Notebook: De Veha

Writing is my passion..my love!


Sunday, May 8, 2011

Buku 2 - Antologi "Berjuanglah Bunda Tidak Sendiri"


Buku kedua saya, namun buku antologi pertama yang ditulis bareng Naqiyyah Syam, Qonita Musa, dkk. Baca cerita saya dalam bab Ruang Bersalin Satu, dengan judul TUJUHBELAS JAM PERJUANGAN.

Dapatkan segera di toko buku seluruh Indonesia!
Terbit: 11 May 2011
Penerbit: Elex Media

SINOPSIS
Melahirkan di mana saja; di desa, di kota, bahkan di luar negeri, dengan bidan atau dengan dokter spesialis, selalu mendatangkan rasa yang sama. Meski sedikit, rasa sakit itu pasti ada.
Yang kelihatan mudah pun, melahirkan dengan teknik epidural misalnya, akan membawa rasa sakit ketika menyuntikkannya pada tulang belakang walau kadarnya hanya setitik. Faktanya, dengan berbagai teknik yang dilakukan oleh paramedis atau ibu hamil itu sendiri, rasa sakit bisa diminimalisasi. Nah, Bunda bisa segera menemukan jawaban dengan membaca curhat para Bunda di buku ini.
Dalam buku ini, Bunda akan menemui beragam fakta yang akan membantu Bunda untuk sigap mengenali dan mempersiapkan kelahiran yang terbaik. Bunda bisa segera mengonsultasikan segala kekhawatiran Bunda dengan bidan atau dokter yang menangani kehamilan Bunda.
Cara melahirkan apapun yang Bunda pilih, semua istimewa! Buku ini terbagi atas empat ruang bersalin. Masing-masing ruang merepresentasikan kelahiran anak yang keberapa. Belum tentu melahirkan anak yang pertama lebih sakit daripada kelahiran anak yang kedua, dan seterusnya.
Spesial, pada kelahiran anak pertama, kami mengumpulkan banyak cerita karena pada umumnya, seorang Bunda akan mengalami kecemasan yang lebih tinggi pada kehamilannya yang pertama. Bunda bisa mengambil manfaat dari cerita-cerita yang dituliskan. Plus dilengkapi dengan tip-tip seputar melahirkan.

TUJUHBELAS JAM PERJUANGAN
    Dua minggu setelah menikah, saya langsung ditinggal sang suami ke Australia. Ia memang sudah puluhan tahun menetap di ibukota Australia, Canberra, bersama dengan kedua orang tuanya. Ia tidak bisa cuti lama karena pekerjaan dan kuliah masternya. Kami pun rela harus berpisah jarak dan waktu selama hampir 4 bulan. Selama waktu tersebut, saya sibuk melakukan persiapan pengurusan spouse visa untuk menetap disana bersamanya. Alhamdulillah, pengurusan tersebut selesai hanya sebulan saja.
    Setelah sebulan pertama, rasa rindu makin memuncak. Apalagi kami pengantin baru yang masih hangat-hangatnya. Walaupun saya berasal dari keluarga besar dan memiliki 4 saudara perempuan kandung. Sedikit rasa kesepian tak berada di samping suami tetap ada. Tidak heran, saya ingin segera memiliki keturunan.
    Saat suami datang ke Jakarta untuk menjemput, saya bahagia sekali. Beberapa hari kemudian kami berdua dan keluarga besar saya mengadakan tour de Java. Tujuan perjalanan kami ke Jogjakarta & Purwokerto, kebetulan kami ingin mengunjungi mertuanya kakak saya. Capek tapi senang. Namun yang paling berkesan adalah hasil dari perjalanan tersebut. Mengapa? Saya hamil!

