Notebook: De Veha

Writing is my passion..my love!


Tuesday, July 5, 2011

100 days and I'll be missing you..


Dear Papa,

Tak terasa sudah 100 hari sejak Papa meninggalkan kami
Iti harus terbiasa bahwa Papa tak lagi bersama
Sejujurnya, sungguh sangat merindukan Papa ada disekitar

Ketika Iti harus mengakui semakin sedikit waktu untuk bersama Papa setelah menikah
Ketika Iti tak sempat bertemu, bahkan menemani saat detik-detik kepergian Papa untuk selamanya dan tak ada kata selamat tinggal
Iti masih dapat mengunjungi Papa walau hanya bertemu dengan sebuah nisan
Papa pun berbalas untuk datang melalui mimpi
Papa hanya diam dan tersenyum
Tanda lega terlepas dari sakitnya
Tanda bahagia dunia akhirat, insyaAllah..

100 hari sejak Papa meninggalkan kami
Hari-hari yang  tidak mudah untuk di lewati
Walaupun tangis masih sering menemani sebab rindu ini menggema
Namun ketidakmampuan untuk berpelukan erat terganti dengan sejuta cinta
Ketidakmampuan untuk menciumnya hangat, terganti dengan sejuta doa-doa dalam setiap hembusan nafas
Sebab Iti harus kuat untuk ratusan hari-hari berikutnya dengan iringan lafaz bismillah..

With love,
Iti

Thursday, June 23, 2011

Buku 3 - Antologi "Balita Hebat"


Alhamdulillah...

Bulan lalu (Mei 2011) baru saja melahirkan buku ke-2. Kemudian saya melahirkan lagi buku ke-3 (antologi kedua), antologi kasih "Balita Hebat" bersama penulis senior Pipiet Senja, dkk!


Buku ini berisi kisah seputar balita yang mengharu-biru.
Penerbit: Jendela (Zikrul Hakim), Juni 2011.
Tulisan saya di nomor 12, berjudul "Balita Multibahasa".. :)

Komposisi Isi
Bab Satu: Kisah Inspirasi
1.Amanah Cinta (Diannafi)
2.Janji Seorang Balita (Pipiet Senja)
3.Anakku Hidup dan Matiku (Nenden Salwa)
4.Berkat Kisah Teladan (Nashita Zayn)
5.Calon Penghuni Surga (Eric Shandy)
6.Ivon Jagoan (Endang Ssn)
7.Pemberani Penuh Empati (Jazimah al-Muhyi)
8.Doa Fikri Kecil (Yooke Tjuparmah)
9.Pengamat Label Halal (Yudith Fabiola)
10.Peri Kecilku (Ayesha Darmawan)
11.Aku Ingin Lancar Bicara (Tantri Pranashita)
12.Balita Multibahasa (De Veha)
13.Merasa Tidak Diperhatikan (Trimanto)
14.Bintang Kecil Sendiri (Lintang Kinanti)
15.Ada Malaikat Penjaga (Dila Saktika)
16.Aku Gemar Membaca (Dewi Muliyawan)
17.Si Kecil Menjadi Guru (Ika Maya Susanti)
18.Rekan Bunda di Rumah (Ratna Dwi Kumala)
19.Dongeng Untuk Adik (Retno Winar
20.Diary With My Daughters: I Love Card & Apologize (Tias Tatanka)
21.Nyanyian Huzai (Muthiah Al Hasany)
22.Ambilkan Selimut Kakak (Leyla Imtichanah)

Bab Dua: Kiat-Kiat Merawat Balita
1.Tip Pijat Bayi (Noviana Wahyu Widayanti)
2.Makanan Bunda Sehat dan Bergizi (Noviana Wahyu Widayanti)
3.9 Kesalahan Dalam Merawat Balita (Sumer Detikhealt)
4.10 Penyakit Balita (Sumber Detikhealth)


Ini cerita saya tentang menghadapi polah tingkah Renzo:

BALITA MULTIBAHASA

Saya bahagia ketika pertama kali mendengar suara tangis kencangnya dan kemudian memeluknya dalam dekapan dada. Air mata haru pun tak dapat ditahan. Melahirkan pangeran kecil saya, Renzo, merupakan pengalaman yang sungguh luar biasa.

Tahun Pertama
​Setelah menikah, saya ikut suami untuk menetap di ibukota Australia, Canberra. Ketika saya sampai di Canberra, saya telah dinyatakan hamil oleh dokter. Sembilan bulan mengandung sangatlah menakjubkan. Sampai pada kelahiran pangeran kecil kami. Bahagia, tentu saja. Perjalanan dan pengalaman kami pun bertambah dengan adanya si kecil.
​Tiga bulan pertama setelah kelahiran Renzo, saya masih banyak memiliki waktu luang. Saya tidak terlalu kerepotan dalam mengurus Renzo, sebab saya dibantu oleh Mama yang sengaja datang dari Jakarta. Namun, setelah tiga bulan berlalu dan mama harus kembali ke Jakarta. Saya harus mengurus Renzo sendiri sehari-harinya, disamping suami yang bekerja.
​Tak lama Mama berangkat kembali ke Jakarta, saya dikejutkan dengan kepandaian Renzo diusianya yang baru tiga bulan. Ia sudah dapat tengkurap sendiri. Makin bertambah bulan, Ia pandai merangkak, mengeluarkan suara dan bunyi-bunyian. Gigi pertamanya pun tumbuh dan disusul satu demi satu gigi lainnya. Yang paling mengharukan untuk saya adalah ketika dirinya pertama kali mengucapkan sebuah kata, yaitu “Mama”. Semua kepandaian dan grafik pertumbuhannya ini selalu saya amati dan catat sebagai hari penting untuk diingat. Nyaris belum pernah saya lewati masa pertumbuhannya sebab saya sendiri yang mengurus Renzo sehari-harinya. Tidak heran saya mengetahui dan menyaksikan benar polah tingkahnya.
​Namun, disaat saya senang melihat pertama kalinya Renzo melangkah. Tiba-tiba saja saya terkena chicken pox alias cacar air. Sungguh saya sangat kesal mendengar pernyataan dokter. Saya diharuskan tidak dekat-dekat dengan Renzo untuk sementara dalam beberapa minggu. Oh! Rasanya saya mau marah!
​Sepulang dari dokter, saya tertegun melihat Renzo yang terus memanggil-manggil saya “ndaaa..ndaa..”. Tetapi apa daya saya tak dapat dekat dengannya, memeluknya, bahkan menciumnya. Saya tambah sedih ketika melihatnya nangis karena tak dapat tidur dengan saya. Saya dan Renzo hanya berkomunikasi melalui pintu kamar atau bahkan jendela balkon.
Selama saya terkena cacar air, Renzo semakin susah untuk tidur terutama malam hari. Sampai ibu mertua dan suami yang bergantian cuti kerja, kewalahan menghadapi tingkahnya. Namun yang lebih menyedihkan lagi, saya melewati masa-masa Renzo belajar berjalan. Jujur, saya menangis selama masa karantina itu. Sebab saya sudah tidak tahan lagi untuk segera memeluknya dan menimangnya kembali. Sepuluh hari terlalu lama bagi saya dan Renzo. Maka keesokan harinya saya dan suami memutuskan agar saya dapat dekat lagi dengan Renzo. Dokter pun setuju sebab beliau berkata bahwa Renzo mungkin sudah terekspos. Ada kemungkinan Renzo tertular. Benar, tiga hari kemudian Renzo terkena cacar air juga.

