selama itu pula alhamdulillah saya tidak pernah merasakan sakit yang akut hingga diharuskan rawat inap di rumah sakit. Paling hanyalah sakit biasa, seperti flu/pilek dan batuk ringan. Itupun, saya tidak pernah memanjakan diri untuk langsung pergi ke dokter, karena sejujurnya saya tidak terlalu percaya dengan dokter. Jadi, saya hanya minum beberapa obat untuk meredakannya ataupun saya diamkan saja.

Tahun lalu, entah mengapa seringkali tiba-tiba badan saya lemas. Saya merasa daya tahan tubuh saya menurun, ingin muntah karena mual dan tidak selera makan. Saya sedikit bingung dan khawatir. Pikiran saya saat itu, ah! mungkin saya hanya kelelahan. Tapi, saya tidak bekerja lagi dan lebih banyak menghabiskan waktu dirumah bersama istri serta anak-anak. Akhirnya, saya memberanikan diri dan mengalahkan ego untuk bertanya kepada teman yang merupakan seorang dokter. Namun dia hanya bilang “Kau itu tidak sakit, tapi terlalu banyak pikiran. Stress!”. Walaupun saya menganggap dia sedang melucu, tapi saya pikir ada benarnya juga.

Memang, saya sudah lama pensiun dan itu yang menjadi pikiran terberat saya. Saya memiliki lima anak perempuan, alhamdulillah tiga anak saya sudah menikah sekarang. Tetapi saya memiliki istri dan dua anak lagi yang masih harus menjadi tanggung jawab saya. Saya masih harus berusaha menafkahi mereka, terutama pendidikan untuk anak-anak saya. Saya ini orangnya tidak terbiasa meminta-minta, apalagi bergantung dengan orang lain. Maka dari itu saya telah berusaha kesana-kemari untuk mencoba berbisnis, namun beberapa kali tertipu. Bahkan pikiran terakhir, saya harus dapat menjual aset terakhir berupa rumah kami itu. Saya pun tidak ingin bertopang hidup dari pemberian anak-anak saya yang telah menikah ataupun bantuan dari saudara-saudara kandung saya. Jujur, saya malu! Hati saya menolak, karena saya yakin saya masih bisa berjuang demi keluarga. Pikiran-pikiran itu lah yang cukup mengganggu. Saya lebih banyak diam, berpikir, dan melamun walaupun ibadah tetap terus berjalan.

Setelah saya beberapa kali merasa lemas, saya pun mulai merasakan air seni tidak selancar seperti biasanya ketika saya buang air kecil. Lalu, sebentar-sebentar mau buang air kecil lagi yang esok-esoknya disusul dengan keluar darah. Seperti biasa, pertama-tama saya diamkan saja. Saya pun tidak memberitahu istri, apalagi anak-anak.

Suatu hari kira-kira bulan Agustus 2006, saya mengunjungi adik di Bandung. Ia bilang badan saya terlihat kurus. Tidak hanya dia yang mengatakan demikian, istri dan anak-anak pun kelamaan memperhatikan. Saat itu juga adik saya memaksa agar saya diperiksa ke dokter. Bujukan istri dan adik pun meluluhkan hati, saya diperiksa laboratorium dan hasilnya mengejutkan. Hasil laboratorium mengatakan saya mengidap penyakit GAGAL GINJAL. Dokter pun langsung menyarankan agar saya dirawat inap, tetapi saya menolak sarannya dan bersikeras untuk pulang ke Jakarta.

Seminggu kemudian, saya memutuskan untuk balik lagi ke Bandung menemui dokter tersebut. Ternyata kondisi badan saya sudah tidak kuat lagi, lemas! Pandangan saya gelap dan hampir tak sadarkan diri. Akhirnya saya dibawa ke rumah sakit. Besoknya saya harus menjalani cuci darah. Setelah diperiksa laboratorium untuk yang kedua kali, hasilnya pun sama, GAGAL GINJAL yang disebabkan oleh prostat. Berat badan saya yang semula 86kg, turun drastis menjadi 65kg. Sampai pada keputusan akhir, dokter menyatakan harus menjalani operasi prostat. Saat itu rasanya saya lebih baik mati bila harus dioperasi. Keluarga besar pun berdiskusi untuk memutuskan apakah mereka mendukung operasi tersebut. Hati kecil saya ingin menolak operasi itu, tetapi saya berpikir ulang kalau harus sembuh demi istri dan anak-anak. Sejuknya mata, cinta dan kasih sayang mereka yang membuat saya siap untuk dioperasi walaupun sempat berhari-hari saya menyimpan tangis yang dalam.