Masa Kehamilan
    Hari keberangkatan diliputi dua perasaan. Senang karena saya hamil, sedih karena saya meninggalkan keluarga besar. Ini pertama kalinya saya akan jauh dari keluarga. Namun, perasaan dilema saya abaikan.
    Bulan-bulan pertama menetap di negeri orang, cukup sulit untuk saya. Perlahan saya belajar untuk beradaptasi dengan kehidupan dan kebiasaan orang Australia. Apalagi dalam keadaan hamil, pastilah emosi kadang lebih tinggi tingkatnya daripada logika. Selama hamil saya banyak marah dengan suami. Selain faktor hormon hamil, mungkin juga karena kami baru membina rumah tangga bersama. Padahal, tak selamanya suami punya kesalahan. Bahkan kadang Ia hanya memberikan saran. Tetapi saat itu, saya memang amat sensitif. Untung, sang suami mengerti keadaan emosi saya. Nangis, tentu saja. Bahkan hampir setiap hari! Tangisan menjadi teman baik saya, terutama saat saya merasa kesepian di rumah. Sendirian!
    Cukup berat bagi saya menghadapi hari demi hari. Suami kerja dan saya belum memiliki teman. Ayah dan Ibu mertua pun bekerja. Namun saya tak mau menjadi bulan-bulanan dalam kesedihan dan terlena dengan tangisan. Saya tak boleh menyerah, apalagi bersedih. Seperti salah satu judul buku favorit saya, La Tahzan! Obatnya selain shalat, saya telepon Mama ke Jakarta. Dalam sehari bisa lima kali.
    Saya bersyukur kehamilan saya sehat. Saya alami mual-mual dan muntah pun pada saat trisemester pertama saja. Sebagaimana wanita hamil lainnya. Di Australia, USG dilakukan hanya dua kali sekitar minggu ke-12 dan minggu ke-20 untuk kehamilan sehat. Pada usia kandungan minggu ke-20, kami mengecek jenis kelamin janin. Saat alat USG menari-nari di atas perut saya, janin yang berada dalam kandungan menendang-nendang dan terdengar jelas nada detak jantungnya. Air mata kami berdua pun tak sengaja keluar karena terharu. Tak lama kemudian, Midwife (suster) memberitahu dan memperlihatkan layar monitor USG bahwa anak kami berjenis kelamin laki-laki. Alhamdulillah!   
    Ngidam? Pasti. Sepertinya semua makanan Indonesia saya idam-idamkan selama hamil. Yang menjadi kendala, kalau hasrat ngidamnya terlalu spesifik dan tidak kesampaian. Misalnya, saya ngidam nasi bungkus Padang ala restoran Sederhana, atau mie ayam Menteng, atau makanan khas Palembang tekwan buatan Mama. Waduh! Walaupun langka menemukan jajanan masakan Indonesia, untungnya saya masih bisa mengatasi ngidam tersebut.