Terrible Two

​Semakin bertambah usianya, semakin meningkat ujian yang saya hadapi sebagai orang tuanya. Terutama saya yang paling banyak berinteraksi dengan Renzo di rumah dan menghadapi ulah serangan “terrible two”.
​Awalnya saya bertanya pada diri sendiri apakah mampu mengurus anak sendiri, ketika suami bekerja. Jujur, memang sulit. Tetapi ketika keihklasan dan cinta sebagai orang tua dalam mengurus dan mendidik anak menjadi andil utama, maka saya yakin akan lebih mudah.
​Tak dipungkiri kadang sekali-sekali saya berkhayal memiliki pembantu rumah tangga seperti sebelum menikah. Semua tinggal perintah. Semua dilayani. Nikmatnya! Apalagi kalau sudah menikah, lebih nikmat lagi. Masakan sudah tersedia, anak-anak ada yang menjaga, rumah rapi setiap hari. Tetapi, jangan dikira bisa saya terapkan disini. Disamping mempekerjakan pegawai biayanya sangat mahal, Australia adalah negara yang mandiri. Alhamdulillah, kebiasaan gaya hidup sendiri. Dimulai dari belanja mingguan, mengurus anak dan suami sampai pekerjaan saya sebagai penulis.
​Capek. Sudah pasti. Apalagi ditambah dengan menghadapi tingkah laku Renzo di usia dua tahun. Ia mulai tak mendengarkan perintah. Sesekali Ia juga mulai merengek kalau saya tolak keinginannya. Kesabaran saya semakin diuji. Teriakan marah pun sering keluar dari mulut saya.
​Kalau saya tak dapat menahan kesabaran, paling saya hanya mengomel saja. Tak ada sedikit pun di pikiran untuk melukai fisiknya. Namun pernah suatu ketika, saya sedang pusing dan letih sekali. Setelah memasak dan kemudian menyuapinya, dengan sengaja Ia menumpahkan piring beserta isinya. Spontan saya marah dan langsung memukul tangannya cukup keras. Memerah! Ia menangis sembari berkata “sorry bunda” dengan memelas. Spontan saya ucap “astagfirullahaladziim” dan segera memeluk serta meminta maaf pada Renzo. Saya pun ikut menangis. Ini kejadian yang paling saya sesali dan berjanji tak akan pernah lagi saya melukai fisiknya, apalagi hatinya. Sejak itu, jika Renzo melakukan kesalahan. Hukuman yang berhasil saya terapkan padanya adalah “time out”, dengan mengurungnya di kamar selama paling lama tiga menit. Satu-satunya hukuman paling ampuh tanpa menyakiti hati dan fisiknya.

Anak Multibahasa​
​Memasuki usia ke tiga, Renzo tumbuh menjadi anak yang cerdas. Ia tidak lagi bertingkah mengesalkan. Ia lebih bijak dan cukup bisa diberitahu apa yang benar dan salah. Renzo juga sudah lancar berbicara, mengingat Ia pandai berbicara saat usia satu setengah tahun.
​Mendidik anak multibahasa seperti Renzo tidak mudah. Sebagai orang tuanya yang berlatar belakang budaya Indonesia yang kental. Pasti saya dan suami menginginkan dirinya untuk tetap pandai berbicara bahasa Indonesia walaupun menetap di negeri asing. Mengapa demikian? Sebab saya menyayangkan anak-anak yang lahir dari peranakan Indonesia atau pernikahan campur, tidak mengenal bahasa ibu, bahasa Indonesia. Pada umumnya mereka lebih lancar berbahasa Inggris. Bahkan yang lebih disayangkan lagi, kadang diantara anak-anak mereka malu dan takut kalau diajak berbicara dengan bahasa Indonesia. Alhamdulillah, Renzo masih fasih berbahasa Indonesia hingga kini.
Saya dan suami menerapkan dua bahasa di rumah, Inggris dan Indonesia. Kami berdua pernah mencoba untuk menggunakan dua bahasa ketika berbicara pada Renzo. Hasilnya, Renzo menjadi kebingungan dan lebih banyak menggunakan satu kalimat dalam dua bahasa. Misalnya, Ia berkata “Renzo mau main ball”. Sehingga menurut kami, Ia belum mampu berbicara dengan bahasa yang baik dan benar.
Pada akhirnya, saya dan suami sepakat untuk memilih mana bahasa yang kami gunakan ketika berbicara pada Renzo. Suami menggunakan bahasa Inggris saja, dan saya menggunakan bahasa Indonesia saja. Ternyata penerapan ini lebih berhasil ketimbang sebelumnya.
Semakin bertambah usia,  Renzo sudah cukup mampu menggunakan kedua bahasa tersebut dengan baik dan benar. Ia sudah bisa berbicara dengan menggunakan kalimat dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia dengan penuh. Bahkan kalau saya perhatikan ketika dirinya bermain bersama teman-teman sebayanya yang menggunakan bahasa Inggris sehari-hari, Renzo sudah bisa mengimbangi dengan ikut berbicara menggunakan bahasa Inggris. Begitu pula ketika diajak berbicara dengan bahasa Indonesia.
Penerapan lainnya kami lakukan dengan memasukkannya ke dalam lingkungan playgroup yang berbahasa bilingual (Inggris-Indonesia). Dengan demikian, sebagai anak multibahasa Renzo mampu berbicara dua bahasa dengan baik dan benar.
​Kadang pun gemas sekali ketika tiba-tiba dirinya berkata dalam bahasa Inggris, tanpa pernah kami ajarkan. Mungkin Ia dapat dari tontonan channel favoritnya, ABC Kids. Seperti dalam dialog saya dengannya berikut ini:
Renzo: "bunda masak apa sih?"
Bunda: "bunda masak sup"
Renzo: "pake chicken?"
Bunda: "iya, pake chicken. Trus ada fish tofu juga.."
Renzo: "trus apalagi?"
Bunda: "pake kentang"
Renzo: "trus?"
Bunda: "buncis, wortel, daun bawang.."
Tiba-tiba dengan riang dia langsung berkata, "Wow, awesome!" Langsung saya tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat “wow, awesome!”

***
​Benar kata Mama saya, mengurus anak itu susah-susah gampang. Sebagai orang tua kita harus lebih bijak dan kreatif menghadapi tingkah laku anak. Kesal, lelah, marah, kan terhapus dengan cinta yang besar untuk Renzo. Cinta bunda yang diabadikan dalam bentuk puisi berikut ini:
Bunda masih ingat saat dirimu masih dalam tubuhku
Irama gerakan, tendangan kuat, dan sikutannya membuat perutku berubah-ubah bentuk hingga menggelitik kegelian.
Aneh, namun sempurna..Subhanallah!