Alhamdulillah operasi tersebut lancar dalam beberapa jam. Namun, saya harus tetap menjalani cuci darah dua kali dalam satu minggu. Di rumah sakit tersebut, saya dirawat inap hampir satu bulan. Sungguh, itu sangat menyiksa saya terutama saat cuci darah berlangsung selama 4 jam. Saya menolak “cymino”, sebuah alat khusus berupa selang yang dapat langsung disambungkan ke dalam bagian tubuh. Saya bersikeras tidak ingin menggunakannya. Saya pun pernah tiga kali pingsan setelah cuci darah, juga saat proses cuci darah berlangsung saya hampir kehilangan kesadaran. Rasanya mau mati, sekarat! Di ruangan tersebut, seakan maut bisa kapan saja menjemput. Saya pun siap bila mana memang harus lepas nyawa saat itu. Saya sudah tidak tahan lagi, sakit!

Dilema hati antara hidup dan mati, ternyata Allah SWT masih mencintai saya. Berita bahagia datang dari anak saya yang ketiga, ia akan menikah. Kondisi saya saat itu memang belum stabil, bahkan saya belum diperbolehkan untuk pulang. Mendekati hari pernikahannya, ada semangat tinggi untuk dapat langsung menikahkannya. Saya tidak ingin melewati hari bahagianya yang sangat dinantikan itu. Saya pun memaksakan diri untuk hadir sesaat walaupun kateter terus menggantung di bagian tubuh saya. Sempat saya terpaku dan merasakan sedih yang teramat sangat, tapi saya sangat bahagia hari itu.

Sebulan kemudian kira-kira akhir Oktober 2006, seorang teman baik datang ke rumah untuk menjenguk. Ia menawarkan terapi holistic dan menjelaskan sedikit mengenai pengobatan tersebut. Saya langsung tertarik sebab saya ingin kembali sehat dan tidak mau ke dokter selamanya. Beberapa hari kemudian, tepatnya pada tanggal 8 November 2006 sekitar pukul 08.00 pagi saya dipertemukan dengan Pak Yosef Darma Rista dan istrinya, Enny Setyorini di klinik beliau “Fairuzholistic”. Mereka berdua mulai melakukan terapi terhadap saya, dengan kondisi saya yang saat itu masih menjalani cuci darah dua kali seminggu, masih menggunakan kateter, Hb 7.3, Ureum 108.2, Creatinine 16.1, dan Uric Acid 9.5. Saya ikuti seluruh terapi berupa Akupuntur, Koryo Sooji Chim, Bekam, Refleksi, Massage, Yoga, Diet, dan terapi lainnya dengan frekuensi awal tiga kali seminggu dan secara bertahap terus berkurang.

Dari terapi rutin tersebut, disitulah Pak Yosef Darma Rista dan istrinya, Enny Setyorini yang kebetulan distributor K-Link memperkenalkan saya dengan produk K-Link. Ia memberikan sedikit demi sedikit informasi mengenai produk ini. Kemudian, saya pun mencobanya.

Saya mulai mengkonsumsi Chlorophyl, Gamat Vitaplus, Omegasqua, Roibos Tea dan Propolis Platinum. Tidak hanya itu, saya juga memakai K-Link Kino. Saya ikuti terus sesuai petunjuk beliau dan berlangsung hingga bulan Desember 2006. Alhamdulillah setelah 2 bulan pemakaian, saya merasa lebih baik walaupun masih tetap menjalani proses cuci darah yang berkurang menjadi seminggu sekali hingga 10 hari sekali.

Bertepatan pada tanggal terakhir saya melakukan cuci darah, 19 Januari 2007, dengan mempertimbangkan kondisi saya tersebut yang sudah tampak lebih bertenaga, saya mulai menjalani terapi Colon dengan mengkonsumsi Riddance selama 10 hari berturut-turut. Selanjutnya pada tanggal 1 Februari 2007, saya mulai mengkonsumsi produk Ayurverda, antara lain: Ayurin, Ayulite, Ayuarthis, dan Ayulax. Pada terapi ke 23, tanggal 15 Februari 2007, saya mendapatkan berita yang menggembirakan hati bahwa berdasarkan data lab, saya benar-benar tidak perlu lagi menjalani cuci darah.