Sehari Sebelum Melahirkan
    Berkomunikasi dengan janin dalam kandungan, selalu saya lakukan. Bahkan ketika saya memintanya sabar menunggu datuk dan neneknya datang dahulu dari Jakarta. Dan benar, Ia pun belum mau keluar dari perut saya.
Bahagia. Papa dan Mama akhirnya bisa datang untuk berkunjung dan ikut menemani saya melahirkan nanti. Seminggu Papa dan Mama di Canberra, sang janin masih betah dalam kandungan. Tanda-tanda kontraksi palsu juga belum ada. Padahal lusa adalah due date-nya, tepat dimana seluruh orang muslim merayakan hari kemenangan. Ya, saya diperkirakan akan melahirkan pada saat hari raya Idul Fitri.
    Keesokan harinya, 12 Oktober, kebetulan suami sudah mengambil cuti kerja. Kami berdua mengajak Papa dan Mama jalan-jalan untuk melihat keindahan festival bunga Floriade. Festival ini berlangsung saat musim semi setiap tahun, sekitar bulan September – Oktober. Tidak afdol rasanya kalau belum mengajak Papa dan Mama ke Floriade. Saya takut tidak sempat, apalagi bila setelah melahirkan nanti. Maka saya pun memaksa untuk menemani Papa dan Mama. Dengan berjalan membawa perut besar dalam keadaan hamil tua, saya semangat sekali untuk berjalan kaki. Katanya toh, banyak yang bilang kalau jalan kaki sehat untuk ibu hamil terutama agar persalinannya lancar.
    Tiga jam berkeliling dengan berjalan kaki dan mengitari ribuan meter luasnya, keletihan tak saya rasakan. Bahkan saya masih asyik berfoto ria dengan Papa dan Mama seraya memamerkan perut besar. Kami pun beranjak pulang ketika matahari sudah enggan untuk menampakkan dirinya.
    Sampai dirumah, saya langsung merebahkan diri di kasur sebentar. Pegalnya kaki mulai terasa sampai ke pinggang.  Sesekali Mama memijit-mijit kaki sembari bolak-balik ke dapur melihat masakannya. Malam itu beliau sedang memasak opor ayam untuk lebaran esok hari. Kalau di Jakarta, malam takbiran seperti ini mungkin sudah ramai sekali dengan irama bedug dan kumandang takbir. Tapi kalau di Australia, kami cukup mendengarkan hanya dari radio Ramadhan Australia. Kemudian, saya lanjutkan dengan menyetrika baju dan mukenah yang akan dipakai untuk shalat Ied. Saya juga masih sempat beres-beres rumah bersama suami.
    Pukul 10 malam, saya menelepon kakak-kakak dan adik-adik di Jakarta. Saat itu, keluarga besar Mama sedang berkumpul bersama. Setengah jam ditelepon dipenuhi dengan obrolan dan tawa harus saya hentikan karena saya kebelet untuk buang air kecil.
    Tiba-tiba saya melihat noda berwarna merah. Saya sama sekali tidak panik karena seperti yang sudah dijelaskan pada waktu mengikuti kelas hamil, bahwa flek tersebut merupakan tanda akan melahirkan. Saya memberitahu suami dan Mama. Mama berkata, “Sebentar lagi tuh, Ti.” Lalu saya kembali merebahkan diri. Kontraksi masih belum ada.
    Sejam kemudian, saya buang air kecil lagi. Kali ini spontan saya teriak memanggil-manggil suami dan Mama. Papa pun ikut terkejut dan berlari ke arah kamar mandi. Mereka bertiga bertanya bersaut-sautan, “kenapa?...kenapa?”. Bukan lagi flek merah yang terlihat, tetapi darah merah segar. Saya merasakan darah itu perlahan mengalir sedikit demi sedikit. Saya sangat panik sebab ada rasa takut kalau pendarahan yang terjadi.
    Suami segera menelepon rumah sakit dan menceritakan keadaan saya. Saya berusaha untuk menenangkan diri dengan tidur. Tetapi tetap saja tidak bisa. Sejam kemudian, perut keram mulai saya rasakan. Apakah ini yang dinamakan kontraksi? Kelamaan perut semakin mules. Saya menghitung sekitar dua puluh menit sekali interval-nya. Dalam dua jam, menjadi lima menit sekali. Mama sempat membuatkan minuman tradisional orang dulu, berupa campuran madu dan telur untuk saya minum.
    Saya semakin ketakutan karena pendarahan itu semakin banyak. Suami pun kelihatan kebingungan karena ini pertama kalinya dia menghadapi orang yang akan melahirkan. Akhirnya midwife menyarankan agar kami segera kerumah sakit. Saya ditemani oleh Mama dan suami, sedangkan Papa menunggu dirumah.