***
1 Syawal 1428H [Sabtu, 13 Oktober 2007], pukul 17:35 waktu Canberra-Australia
Catatan sejarah yang tak pernah ku lupa
Selamat datang cinta!
Kuberi nama dia, Muhammad Renzo Abrar
Dunia terasa begitu indah, saat dirinya hadir menyambut Syawal dengan takbir..
17 jam perjuangan Bunda yang melelahkan dan sakit luar biasa, seakan terhapus begitu saja..
Allahuakbar..allahuakbar..allahuakbar!
Renzo sayangku..
Tak terasa kini tiga tahun sudah usiamu
Semakin bertambah kepandaian dan polah tingkahmu
Dimulai dari pertama kali kau ucap kata “nda..” untuk memanggilku
Atau ketika kau mulai berteriak kencang, hanya karena keinginanmu kuabaikan
Kadang kau buatku senang hingga menangis haru, bahkan kadang buatku kesal hingga menangis sendu
Tetapi Nak, tak pernah berubah cinta dan sayang Bunda..
Renzo sayang..
Kau masih ingin kutimang, apalagi saat dirimu berkata “Bunda, nenong..”
Kau masih ingin tidur hanya ditemani olehku, bahkan kau meminta agar kita berpegangan tangan erat sampai kau tak sadarkan diri tertidur pulas
Tak apa begitu sayang, tak penting usiamu karena kau bayiku

Ayah dan Bunda bersyukur kau tumbuh sehat, lincah dan kuat
Semoga di hari-hari mendatang kan menjadi berkah bagimu
Ayah dan Bunda kan terus berikan doa di setiap hembusan nafas
Berharap dengan izin-Nya, kau kan jadi pengikut Nabi Muhammad SAW yang berkepribadian kuat dan mandiri, sesuai namamu
Kau kan jadi lelaki sholeh yang mencintai dan menyebut nama-Nya di sepanjang waktu
​ ​


 

Monday, May 30, 2011

Calon novel yang lama terbengkalai!

Masih ku ingat saat kita menyanyikan lagu cinta
Masih ku ingat ketika kita sering bersama
Sepertinya tak pernah ku lupa semua
Namun saat dirinya berada diantara kita
Aku tidak marah, sebab kau bukan milikku
Aku tidak menangis, sebab kau terlihat bahagia
Dan masih ku ingat jelas wajahmu saat mengatakan ingin menikahinya
Cemburu, itu pasti
Luka, itu resiko

Tahun berganti
Cinta telah terbagi, begitu juga hati
Tapi selingkuh, aku tak berani!

Andai saja kau tau
Sesungguhnya cinta pernah ada
Rindu pun masih menyala


...petikan calon buku (novel) selanjutnya... :)

Sunday, May 8, 2011

Buku 2 - Antologi "Berjuanglah Bunda Tidak Sendiri"


Buku kedua saya, namun buku antologi pertama yang ditulis bareng Naqiyyah Syam, Qonita Musa, dkk. Baca cerita saya dalam bab Ruang Bersalin Satu, dengan judul TUJUHBELAS JAM PERJUANGAN.

Dapatkan segera di toko buku seluruh Indonesia!
Terbit: 11 May 2011
Penerbit: Elex Media

SINOPSIS
Melahirkan di mana saja; di desa, di kota, bahkan di luar negeri, dengan bidan atau dengan dokter spesialis, selalu mendatangkan rasa yang sama. Meski sedikit, rasa sakit itu pasti ada.
Yang kelihatan mudah pun, melahirkan dengan teknik epidural misalnya, akan membawa rasa sakit ketika menyuntikkannya pada tulang belakang walau kadarnya hanya setitik. Faktanya, dengan berbagai teknik yang dilakukan oleh paramedis atau ibu hamil itu sendiri, rasa sakit bisa diminimalisasi. Nah, Bunda bisa segera menemukan jawaban dengan membaca curhat para Bunda di buku ini.
Dalam buku ini, Bunda akan menemui beragam fakta yang akan membantu Bunda untuk sigap mengenali dan mempersiapkan kelahiran yang terbaik. Bunda bisa segera mengonsultasikan segala kekhawatiran Bunda dengan bidan atau dokter yang menangani kehamilan Bunda.
Cara melahirkan apapun yang Bunda pilih, semua istimewa! Buku ini terbagi atas empat ruang bersalin. Masing-masing ruang merepresentasikan kelahiran anak yang keberapa. Belum tentu melahirkan anak yang pertama lebih sakit daripada kelahiran anak yang kedua, dan seterusnya.
Spesial, pada kelahiran anak pertama, kami mengumpulkan banyak cerita karena pada umumnya, seorang Bunda akan mengalami kecemasan yang lebih tinggi pada kehamilannya yang pertama. Bunda bisa mengambil manfaat dari cerita-cerita yang dituliskan. Plus dilengkapi dengan tip-tip seputar melahirkan.

TUJUHBELAS JAM PERJUANGAN
    Dua minggu setelah menikah, saya langsung ditinggal sang suami ke Australia. Ia memang sudah puluhan tahun menetap di ibukota Australia, Canberra, bersama dengan kedua orang tuanya. Ia tidak bisa cuti lama karena pekerjaan dan kuliah masternya. Kami pun rela harus berpisah jarak dan waktu selama hampir 4 bulan. Selama waktu tersebut, saya sibuk melakukan persiapan pengurusan spouse visa untuk menetap disana bersamanya. Alhamdulillah, pengurusan tersebut selesai hanya sebulan saja.
    Setelah sebulan pertama, rasa rindu makin memuncak. Apalagi kami pengantin baru yang masih hangat-hangatnya. Walaupun saya berasal dari keluarga besar dan memiliki 4 saudara perempuan kandung. Sedikit rasa kesepian tak berada di samping suami tetap ada. Tidak heran, saya ingin segera memiliki keturunan.
    Saat suami datang ke Jakarta untuk menjemput, saya bahagia sekali. Beberapa hari kemudian kami berdua dan keluarga besar saya mengadakan tour de Java. Tujuan perjalanan kami ke Jogjakarta & Purwokerto, kebetulan kami ingin mengunjungi mertuanya kakak saya. Capek tapi senang. Namun yang paling berkesan adalah hasil dari perjalanan tersebut. Mengapa? Saya hamil!

Masa Kehamilan
    Hari keberangkatan diliputi dua perasaan. Senang karena saya hamil, sedih karena saya meninggalkan keluarga besar. Ini pertama kalinya saya akan jauh dari keluarga. Namun, perasaan dilema saya abaikan.
    Bulan-bulan pertama menetap di negeri orang, cukup sulit untuk saya. Perlahan saya belajar untuk beradaptasi dengan kehidupan dan kebiasaan orang Australia. Apalagi dalam keadaan hamil, pastilah emosi kadang lebih tinggi tingkatnya daripada logika. Selama hamil saya banyak marah dengan suami. Selain faktor hormon hamil, mungkin juga karena kami baru membina rumah tangga bersama. Padahal, tak selamanya suami punya kesalahan. Bahkan kadang Ia hanya memberikan saran. Tetapi saat itu, saya memang amat sensitif. Untung, sang suami mengerti keadaan emosi saya. Nangis, tentu saja. Bahkan hampir setiap hari! Tangisan menjadi teman baik saya, terutama saat saya merasa kesepian di rumah. Sendirian!
    Cukup berat bagi saya menghadapi hari demi hari. Suami kerja dan saya belum memiliki teman. Ayah dan Ibu mertua pun bekerja. Namun saya tak mau menjadi bulan-bulanan dalam kesedihan dan terlena dengan tangisan. Saya tak boleh menyerah, apalagi bersedih. Seperti salah satu judul buku favorit saya, La Tahzan! Obatnya selain shalat, saya telepon Mama ke Jakarta. Dalam sehari bisa lima kali.
    Saya bersyukur kehamilan saya sehat. Saya alami mual-mual dan muntah pun pada saat trisemester pertama saja. Sebagaimana wanita hamil lainnya. Di Australia, USG dilakukan hanya dua kali sekitar minggu ke-12 dan minggu ke-20 untuk kehamilan sehat. Pada usia kandungan minggu ke-20, kami mengecek jenis kelamin janin. Saat alat USG menari-nari di atas perut saya, janin yang berada dalam kandungan menendang-nendang dan terdengar jelas nada detak jantungnya. Air mata kami berdua pun tak sengaja keluar karena terharu. Tak lama kemudian, Midwife (suster) memberitahu dan memperlihatkan layar monitor USG bahwa anak kami berjenis kelamin laki-laki. Alhamdulillah!   
    Ngidam? Pasti. Sepertinya semua makanan Indonesia saya idam-idamkan selama hamil. Yang menjadi kendala, kalau hasrat ngidamnya terlalu spesifik dan tidak kesampaian. Misalnya, saya ngidam nasi bungkus Padang ala restoran Sederhana, atau mie ayam Menteng, atau makanan khas Palembang tekwan buatan Mama. Waduh! Walaupun langka menemukan jajanan masakan Indonesia, untungnya saya masih bisa mengatasi ngidam tersebut.