Saya merasakan benar khasiat produk K-Link dan terapi pada tanggal 29 Mei 2007 menjadi terapi saya yang terakhir. Kondisi tubuh saya lebih baik dari pada sebelumnya. Saya sudah mampu bepergian jauh selama beberapa hari hingga keluar kota, berlibur bersama keluarga tercinta, kembali berbisnis, berolah raga, hingga mengendarai mobil sendiri, dan aktivitas lainnya yang sempat tidak bisa saya lakukan selama beberapa waktu. Sampai pada hari ini pun, saya tetap mengkonsumsi produk K-Link tersebut dan menjalani terapi diet. Alhamdulillah akhirnya selama 8 bulan ini saya tidak lagi menjalani cuci darah yang sangat menyiksa itu.

Inilah hasil yang saya dapatkan dari khasiat produk K-Link. Saya sadar, ini semua kehendak-Nya dan jalan dari-Nya. Dengan kegigihan saya untuk dapat sembuh dan kembali pulih. Semua itu pun juga karena dukungan istri, anak-anak dan keluarga besar yang mempengaruhi semangat saya untuk berjuang hidup.

Jakarta, 5 Oktober 2007

Artikel "Jelajahi Salju Perisher Blue" - majalah EVE

Artikel wisata yang kedua kalinya dimuat di EVE Magazine. Kali ini saya menulis tentang salju di Perisher Blue. Australia punya 4 musim, sama seperti di negara-negara bagian Eropa dan Amerika. Tapi, yang membedakan adalah waktunya. Kalau di bagian negara lain, musim dingin terjadi pada akhir tahun. Nah, kalo di Australia terjadi pada tengah tahun.

Di ibukotanya sendiri, Canberra, saat musim dingin menjadi kota paling dingin. Suhu bisa mencapai kurang dari nol derajat. Hebatnya, salju nyaris jarang turun. Paling sekali dalam beberapa tahun. Atau hanya biang es yang bertebaran sedikit di pinggir-pinggir jalan. Hujan es kerikil juga sekali-sekali.














Kalo mau main salju di Australia, yang paling deket dari Canberra salah satunya Perisher Blue. Sebelumnya kita bisa nyewa perlengkapan main ski di tempat penyewaan. Bukit Perisher Blue disediakan untuk para pemula sampe yang sudah jago. Bahkan ada sekolah ski [snowsport school]. Ada juga bukit salju khusus bagi pemain ski yang udah jago, udah prof istilahnya..namanya bukit Thredbo.

Jangan lupa ya, kalo ke Australia pertengahan tahun..mampir untuk main ski disini n bawa oleh-oleh snowball!

Artikel "Semarak Autumn di Canberra" - majalah AUSINDO

Lagi! Artikel yang sama diminta untuk tayang di majalah AUSINDO yang berkantor di Sydney. Si mbak yang menghubungi bilang, beliau tau saya setelah baca artikel "Semarak Autumn di Canberra" yang dimuat di majalah EVE. Kemudian beliau minta nomor kontak saya.

Lagi-lagi, seneng!
Saya bakal tambah semangat untuk nulis! :)

Artikel "Semarak Autumn di Canberra" - majalah EVE

Ini adalah artikel perjalanan/wisata saya yang pertama kali tayang di media cetak, EVE Magazine. Kebetulan saya bagian dari EVE reader panel editor dan udah kenal dengan rekan di EVE Magazine. Sebelumnya, sang managing editor [mbak SP] menghubungi dan meminta saya untuk nulis artikel perjalanan sebagai kontributornya. Dengan senang hati saya menulis tentang Canberra, dimana saya menetap. Nggak lama kemudian respon dari beliau sangat senang dan menyukai artikel saya. Begitu juga respon yang sama saya dapat dari editor in chief-nya, mbak APW.

Waktu mereka mengirimkan majalahnya, saya bahagia banget! Bahkan sampe loncat2an segala.. :D Apalagi waktu ngelihat hasilnya dan ngebaca artikel lengkap dengan foto-foto penunjang yang diabadikan oleh suami.