Detik-detik Perjuangan Melahirkan
    Tepat pukul dua pagi, tidak sampai sepuluh menit kami sampai di gedung bagian maternity rumah sakit. Empat ruang bersalin kosong semua. Senangnya saya dapat ruang bersalin VIP dengan kamar mandi di dalam, sehingga lebih memberikan saya kenyamanan dan privasi.
    Baru merebahkan badan di atas kasur, dua Midwife yang jaga malam itu memasangkan alat-alat ke bagian perut dan seputar pinggang. Alat-alat tersebut termasuk alat deteksi jantung si janin dan diagram kontraksi. Lalu, midwife memriksa bagian dalam dan ternyata saya baru bukaan satu. Prosesnya masih lama. Tetapi midwife tidak menyuruh saya pulang karena masih bukaan satu. Mungkin kalau di Jakarta, saya sudah diharuskan pulang dulu.
    Sesekali saya masih bisa tertawa mendengar candaan suami yang mencoba menghindari kepanikannya. Namun kelamaan saya rasakan mules di perut semakin sering dan teratur. Saya coba menahan dengan mengatur nafas dan menyebut asma Allah SWT.
    Azan subuh tiba-tiba berkumandang dari handphone saya. Mama segera menjalankan shalat dan kemudian bergantian dengan suami. Saya masih sibuk konsentrasi menghadapi kontraksi. Namun, saya sedikit terganggu dengan suara diluar kamar. Sepertinya ada beberapa wanita lain yang baru datang dan akan melahirkan. Ternyata benar, suami bertanya ke midwife ruangan yang lainnya sudah penuh.
    Saya sadar, saat saya terbaring di delivery room ini adalah hari raya Idul Fitri. Sempat saya menitikkan air mata dan berdoa dalam hati memohon pada-Nya kemudahan untuk melahirkan anak pertama saya.
    Setelah subuh, Ibu dan Bapak mertua datang berkunjung melihat keadaan saya. Mereka sudah rapi dengan membawa perlengkapan shalat Ied di KBRI Canberra. Suami, Papa dan Mama pun tak jadi berangkat untuk shalat Ied. Mereka tetap menunggu saya di kamar bersalin.
    Dua jam kemudian, dokter kandungan datang. Dr. Rebecca memeriksa bagian dalam lagi. Duh! Ini yang paling saya tidak suka kalau diperiksa bagian dalam. Rasanya seluruh urat dan otot di tubuh tegang semua. Sakit! Dr. Rebecca mengatakan kalau saya sudah bukaan empat. Sebentar lagi, pikir saya.
    Lalu, air ketuban saya dipecahkan. Dr. Rebecca dibantu oleh midwife membersihkan kotoran yang keluar beserta air ketuban tersebut. Alhamdulillah saya masih bisa menahan kontraksi yang sakit luar biasa. Nauudzubillah.. Saya pun tak berteriak-teriak menahan sakit seperti para wanita dikamar lainnya. Dengan jelas saya dengar mereka berteriak-teriak, bahkan berkata yang tak seharusnya patut didengar. Sampai-sampai, Dr. Rebecca bertanya “Why don’t u scream? You can scream if you want to, Iti”. Saya hanya tertawa dan memohon padanya “Doc, just give me an epidural right now please!”. Sayang sekali, epidural belum bisa diberikan karena belum dibutuhkan dan belum melewati sepuluh jam masa waktu labour (persalinan). Epidural diberikan hanya jika kondisi sang ibu dan janin dalam keadaan yang amat mendesak, terutama sudah melemah.
    Ketakutan mulai makin mendatangi saya. Sakit yang luar biasa tersebut membuat saya teringat dosa pada orang tua, terutama pada Mama. Berkali-kali saya minta maaf sama Mama dengan air mata yang berlinang. Suami pun ikut menitikkan air mata. Mulut saya tak henti-henti berkomat kamit membaca doa-doa.
    Dr. Rebecca memberikan suntik hormon untuk mempercepat kontraksi. Ini disebabkan karena pembukaannya terlalu lambat. Sementara saya dan janin yang berada dalam kandungan sudah keletihan. Namun suntikan itu tidak berpengaruh.
    Sekitar pukul 1 siang, Dr. Rebecca datang beserta seniornya, Dr. Armellin. Beliau berdua mendiskusikan tindakan yang terbaik untuk saya. Dilihat dari grafik, deteksi jantung janin sudah turun naik. Beliau harus segera mengambil tindakan. Dr. Armellin memberikan alternatif untuk saya. Beliau akan memberikan epidural guna menahan kontraksi. Dengan  harapan bukaan akan lebih cepat membesar hingga fully dilated. Ah, kenapa tidak dari tadi saja para dokter ini memberikan epidural untuk saya? Saya sudah tidak tahan lagi. Kalau setelah diberikan epidural bukaan belum juga memberikan kemajuan, maka tindakan selanjutnya operasi Caesar.