Sehari Sebelum Melahirkan
    Berkomunikasi dengan janin dalam kandungan, selalu saya lakukan. Bahkan ketika saya memintanya sabar menunggu datuk dan neneknya datang dahulu dari Jakarta. Dan benar, Ia pun belum mau keluar dari perut saya.
Bahagia. Papa dan Mama akhirnya bisa datang untuk berkunjung dan ikut menemani saya melahirkan nanti. Seminggu Papa dan Mama di Canberra, sang janin masih betah dalam kandungan. Tanda-tanda kontraksi palsu juga belum ada. Padahal lusa adalah due date-nya, tepat dimana seluruh orang muslim merayakan hari kemenangan. Ya, saya diperkirakan akan melahirkan pada saat hari raya Idul Fitri.
    Keesokan harinya, 12 Oktober, kebetulan suami sudah mengambil cuti kerja. Kami berdua mengajak Papa dan Mama jalan-jalan untuk melihat keindahan festival bunga Floriade. Festival ini berlangsung saat musim semi setiap tahun, sekitar bulan September – Oktober. Tidak afdol rasanya kalau belum mengajak Papa dan Mama ke Floriade. Saya takut tidak sempat, apalagi bila setelah melahirkan nanti. Maka saya pun memaksa untuk menemani Papa dan Mama. Dengan berjalan membawa perut besar dalam keadaan hamil tua, saya semangat sekali untuk berjalan kaki. Katanya toh, banyak yang bilang kalau jalan kaki sehat untuk ibu hamil terutama agar persalinannya lancar.
    Tiga jam berkeliling dengan berjalan kaki dan mengitari ribuan meter luasnya, keletihan tak saya rasakan. Bahkan saya masih asyik berfoto ria dengan Papa dan Mama seraya memamerkan perut besar. Kami pun beranjak pulang ketika matahari sudah enggan untuk menampakkan dirinya.
    Sampai dirumah, saya langsung merebahkan diri di kasur sebentar. Pegalnya kaki mulai terasa sampai ke pinggang.  Sesekali Mama memijit-mijit kaki sembari bolak-balik ke dapur melihat masakannya. Malam itu beliau sedang memasak opor ayam untuk lebaran esok hari. Kalau di Jakarta, malam takbiran seperti ini mungkin sudah ramai sekali dengan irama bedug dan kumandang takbir. Tapi kalau di Australia, kami cukup mendengarkan hanya dari radio Ramadhan Australia. Kemudian, saya lanjutkan dengan menyetrika baju dan mukenah yang akan dipakai untuk shalat Ied. Saya juga masih sempat beres-beres rumah bersama suami.
    Pukul 10 malam, saya menelepon kakak-kakak dan adik-adik di Jakarta. Saat itu, keluarga besar Mama sedang berkumpul bersama. Setengah jam ditelepon dipenuhi dengan obrolan dan tawa harus saya hentikan karena saya kebelet untuk buang air kecil.
    Tiba-tiba saya melihat noda berwarna merah. Saya sama sekali tidak panik karena seperti yang sudah dijelaskan pada waktu mengikuti kelas hamil, bahwa flek tersebut merupakan tanda akan melahirkan. Saya memberitahu suami dan Mama. Mama berkata, “Sebentar lagi tuh, Ti.” Lalu saya kembali merebahkan diri. Kontraksi masih belum ada.
    Sejam kemudian, saya buang air kecil lagi. Kali ini spontan saya teriak memanggil-manggil suami dan Mama. Papa pun ikut terkejut dan berlari ke arah kamar mandi. Mereka bertiga bertanya bersaut-sautan, “kenapa?...kenapa?”. Bukan lagi flek merah yang terlihat, tetapi darah merah segar. Saya merasakan darah itu perlahan mengalir sedikit demi sedikit. Saya sangat panik sebab ada rasa takut kalau pendarahan yang terjadi.
    Suami segera menelepon rumah sakit dan menceritakan keadaan saya. Saya berusaha untuk menenangkan diri dengan tidur. Tetapi tetap saja tidak bisa. Sejam kemudian, perut keram mulai saya rasakan. Apakah ini yang dinamakan kontraksi? Kelamaan perut semakin mules. Saya menghitung sekitar dua puluh menit sekali interval-nya. Dalam dua jam, menjadi lima menit sekali. Mama sempat membuatkan minuman tradisional orang dulu, berupa campuran madu dan telur untuk saya minum.
    Saya semakin ketakutan karena pendarahan itu semakin banyak. Suami pun kelihatan kebingungan karena ini pertama kalinya dia menghadapi orang yang akan melahirkan. Akhirnya midwife menyarankan agar kami segera kerumah sakit. Saya ditemani oleh Mama dan suami, sedangkan Papa menunggu dirumah.

Detik-detik Perjuangan Melahirkan
    Tepat pukul dua pagi, tidak sampai sepuluh menit kami sampai di gedung bagian maternity rumah sakit. Empat ruang bersalin kosong semua. Senangnya saya dapat ruang bersalin VIP dengan kamar mandi di dalam, sehingga lebih memberikan saya kenyamanan dan privasi.
    Baru merebahkan badan di atas kasur, dua Midwife yang jaga malam itu memasangkan alat-alat ke bagian perut dan seputar pinggang. Alat-alat tersebut termasuk alat deteksi jantung si janin dan diagram kontraksi. Lalu, midwife memriksa bagian dalam dan ternyata saya baru bukaan satu. Prosesnya masih lama. Tetapi midwife tidak menyuruh saya pulang karena masih bukaan satu. Mungkin kalau di Jakarta, saya sudah diharuskan pulang dulu.
    Sesekali saya masih bisa tertawa mendengar candaan suami yang mencoba menghindari kepanikannya. Namun kelamaan saya rasakan mules di perut semakin sering dan teratur. Saya coba menahan dengan mengatur nafas dan menyebut asma Allah SWT.
    Azan subuh tiba-tiba berkumandang dari handphone saya. Mama segera menjalankan shalat dan kemudian bergantian dengan suami. Saya masih sibuk konsentrasi menghadapi kontraksi. Namun, saya sedikit terganggu dengan suara diluar kamar. Sepertinya ada beberapa wanita lain yang baru datang dan akan melahirkan. Ternyata benar, suami bertanya ke midwife ruangan yang lainnya sudah penuh.
    Saya sadar, saat saya terbaring di delivery room ini adalah hari raya Idul Fitri. Sempat saya menitikkan air mata dan berdoa dalam hati memohon pada-Nya kemudahan untuk melahirkan anak pertama saya.
    Setelah subuh, Ibu dan Bapak mertua datang berkunjung melihat keadaan saya. Mereka sudah rapi dengan membawa perlengkapan shalat Ied di KBRI Canberra. Suami, Papa dan Mama pun tak jadi berangkat untuk shalat Ied. Mereka tetap menunggu saya di kamar bersalin.
    Dua jam kemudian, dokter kandungan datang. Dr. Rebecca memeriksa bagian dalam lagi. Duh! Ini yang paling saya tidak suka kalau diperiksa bagian dalam. Rasanya seluruh urat dan otot di tubuh tegang semua. Sakit! Dr. Rebecca mengatakan kalau saya sudah bukaan empat. Sebentar lagi, pikir saya.
    Lalu, air ketuban saya dipecahkan. Dr. Rebecca dibantu oleh midwife membersihkan kotoran yang keluar beserta air ketuban tersebut. Alhamdulillah saya masih bisa menahan kontraksi yang sakit luar biasa. Nauudzubillah.. Saya pun tak berteriak-teriak menahan sakit seperti para wanita dikamar lainnya. Dengan jelas saya dengar mereka berteriak-teriak, bahkan berkata yang tak seharusnya patut didengar. Sampai-sampai, Dr. Rebecca bertanya “Why don’t u scream? You can scream if you want to, Iti”. Saya hanya tertawa dan memohon padanya “Doc, just give me an epidural right now please!”. Sayang sekali, epidural belum bisa diberikan karena belum dibutuhkan dan belum melewati sepuluh jam masa waktu labour (persalinan). Epidural diberikan hanya jika kondisi sang ibu dan janin dalam keadaan yang amat mendesak, terutama sudah melemah.
    Ketakutan mulai makin mendatangi saya. Sakit yang luar biasa tersebut membuat saya teringat dosa pada orang tua, terutama pada Mama. Berkali-kali saya minta maaf sama Mama dengan air mata yang berlinang. Suami pun ikut menitikkan air mata. Mulut saya tak henti-henti berkomat kamit membaca doa-doa.
    Dr. Rebecca memberikan suntik hormon untuk mempercepat kontraksi. Ini disebabkan karena pembukaannya terlalu lambat. Sementara saya dan janin yang berada dalam kandungan sudah keletihan. Namun suntikan itu tidak berpengaruh.
    Sekitar pukul 1 siang, Dr. Rebecca datang beserta seniornya, Dr. Armellin. Beliau berdua mendiskusikan tindakan yang terbaik untuk saya. Dilihat dari grafik, deteksi jantung janin sudah turun naik. Beliau harus segera mengambil tindakan. Dr. Armellin memberikan alternatif untuk saya. Beliau akan memberikan epidural guna menahan kontraksi. Dengan  harapan bukaan akan lebih cepat membesar hingga fully dilated. Ah, kenapa tidak dari tadi saja para dokter ini memberikan epidural untuk saya? Saya sudah tidak tahan lagi. Kalau setelah diberikan epidural bukaan belum juga memberikan kemajuan, maka tindakan selanjutnya operasi Caesar.

Epidural, please!
    Caesar?! Mendengar kata Caesar saja jantung saya mendadak terbelah dua! Semakin takut kalau saja harus dioperasi. Tetapi ketika saya memikirkan janin, anak pertama kami, maka apapun akan saya lakukan demi keselamatannya. Tetap, saya memohon pada Allah SWT agar saya bisa melahirkan secara normal. Akhirnya kami memilih untuk diberikan epidural terlebih dahulu.
    Saya sampai tak habis pikir, hebat sekali wanita yang bisa menahan sakit menjelang melahirkan. Mama dan ibu mertua salah satunya termasuk wanita yang hebat! Saya sendiri beberapa kali mengeluh sakit. Sepertinya kekuatan saya mulai menipis akibat amat sangat kelelahan. Mau mati rasanya!
    Kami menunggu dokter anastesi yang akan memberikan epidural untuk saya. Sambil menunggu, suami dan Mama memegang erat kedua tangan saya. Sedangkan Papa berdoa disudut ruangan.
    Ketika dokter anestesi beserta dua timnya datang, saya disuruh duduk membelakangi beliau. Berkali-kali saya bertanya dahulu pada dokternya, “Is it hurt? Are you sure I am gonna be okay after you put an epidural?” Dokter meyakinkan diri saya.
    Saya duduk tegak di atas kasur. Papa langsung keluar dari ruang bersalin dan Mama berdiri di dekat pintu sembari mengintip dari horden. Sedangkan suami memeluk saya. Beberapa detik kemudian, selang kecil epidural pelan-pelan masuk dalam tulang belakang saya. Alhamdulillah tidak sakit. Saya sempat menoleh ke arah Mama. Beliau pun menangis! Lalu, tubuh saya mati rasa. Pinggang sampai kaki tidak dapat saya rasakan, apalagi menggerakkannya. Saya pun tertidur pulas. Seperti yang dikatakan dokter, bahwa saya akan tidur selama 3 jam dan Dr. Rebecca akan memeriksa kembali bukaannya.