Epidural, please!
    Caesar?! Mendengar kata Caesar saja jantung saya mendadak terbelah dua! Semakin takut kalau saja harus dioperasi. Tetapi ketika saya memikirkan janin, anak pertama kami, maka apapun akan saya lakukan demi keselamatannya. Tetap, saya memohon pada Allah SWT agar saya bisa melahirkan secara normal. Akhirnya kami memilih untuk diberikan epidural terlebih dahulu.
    Saya sampai tak habis pikir, hebat sekali wanita yang bisa menahan sakit menjelang melahirkan. Mama dan ibu mertua salah satunya termasuk wanita yang hebat! Saya sendiri beberapa kali mengeluh sakit. Sepertinya kekuatan saya mulai menipis akibat amat sangat kelelahan. Mau mati rasanya!
    Kami menunggu dokter anastesi yang akan memberikan epidural untuk saya. Sambil menunggu, suami dan Mama memegang erat kedua tangan saya. Sedangkan Papa berdoa disudut ruangan.
    Ketika dokter anestesi beserta dua timnya datang, saya disuruh duduk membelakangi beliau. Berkali-kali saya bertanya dahulu pada dokternya, “Is it hurt? Are you sure I am gonna be okay after you put an epidural?” Dokter meyakinkan diri saya.
    Saya duduk tegak di atas kasur. Papa langsung keluar dari ruang bersalin dan Mama berdiri di dekat pintu sembari mengintip dari horden. Sedangkan suami memeluk saya. Beberapa detik kemudian, selang kecil epidural pelan-pelan masuk dalam tulang belakang saya. Alhamdulillah tidak sakit. Saya sempat menoleh ke arah Mama. Beliau pun menangis! Lalu, tubuh saya mati rasa. Pinggang sampai kaki tidak dapat saya rasakan, apalagi menggerakkannya. Saya pun tertidur pulas. Seperti yang dikatakan dokter, bahwa saya akan tidur selama 3 jam dan Dr. Rebecca akan memeriksa kembali bukaannya.