Diantara Dua Pilihan
    Tiga jam tertidur membuat tenaga saya kembali pulih. Semangat kembali meningkat. Pukul 16.30 saya diperiksa kembali oleh Dr. Rebecca. Puji bagi Allah SWT, saya memasuki tahap fully dilated! Spontan Dr. Rebecca berkata dengan riang, “I can see the baby’s hair”. Suami ikut melihat dan Ia tak dapat menahan tangis haru.
    Dr. Rebecca beserta seorang midwife akan membantu persalinan. Dikarenakan saya tak dapat merasakan kontraksi akibat epidural, maka beliau memberikan aba-aba kapan saya harus mulai nge-push. Sekali push, dua kali push, janin tidak keluar. Setelah diperiksa, ternyata posisi kepala sang bayi menghadap ke langit-langit. Sebaiknya posisi kepala menghadap ke bawah. Posisi ini bukanlah sungsang atau terlilit oleh tali pusar. Dalam istilah kedokteran disebut posisi posterior.
    Mengetahui posisinya seperti itu, saya berkata “Aduh nak, pasti ini karena bunda kebanyakan duduk leyeh-leyeh di lazy boy deh. Jadi kamu ikut-ikutan posisinya rebahan liat ke atas”. Suami tertawa mendengar saya berkomentar demikian.
    Saya tetap bersikeras tidak mau di Caesar. Saya yakin saya bisa melahirkan normal. Jauh sebelum tiba waktu melahirkan saya niat untuk melahirkan normal. Alhamdulillah para dokter disini begitu sabar. Mereka tidak langsung mengambil tindakan Caesar seenaknya. Bahkan Australia tidak menyarankan tindakan Caesar kecuali bila dalam keadaan terpaksa akibat kebutuhan medis bukan komersil. Maka lagi-lagi saya diberikan dua alternatif, antaranya melahirkan normal dibantu dengan alat forcep seperti sendok untuk memutar kepala bayi atau mengambil tindakan operasi Caesar.
    Saya dan suami memilih untuk menggunakan forcep dahulu. Ternyata, tindakan ini harus dilakukan di ruang operasi. Sehingga kalau dengan forcep tidak berhasil, maka langsung Caesar. Ya Allah! Hamba mohon kekuatan dari-Mu dan kemudahan untuk berjuang dijalan-Mu..
    Setelah semua siap, saya dipindahkan ke ruang operasi. Papa dan Mama menunggu di luar. Sedangkan suami setia menemani saya dan terus memegang tangan saya. Alat-alat dipersiapkan. Saya ditawarkan kaca untuk melihat prosesnya. Tetapi saya menolak sebab saya takut sekali! Pertama kalinya berada diruang operasi, menurut saya sangat menyeramkan. Horor!
    Kedua tangan saya mulai dipenuhi infus dan suntikan bius agar tidak terasa hingga ke dada. Setengah badan saya ditutupi kain putih agar saya tak melihat prosesnya. Dentingan alat-alat kedokteran semakin membuat suasana ruangan operasi bertambah menyeramkan. Aksipun dimulai.
    Bayangkan, kira-kita terdapat lima dokter dan tiga perawat dalam ruang operasi. Dr. Rebecca dan Dr. Armellin sebagai dokter kandungan, dokter anak, dokter anastesi, dokter bedah dan para perawat. Saya tak merasakan alat forcep tersebut masuk. Tetapi saya bisa melihat gunting yang dipegang Dr. Armellin dari sela-sela kain putih yang menutupi.
    Disini saya semakin ikhlas dan pasrah sama Allah SWT. Tiada daya dan upaya selain pertolongan-Nya. Apapun yang terjadi, maka terjadilah. Tiba saatnya Dr. Armellin memberikan aba-aba untuk mendorong. Dengan mengucap bismillah dan sekuat tenaga saya dorong. Sedikit demi sedikit mungkin kepala bayi diputar dengan forcep saat kontraksi datang. Tak pernah berhenti suami memberikan dukungannya, “Ayo sayang, push...push... sayang pasti bisa!” Dengan keyakinan dan semangat yang tinggi, Dr. Armellin memberikan aba-aba yang terakhir untuk mendorong. Saya tarik nafas dan mencoba mendorong yang lama dan panjang. Sampai pada akhirnya kami yang berada diruangan tersebut mendengar tangisan kencang sang buah hati. Lega!
    Tepat pada hari raya Idul Fitri, 1 Syawal 1428 H (13 Oktober 2007), pukul 17.35 waktu Australia, pangeran kecil kami lahir ke bumi dengan sehat dan selamat. Tangisan bahagia kami berdua keluar begitu saja. Saat paling mengharukan ketika tubuh mungilnya yang masih ada darah merah, berada dalam dekapan dada saya. Bahagia luar biasa, bahagia dunia akhirat. Subhannallah...Alhamdulillah…Allahuakbar!
    Keletihan dan kesakitan selama tujuh belas jam perjuangan melahirkannya, terbayar oleh kehadirannya. Saya merasa menang. Menang melawan ketakutan, kepanikan dan kesakitan yang menghantui. Bagi kami sekeluarga, ini merupakan puncak kebahagiaan dari semua kebahagiaan yang diberikan oleh-Nya hari itu. Anugerah terindah dalam hidup saya, suami dan keluarga besar pada saat hari lebaran, hari raya kemenangan. Dia yang Maha Penolong paling tertinggi untuk saya hingga dapat melahirkan dengan selamat.
    Saya dan suami berharap, kelak pangeran kecil kami ini memahami arti sebuah kehidupan. Kami berdoa agar pangeran kecil kami menjadi golongan Nabi Muhammad SAW yang berkepribadian kuat, mandiri dan selalu berbuat kebajikan di dunia. Sesuai dengan arti namanya yang kami berikan, Muhammad Renzo Abrar.
“Pangeranku, inilah 17 jam saat bunda berjuang melahirkanmu..”

The Hardest Year..Papa passed away!

Innalillahiwainnailaihirojiuun..
Minggu, 27 Maret 2011. Papa passed away.. :"(

Tepat sebulan kembali ke Canberra, mendadak dapat kabar duka Papa meninggal dunia. Tiga hari sebelum meninggal, Papa koma di Cinere Hospital sejak hari Jumat sore (25 Maret 2011).

Kronologis:


Jumat, 25 Maret 2011
Papa masih sempat untuk shalat Jumat. Setelah itu makan siang sama-sama dengan Mama, dilanjutkan leyeh2 di kamar tidur. Saat adzan Ashar berkumandang, beliau berdua bangun. Mama melanjutkan kegiatannya di dapur setelah shalat Ashar. Papa pun berwudhu dan siap untuk shalat Ashar. Disadarinya, Papa tiba-tiba lupa bacaan niat shalat. Papa minta Pak Rasyidin (tetangga yg selalu nemenin ngobrol dirumah sejak Papa kritis), untuk tulisin niat shalat. Berkali-kali Papa minta Pak Rasyidin untuk nulis (padahal Pak Rasyidin lagi nulis). Papa sepertinya gak sadar dan tekanan darahnya udah naik. Pak Rasyidin baru menuliskan kalimat "husholli.." Tiba-tiba Papa ngomongnya udah ngelantur kata Pak Rasyidin. Spontan pak Rasyidin panggil-panggil Mama di belakang. "Ibu..ibu..tolong bu, ini Pak Hady kenapa?!"

Mama lari dari dapur dan teriak "Pa, Papa..Papa kenapa?" Pak Rasyidin dan Mama coba untuk angkat Papa dibawa ke kamar. Tapi gak berhasil, Papa tinggi besar jadi berat. Papa lalu teriak dan nunjuk-nunjuk ke arah ruang keluarga. Papa bilang "Apa itu? Itu..itu apa..itu apa!" Entah apa yang Papa lihat, pdahal nggak ada apa-apa. Sebagian orang bilang Malaikat datang untuk menjemputnya. Waallahualam.. Papa kejang-kejang dan tak bisa ngomong lagi. Akhirnya pak Rasyidin minta tolong sama tetangga dan orang-orang yang kebetulan lewat di depan rumah. Papa pun dibawa ke dalam kamar. Mama langsung hubungi Yu' Ade (kakak) dan Gita (adek).

Yu' Ade dan Gita cerita, sampai dirumah mereka lihat Papa keadaannya sudah mengenaskan. Semua badannya reflek ke arah kiri. Seperti orang kena struk. Mulutnya, matanya, tangannya.. Astagfirullaha'ladziim.. Panik luar biasa! Mereka bertangisan. Papa pun yang gak bisa ngomong lagi, hanya menangis. Mereka berusaha untuk bawa Papa ke Hospital Cinere tempat Papa biasa dirawat. Tapi sayang, Papa gak bisa masuk mobil karena kaki Papa gak bisa ditekuk. Alhamdulillah ada ambulans dari Masjid di depan rumah yang bawa Papa.

Sampai di Hospital Cinere, dokter langsung bertindak. Awalnya hasil lab bilang, ada penyumbatan darah di otak. Ini yang membuat Papa kejang-kejang, struk dan tak sadarkan diri. Ada yang bilang, kalau sudah sampai ke otak..akan susah untuk diobati, bahkan diselamatkan! Kami sekeluarga pasrah, apapun yang terbaik kehendak-Nya untuk Papa.


Dalam sms Yu' Ade: "Ti, lo telepati sama Papa ya. Bilang kalo gak bisa pulang. Tapi udah ikhlas kalo emang Papa udah mau pergi. Kesian juga Papa, takutnya mengharapkan elo dateng. Sedih lo gak bisa pulang.."


Sabtu, 26 Maret 2011
Papa belum sadarkan diri. Papa masih berjuang dengan nafasnya sendiri. kami sekeluarga sepakat dan menandatangani surat untuk tidak menggunakan ventilator jika keadaan semakin memburuk (gagal nafas).

Tak tega melihat kondisinya yang sudah jauh melampaui garis batas kritis. Setiap diperbolehkan untuk melihat Papa di ruang ICU, ketika satu-persatu memanggil "Papa.." Papa hanya bisa mengeluarkan air mata tanpa berkata-kata. Bisa dibayangkan betapa tragisnya adegan itu! Sedangkan saya, hanya bisa mendengar cerita dari keluarga. Saya belum dapat pulang karena sulit mendapat tiket pesawat dalam keadaan mendesak, terlebih weekend.

Sabtu pagi, saya telepon ke Jakarta. Saya minta Gita untuk beritahu Papa bahwa saya menelepon. Gita pegang handphone sambil ditempelkannya di telinga Papa. Walaupun Papa sudah tak sadarkan diri sejak hari Jumat, saya yakin di bawah alam sadarnya Papa masih bisa mendengarkan suara saya di seberang. Papa yang tadinya masih kejang-kejang, mendadak berhenti dan tenang (begitu yang diceritakan oleh Gita) ketika Gita kasih tahu bahwa saya menelepon dan ingin ngomong dengan Papa.

Saat mulut ini memulai dengan kata panggilan "Pa..ini Iti". Tangis saya tak dapat ditahan lagi. Saya berhenti sejenak dalam hening dan hanya terdengar sayup-sayup hembusan nafas Papa.
"Pa, maaf ya.. Iti belum bisa pulang cepet. Pa, kalau Papa sudah tidak kuat lagi. Iti insyaAllah ikhlas jika Papa ingin kembali pada Allah seperti yang Papa pernah bilang waktu itu. Maafin Iti ya, Pa.. Iti sayang Papa"

Tak kuat lagi saya banyak berkata. Saya lanjutkan untuk ngomong dengan Gita dan Ia bertanya kapan saya bisa pulang. Saya dan suami terus berusaha mencari tiket pesawat. Tapi sayang, tak semudah yang kami inginkan. Gemas rasanya ketika dalam keadaan yang mendesak seperti ini, saya tak bisa banyak berbuat apa-apa. Hanya terus  berkirim doa untuk Papa. Kaki ini sudah tak sabar berlari untuk segera memeluk Papa.


Minggu, 27 Maret 2011
Tiba-tiba Yu' Ade sms: "Telepon gue sekarang!" Hati semakin kalut melihat smsnya. Pikiran buruk pun mulai datang. Baru saja saya bilang "Halo Yu'.." Terdengar tangisan kuat dari seberang. Jelas, saya pun tak dapat menahan tangis. Pertama kalinya saya mendengar Yu' Ade menangis kencang! Yu' Ade ingin saya cepat pulang dan tak menyesal bila tak sempat bertemu Papa lagi. Renzo, anak saya pun ikut menangis ketika melihat saya menangis.

Saya harus pulang, begitu keinginan hati! Suami berusaha terus mencari tiket. Alhamdulillah saya dapet tiket pesawat yang akan terbang esok sore waktu Australia (Senin). Saya masih ada harapan kecil kalau sempat bertemu Papa.

Papa sudah gak kejang lagi. Matanya sudah tertutup rapat, seperti orang sedang tidur. Hanya suara nafasnya pelan yang masih terdengar dan mencoba untuk berjuang antara hidup dan mati. Keluarga bilang, telinga Papa seperti ketarik naik ke atas dan ubun-ubun kepalanya penuh dengan butiran keringat. Subhanallah.. Lagi, katanya ini tanda sudah dekat dan sakaratul maut yang mudah bagi orang yang sholeh. Mudah-mudahan ya, Pa..Amiiin.. Yang pasti tekanan nadi Papa sudah semakin menurun, antara 40-60. Sebelumnya sempat turun-naik, stabil di angka 70-90.

Setelah melakukan shalat tahajud malamnya, saya mencoba untuk tidur tetapi tak bisa nyenyak. Tiba-tiba sekitar jam 3 pagi waktu Australia (23.15 WIB), terdengar bunyi suara handphone saya berkali-kali. Saya lihat isi sms didalamnya: "Innalillahi.." Pembuka kalimat itu membuat saya dan suami terbangun! Saya menangis luar biasa! Keluarga di Jakarta menelepon untuk mengabarkan berita duka. Saya sudah tak dapat lagi berbicara, hanya menangis..menangis..dan menangis!

Papa meninggal dunia, Minggu 27 Maret 2011 pukul 23.10 WIB. Setelah istri dan kelima anak perempuannya telah ikhlas, Papa terlihat lebih ringan untuk kembali kepada Allah SWT. Bahkan setengah jam sebelum Papa meninggal dunia, sepertinya Papa menunggu Yu'Epi (kakak pertama yang belum sempat menemui Papa) untuk pulang ke Jakarta dari Palembang. Mama yang menyaksikan sendiri detik-detik halusnya sakaratul maut menjemput Papa dengan diiringi alunan doa dan ayat-ayat cinta.
Innalillahiwainnailaihirojiuun..


Senin, 28 Maret 2011.
Papa dikuburkan di TPU Srengseng Sawah, pukul 10.00 WIB pagi. Saya dan Renzo baru tiba di rumah pukul 20.30 WIB. Tak ada yang perlu disesali, terutama terlambatnya saya pulang ke Jakarta. Sebab insyaAllah hati telah ikhlas lebih dulu. Saya bahagia masih sempat bertemu dan menemani Papa sebulan sebelum kepergiannya, terutama ketika Papa di rumah sakit.

Saya teringat, pelukan dan ciuman terakhir kami (25 Februari 2011). Saya harus kembali ke Canberra. Papa yang biasanya bisa mengantarkan saya ke bandara, kini tak mampu lagi. Papa menangis dan berkata, "Hati-hati di jalan ya Ti. Mungkin ini yang terakhir kalinya..Mungkin Papa gak bisa ketemu kamu lagi.." Saya ikut menangis. Seakan memang sudah waktunya. Ketika mobil sudah berada di depan gerbang rumah kami dan siap untuk berangkat. Hati saya bersikeras untuk keluar dari mobil. Saya pun berlari untuk kembali ke dalam rumah. Saya peluk erat dan cium Papa lagi. Kemudian saya minta maaf pada Papa. Dan memang benar, ternyata hari itulah terakhir kami bersama..  

Pa, maafin Iti yang tak sempat menemani saat ajal memanggil Papa
Tak apa, tak pernah ada kata selamat tinggal
InsyaAllah Iti sudah Ikhlas

Mungkin dengan begini Papa lebih bahagia
Tersenyum lega karena lepas segala derita
Iti memohon agar Allah SWT melapangkan kubur Papa
memberi penerangan oleh cahaya-Nya
memberi kesejukan didalamnya
Iti selalu berharap, surga kini sedang menunggu Papa 
Doa dan cinta pun akan terus mengalir, Pa 

I love, you..

Thursday, March 24, 2011

Mendadak Mudik Lagi!

Halooo..

Udah lama banget gak nge-blog! Kangen!
Mumpung Nzo lagi tidur, mau cerita sebentar nih..

Baru nongol lagi, soalnya banyak pikiran euy! (gayaaa banget ya!) :') Ya iya, mendadak awal tahun ini harus pulang lagi ke Indonesia, karena Papa saya sakit keras lagi. Intinya, kambuh lagi. Again, kepulangan ke Jakarta bukan untuk liburan..so, campur2 deh perasaan! Mixed Feelings!!
Berita dari Jakarta sudah semakin bikin jantung selalu deg-degan tiap hari. Kondisi Papa saya yang makin memburuk, ditambah keras kepala beliau yg udah gak mau ke dokter! Pasrah! Although he knew that he was dying at that time! Maka, makin bersikeraslah saya, suami n Nzo pulang ke Jakarta!