Diantara Dua Pilihan
    Tiga jam tertidur membuat tenaga saya kembali pulih. Semangat kembali meningkat. Pukul 16.30 saya diperiksa kembali oleh Dr. Rebecca. Puji bagi Allah SWT, saya memasuki tahap fully dilated! Spontan Dr. Rebecca berkata dengan riang, “I can see the baby’s hair”. Suami ikut melihat dan Ia tak dapat menahan tangis haru.
    Dr. Rebecca beserta seorang midwife akan membantu persalinan. Dikarenakan saya tak dapat merasakan kontraksi akibat epidural, maka beliau memberikan aba-aba kapan saya harus mulai nge-push. Sekali push, dua kali push, janin tidak keluar. Setelah diperiksa, ternyata posisi kepala sang bayi menghadap ke langit-langit. Sebaiknya posisi kepala menghadap ke bawah. Posisi ini bukanlah sungsang atau terlilit oleh tali pusar. Dalam istilah kedokteran disebut posisi posterior.
    Mengetahui posisinya seperti itu, saya berkata “Aduh nak, pasti ini karena bunda kebanyakan duduk leyeh-leyeh di lazy boy deh. Jadi kamu ikut-ikutan posisinya rebahan liat ke atas”. Suami tertawa mendengar saya berkomentar demikian.
    Saya tetap bersikeras tidak mau di Caesar. Saya yakin saya bisa melahirkan normal. Jauh sebelum tiba waktu melahirkan saya niat untuk melahirkan normal. Alhamdulillah para dokter disini begitu sabar. Mereka tidak langsung mengambil tindakan Caesar seenaknya. Bahkan Australia tidak menyarankan tindakan Caesar kecuali bila dalam keadaan terpaksa akibat kebutuhan medis bukan komersil. Maka lagi-lagi saya diberikan dua alternatif, antaranya melahirkan normal dibantu dengan alat forcep seperti sendok untuk memutar kepala bayi atau mengambil tindakan operasi Caesar.
    Saya dan suami memilih untuk menggunakan forcep dahulu. Ternyata, tindakan ini harus dilakukan di ruang operasi. Sehingga kalau dengan forcep tidak berhasil, maka langsung Caesar. Ya Allah! Hamba mohon kekuatan dari-Mu dan kemudahan untuk berjuang dijalan-Mu..
    Setelah semua siap, saya dipindahkan ke ruang operasi. Papa dan Mama menunggu di luar. Sedangkan suami setia menemani saya dan terus memegang tangan saya. Alat-alat dipersiapkan. Saya ditawarkan kaca untuk melihat prosesnya. Tetapi saya menolak sebab saya takut sekali! Pertama kalinya berada diruang operasi, menurut saya sangat menyeramkan. Horor!
    Kedua tangan saya mulai dipenuhi infus dan suntikan bius agar tidak terasa hingga ke dada. Setengah badan saya ditutupi kain putih agar saya tak melihat prosesnya. Dentingan alat-alat kedokteran semakin membuat suasana ruangan operasi bertambah menyeramkan. Aksipun dimulai.
    Bayangkan, kira-kita terdapat lima dokter dan tiga perawat dalam ruang operasi. Dr. Rebecca dan Dr. Armellin sebagai dokter kandungan, dokter anak, dokter anastesi, dokter bedah dan para perawat. Saya tak merasakan alat forcep tersebut masuk. Tetapi saya bisa melihat gunting yang dipegang Dr. Armellin dari sela-sela kain putih yang menutupi.
    Disini saya semakin ikhlas dan pasrah sama Allah SWT. Tiada daya dan upaya selain pertolongan-Nya. Apapun yang terjadi, maka terjadilah. Tiba saatnya Dr. Armellin memberikan aba-aba untuk mendorong. Dengan mengucap bismillah dan sekuat tenaga saya dorong. Sedikit demi sedikit mungkin kepala bayi diputar dengan forcep saat kontraksi datang. Tak pernah berhenti suami memberikan dukungannya, “Ayo sayang, push...push... sayang pasti bisa!” Dengan keyakinan dan semangat yang tinggi, Dr. Armellin memberikan aba-aba yang terakhir untuk mendorong. Saya tarik nafas dan mencoba mendorong yang lama dan panjang. Sampai pada akhirnya kami yang berada diruangan tersebut mendengar tangisan kencang sang buah hati. Lega!
    Tepat pada hari raya Idul Fitri, 1 Syawal 1428 H (13 Oktober 2007), pukul 17.35 waktu Australia, pangeran kecil kami lahir ke bumi dengan sehat dan selamat. Tangisan bahagia kami berdua keluar begitu saja. Saat paling mengharukan ketika tubuh mungilnya yang masih ada darah merah, berada dalam dekapan dada saya. Bahagia luar biasa, bahagia dunia akhirat. Subhannallah...Alhamdulillah…Allahuakbar!
    Keletihan dan kesakitan selama tujuh belas jam perjuangan melahirkannya, terbayar oleh kehadirannya. Saya merasa menang. Menang melawan ketakutan, kepanikan dan kesakitan yang menghantui. Bagi kami sekeluarga, ini merupakan puncak kebahagiaan dari semua kebahagiaan yang diberikan oleh-Nya hari itu. Anugerah terindah dalam hidup saya, suami dan keluarga besar pada saat hari lebaran, hari raya kemenangan. Dia yang Maha Penolong paling tertinggi untuk saya hingga dapat melahirkan dengan selamat.
    Saya dan suami berharap, kelak pangeran kecil kami ini memahami arti sebuah kehidupan. Kami berdoa agar pangeran kecil kami menjadi golongan Nabi Muhammad SAW yang berkepribadian kuat, mandiri dan selalu berbuat kebajikan di dunia. Sesuai dengan arti namanya yang kami berikan, Muhammad Renzo Abrar.
“Pangeranku, inilah 17 jam saat bunda berjuang melahirkanmu..”

2 comments:

  1. Testimoni pembaca, Dewi Pramudi Ismi (Singapore): "Subhanallah... Banyak hikmah saya dapatkan dari membaca buku BERJUANGLAH BUNDA TIDAK SENDIRI tentang berbakti kepada orang tua, keutamaan mengandung, melahirkan, menyusui, mendidik anak dll. Semoga jadi amal ibadah tersendiri bagi penulis-penulisnya... amiinn ^_^"

    ReplyDelete
  2. Testimoni pembaca, Muyassa Ida (istri dari penulis mega bestseller Habiburrahman El Shirazy): "Kadang ikut terutama geli kalau Ada yang lucu, Kadang juga ikut tegang pas Ada yang menegangkan. Salut bagi yang bisa mendeskripsikan dengan sangat baik rasa 'tidak karuan' saat mau melahirkan. Saat baca cerita mbak Iti (De Veha), saya ikut membayangkan juga bagaimana panik suaminya dan orang tuanya mbak Iti yang real tidak berlebaran di Indonesia. Pokoknya salut deh!"

    ReplyDelete