Sampe Jakarta, beliau nangis dan memeluk erat saya! Pelan-pelan saya bujuk Papa biar mau ke dokter. Oia, beliau terkena gagal ginjal since 4 years ago. Awal sakit, beliau sempat operasi prostat dan dirawat sebulan lebih di RS. Cuci darah pun sempat 3x seminggu. Kelamaan karena gak sanggup tubuhnya, Papa coba pengobatan alternatif. Tapi setelah 3 tahun belakangan, pengobatan tersebut sudah maksimal. AKhirnya kondisi Papa makin memburuk. Makin sering mengigau, darah tinggi naik terus, sesak nafas bisa sampai lebih dr 5 x sehari, dll. Alhamdulillah, akhirnya Papa mau diajak ke dokter. Mulailah Papa mengulang pemeriksaan total dari cek lab. Hasilnya, dokter sendiri bilang "Bapak prestasinya luar biasa, Hebat!". Maksudnya, Papa hebat banget masih bisa bertahan dibandingkan pasien lain. Hasil lab-nya MERAH semua!!


MUlai deh Papa di rawat lagi di RS, nambah darah dan cuci darah lagi. Melihatnya terbaring lemah di ruang hemodialisa (cuci darah), buat saya miris! Sedih! Tapi itu solusi untuk Papa, melalui cuci darah seumur hidup! Dokter mengatakan, Papa sudah bukan tahap gagal ginjal kronis. Tapi lebih dari kronis, namanya Gagal Ginjal Terminal! :'(


Yg terpenting saya berdoa agar Papa diberikan yang terbaik dari-Nya. Amiiin..insyaallah..
Itu aja tentang Papa. Makin diceritain makin sedih..


Setelah kembali ke Canberra, kecapean + jetlag belom bisa hilang. Saya langsung sibuk urus persiapan kegiatan Pelatihan Menulis bersama Habiburrahman El Shirazy (kang Abik), sebab saya ketua pelaksana acara tersebut. Bayangkan, baru sampe Canberra, minggu depannya sudah harus urus event itu! Untung sedikit lebih mudah karena dibantu teman-teman panitia. Nanti saya cerita Pelatihan Menulis ini.. :)
Belum lagi, setelah kegiatan Pelatihan Menulis, seminggu kemudian saya ikuti Baby & Kids Market karena sudah terlanjur booking jauh hari. Hadooooh, beneran capek! Alhamdulillah, sudah booking untuk aromatheraphy massage biar bisa relax! :)

Tuesday, October 26, 2010

puisi: Cinta Hakiki

Coba-coba ikutan lomba puisi yg diselenggarain sama FLP Riau. Namanya juga coba-coba dan sebelom kirim pun udah feeling gak bakal lolos. Beneran! Liat pengumumannya tadi di facebook, masuk 70 besar pun nggak!!! hahaha.. Ya iyalah, yang ikutan aja ada 500an! Ditambah, puisi saya masih kurang banget gregetnya! Mungkin gak sepuitis puisi2 yang lainnya. Halaaaah! Tapi gak papa, itu namanya belum rejeki.. :)

Jadi inget waktu lomba puisi International Open Poetry Contest 2002. Puisi saya berbahas Inggris (Thank God) masuk deretan finalis + jadi special participant dalam bentuk buku dan CD. Jadi tambah heran, kok bikin puisi bahasa Indo gak lolos..malah puisi bahasa Inggris yang bisa lolos! hihihihi..lucu!

Dibawah ini puisi yang coba saya kirimkan ke Lomba Puisi FTD Riau tersebut. Gimana menurut Anda? ;p

CINTA HAKIKI
(De Veha)

Kutapaki setiap jalan dalam hidup
Kuarungi dengan hati yang redup
Satu, dua, tiga, langkah tetap tertutup
Kaku bagaikan manusia salju di kutub

Setiap kegundahan kucari cinta, sampai pintu kebahagiaan terbuka
Aku lega, hidupku penuh warna
Kutemukan jalanku
Kutemukan cintaku pada-Mu
Cinta yang abadi dan hakiki

Tuesday, October 19, 2010

South Bank Parklands, Brisbane


Kalo liburan bareng keluarga (terutama sama anak-anak) ke kota Brisbane, Australia, jangan lupa ya main ke South Bank Parklands. Dijamin seru & gak mau pulang!
The Arbour

Disini, bisa kita liat tuh The Arbour (simbolnya South Bank). Baja yang meliuk-liuk ditumbuhi bunga bougenvile sbg penghias sepanjang path South Bank Parklands. Trus, yang mengasikkan ada pantai di tengah-tengah kota! Bayangin deh! Jadi, kita bisa sekedar main air di Kids Aquatic-nya atau berenang di Streets Beach sepuasnya! Pasti anak-anak suka banget dan beneran GAK MAU PULANG! hehe..


Trus, kita juga bisa menikmati keindahan jantung kota Brisbane lengkap dengan seluk beluknya dari atas The Wheel of Brisbane. Nikmaaat!!! :)

Lebih lengkapnya, silakan intip http://www.visitsouthbank.com.au/  
Ini baru South Bank aja loh, belom daerah Brisbane yang lain or gudangnya hiburan di Gold Coast!!

Monday, October 18, 2010

puisi: Kado Pernikahan

Dibuat saat menjelang pernikahan kakak, Juli 2004, dan di edit ulang saat pernikahan saya.


Aku bahagia
Engkau satukan dua jiwa dalam ikatan cinta, dari dua rusuk yang berbeda
Dua jiwa yang mencoba hidup sempurna tatkala sebagai anugrah
Dua jiwa yang berjanji dibawah pelangi surga, bersama meniti jalan di taman bunga
Dua jiwa yang mengharap belas kasih-Mu
Untuk dapat menghias pigura pada sebuah lentera

Pagi ini aku saksikan titik air mata bahagia
Yang menciptakan muara tangis dunia baru
Berikan mereka keinginan untuk berserah diri akan pertemuan dan perpisahan karena cinta-Mu
Berikan mereka sebuah mahkota hati yang sungguh mencintai, menyayangi dan memadu kasih hingga diujung waktu..

the Great Ocean Road, Victoria-Australia


This is the world's most scenic roads!

Perjalanan darat dari kota Melbourne kira-kira 3-4 jam. Tergantung kita mau menyusuri pantai atau nggak. Liburan ke Melbourne untuk yang kedua kalinya ini, kita siapin satu hari jalan-jalan menyusuri pantai Great Ocean Road & melihat 12 Apostles.

Memang, cukup lama di dalam mobil. Pegel! Capek! Apalagi jalanannya berkelok-kelok, turun-naik. Masuk-keluar hutan, masuk keluar farm ville. Ditambah, hujan datang dan berhenti sekali-sekali. Tapi keletihan itu terbayar dengan keindahan pemandangan di sepanjang perjalanan. Subhanallah!

Di sepanjang menyusuri pantai Great Ocean Road itu, terdapat tempat-tempat tertentu sebagai titik terbaik untuk melihat keindahan alam yang dapat dinikmati sebebasnya! Yang seru saat melewati pepohonan equaliptus, ada koala yang bertengger disana sedang makan daunnya.

Sampai pada akhirnya, kita tiba di tempat wisata yg populer "12 Apostles". Susunan 12 batu yang tingginya hampir mencapai 70 meter. Ini terjadi karena erosi pada tebing sejak 10-20 juta tahun lalu. Yang pasti, gak sia-sia jauh2 kesana soalnya pemandangannya KEREEEENNNN!!!!!!!!!